• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Islam Super Power

Islam Super Power

Tahun yang baru disambut begitu meriah di seluruh dunia. Indonesia juga merayakan hal yang sama. Merayakan momen tahun baru dengan bermaaf-maafan bagi sebagian orang, berlibur bagi sebagian orang serta melakukan Family Gathering bagi sebagian orang lainnya. Baik yang agamanya Islam, Kristen, Hindu, Budha ataupun agama lain yang diakui di Indonesia. Tapi di balik momen tahun baru tersebut, apakah sikap manusia Indonesia juga terbaharui?

            Tentu tidak, tahun yang baru ini, Penulis ingin mengajak semua pembaca untuk melakukan evaluasi diri terkait kesadaran akan apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Di mulai dari rasa persaudaraan, menerima perbedaan, tenggang rasa. Apakah masih kita temukan hari ini? Nilai tersebut sudah mulai pudar. Masyarakat Indonesia hanya fokus pada dirinya sendiri, kelompoknya  sendiri,  tidak perduli kepada kelompok lain yang lebih sedikit jumlahnya. Indonesia hari ini tidak sejalan dengan pendapat Internasional yang mengatakan “Indonesia negara dengan tingkat toleransi tinggi”. Namun faktanya, Indonesia sendiri minim kesadaran dan minim toleransi. Terutama masalah Agama. Beberapa kasus masalah agama di Indonesia meningkat tajam. Seperti contoh kasus A-Hok, Bom Gereja di Surabaya, Pembakaran Klenteng, Pembubaran KKR, Pembubaran Natal di Tangerang, Kasus Meiliana di Medan, Penyegelan Gereja di Jambi dan Pelarangan Ibadah Natal di beberapa Gereja di Sumatera Barat.

            Penulis mengatakan sebuah opini bahwa hal tersebut adalah Islam Super Power. Islam Super Power adalah Sebuah kelompok masyarakat beragama islam yang secara psikologis merasa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan hukum dan/atau kebijakan publik. Kalimat yang diciptakan oleh penulis ini untuk menunjukkan wajah Indonesia yang dikatakan toleran pada kenyataannya tidak, karena masih banyak ketidakadilan terkait agama, suku dan ras. Gerakan- gerakan Islam Super Power itu terjadi dikarenakan kelompok tersebut merasa memiliki dominasi kuat atas suatu kebijakan/keputusan hukum. Sedangkan Kata “Dominasi Kelompok” bertentangan dengan nilai toleransi. Menurut W.J.S Purwadarminta, Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta memperbolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, maupun hal lainnya yang berbeda dengan pendiriannya sendiri. Pendapat W.J.S Purwadarminta ini bertentangan dengan fakta lapangan yang terjadi di Indonesia. Itulah yang penulis katakan sebagai oknum Islam Super Power.

Islam Super Power adalah Keyakinan memiliki kewenangan/kekuatan orang yang beragama Islam untuk mempengaruhi suatu keputusan baik keputusan publik ataupun keputusan hukum alasannya yaitu jumlah mayoritas (massa). Selain itu psikologis masyarakat terbentuk akibat keputusan hukum yang menguntungkan secara subjektif pihak mayoritas. Menurut penulis, Islam Super power ini muncul pasca Keputusan Pengadilan Nomor: 1537/Pid.B/2016/PN JKT.UTR Tahun 2017 (Kasus A-Hok). Dengan keputusan yang menguntungkan pihak penggugat karena tekanan massa, kelompok Islam Super Power merasa memiliki wewenang lebih atas keputusan hukum, bahkan memiliki hak yang lebih dari pada kelompok yang berbeda dengan mereka. Selain Kasus A-hok, kasus lainnya adalah kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Ibu Meiliana dengan putusan PT Nomor :784/Pid/2018/PT MDN. Keputusan tersebut adalah beberapa kasus hukum yang berdampak pada psikologis massa. Kasus lainnya antara lain adalah penutupan tempat ibadah di beberapa tempat, pelarangan penggunaan atribut natal, pelarangan pengucapan selamat hari natal. Kasus terbaru juga menjadi tontonan publik, dimana salah satu Ustad di Indonesia yang bernama Ust. AS melakukan ujaran kebencian terhadap agama Kristen dan tidak diproses secara hukum, namun A-Hok yang sudah meminta maaf tetap di proses sesuai dengan aturan hukum. Hal lain yang menyinggung masalah ras/suku yaitu kasus rasialisme yang dilakukan kelompok massa di asrama papua, jalan kalasan Surabaya pada 16 agustus 2019 lalu. Ujaran rasial tersebut berdampak luas hingga menjadi isu internasional.

            Kasus tersebut membangun pemikiran masyarakat, bahwa siapapun yang salah tetap menjadi pemenang apabila berasal dari kelompok mayoritas.  Tidak lupa juga bahwa Islam Super Power ini akan semakin berkembang setelah dihembuskannya isu agama dalam pemilihan presiden April lalu. Kelompok tersebut akan merasa menang dua kali. Disatu sisi, Calon Wakil Presiden Nomor urut 1, Maaruf Amin, kini telah menjadi Wakil Presiden yang sempat menjabat sebagai Ketua MUI. Dia pernah mengeluarkan fatwa terkait haram mengucapkan natal. Di sisi yang kedua, Presiden dan Wakil Presiden pemenang kontestasi pemilu sangat bersinggungan dekat dengan Isu Agama. Dengan kedua sisi ini, maka secara Psikologis, Islam Super Power akan semakin diuntungkan, dan bisa berdampak pada perpecahan Indonesia karena terbelahnya kelompok agama Islam di Indonesia.

(/SHS)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun