• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Kamar Mandi Sahabat

Kamar Mandi Sahabat

Oleh : Sigit Allobunga’

Saat itu, pagi baru saja menetas. Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di bagian timur desaku yang hijau. Burung-burung berkicau. Orang-orang penduduk desa mulai beraktivitas. Sama seperti saya, akan bersiap ke sekolah.

“Tante, Tandi sudah bangun?” Terdengar suara Frans, tetangga sekaligus teman sekelasku di sekolah bertanya kepada Ibu.

Frans adalah temanku yang sedikit hitam, tapi manis. Sangat lincah bergerak, karena tubuhnya yang kecil. Dia punya rambut seperti Bapaknya, keribo sampai bagian pelipis.  Frans berangkat dari rumahnya yang tidak jauh dari rumahku. Hanya 30 meter saja.

​”Belum nak. Kau cepat sekali datang. Mari masuk dulu, minum air!” Jawab Ibu kepada Frans sambil berteriak.

Saya tahu, bahwa Ibu sengaja mengatakan itu. Biar Frans tidak berpikir panjang, bergabung bersama kami menikmati kopi pagi itu. Dan benar, Frans masuk dalam rumah tanpa berpikir panjang. Ia masuk ​setelah meletakkan gayung yang berisi sabun mandi, di lumbung padi samping rumah.

“Pukk” bunyi suara, saat gayung diletakkannya.

Frans kelihatan gagah pagi itu, dengan lilitan handuk di leher. Mirip seperti suporter sepak bola dengan syal selendang kebanggaan timnya. Begitu masuk…

“Ooo.. sudah bangun ternyata” kata Frans yang kaget ketika melihatku duduk di depan Ibu. Frans merasa telah dibohongi. Dia kemudian menoleh ke Ibu, lalu tersenyum.

​”Haha.. Iru’mi dolo, tae’pa bayang allo!” [1](Silakan diminum dulu, matahari belum begitu terik!) kata ibu yang ikut tersenyum.

Di hadapan kami tersedia kopi, dengan aroma harum yang memikat. Dengan sedikit kue sajian, yang siap disatukan dengan tubuh. ​​Kami kemudian menikmati kehangatan kopi dan kue, dengan senang hati. ​Sembari membicarakan padang rumput mana lagi yang akan kami babat, untuk makanan kerbau sepulang sekolah nanti?

​“Bagaimana kalau dekat sawah Pak Nining?” Tanya Frans kepadaku, sambil memegang kue rengginang.

“Jangan! itu terlalu jauh. Bagaimana kalau di sawah Pak Iwan? Rumputnya sudah panjang. Sepertinya belum dia babat dua bulan terakhir” jawabku kepada Frans.

Belum juga menemukan padang rumput mana yang pas, tiba-tiba dari balik pintu muncul sosok yang sedikit hitam. Kepalanya bulat, badan besar dan berisi. Dia adalah Robinson. Kami biasa memanggilnya, Robi. Dia juga tetanggaku sekaligus teman kelasku di sekolah. Rumahnya ada di antara rumah si Frans dan rumahku. Dan di depan rumah Pak Petrus, Guruku.

​”Selamat pagi!” Sapa Robi sang kepala besar itu. Dia menyapa begitu lembut. Berbeda dari hari sebelumnya.

​​”Pasti ada maksud lain di balik itu” Pikirku dalam hati.

Dan benar, matanya dengan alis yang sedikit naik, telah tertuju pada kue rengginang hasil olahan Ibu, di depan Frans. Rengginang yang diolah dari nasi sisa pesta pernikahan Adel dan Bawan itu, telah memerdekakan harinya.

​Ibu yang melihat ekspresi wajah si Robi,  menoleh ke saya, lalu tersenyum. Rupanya Ibu begitu senang. Kue buatannya menarik di mata temanku, Frans dan Robi.

​ “Santai Robi, makan dulu !” kata Frans, sambil menyodorkan kue itu kepadanya.

Tak pikir panjang, Robi kemudian mengambilnya dengan begitu cepat. Tangannya secepat kilat. Cepat sekali. Begitu dapat rengginang yang dia inginkan, Robi baru meletakkan gayung tempat sabunnya itu. Lalu duduk di samping Frans. Kulihat gayung tempat sabunnya hampir penuh, tak mampu lagi menampung isinya. Penuh sekali. Tampak satu botol shampo besar di dalamnya. Merk sunslik penghitam rambut. Saya curiga, dia bawa lari shampo ibunya.

Pagi itu, ​enaknya rengginang dan nikmatnya kopi, telah menyatu dengan matahari sang pendaki jalur barat. Namun, tak bisa bertahan lama. Karena jarum jam tanda masuk kelas akan segera tiba.

“Ayo mandi dulu ! Gurumu, Pak Petrus sudah nyalakan motornya! sudah rapi” Kata Ibu menyuruh kami, sambil melototi Pak Petrus lewat jendela.

​Mendengar kata Ibu, saya dan Frans kemudian bergegas berdiri. Lalu menyusul ibu, memandang ke jendela. Ya Benar, Pak Petrus si guru galak, badan kecil, dan berkumis tipis itu, telah menuju sekolah. Pak petrus mengendarai motor bersama anaknya, si Maya yang cantik dan pintar itu. Dia merupakan adik kelasku di sekolah.

“Ayo ke kamar mandi ! Cepat!, cepat!, cepat!” Kata Frans sambil menepuk pundak Robi yang masih duduk manis, menikmati rengginang.

​​*

​Begitu kami tiba di depan sekolah, suasana pagi itu berubah. Kami yang tadinya bahagia usai melahap rengginang buatan Ibu, harus berhadapan dengan sangarnya muka Pak Petrus, Guruku.

​Tampak Pak Petrus bersandar di pintu kelas menunggu kami. Dengan tatapan matanya, bagikan mata elang. Wajah sangar, tanpa senyuman sedikitpun.

​​”Apa alasan kita, Tandi?” tanya Frans dengan sedikit ketakutan.

​”Bilang saja macet” Jawabku bergurau.

​”ehe.. Boleh. Macet terjebak lumpur di desa” kata Frans melengkapi gurauanku.

​”Ayo masuk saja, pak Petrus tidak akan marah itu. Lagian rumah kita tetangga dengan pak guru itu to?” Kataku mencoba meyakinkan Frans.

Memberanikan diri melangkah masuk. Tiba-tiba..

​”Brok brok brok brok” bunyi tepuk tangan pak Petrus. ​​

​​”Kenapa baru datang?” tanya pak Petrus, setelah tangannya kembali di dalam saku celananya.

​Tak mampu kami berkata-kata. Hingga membisu seribu bahasa. Tidak ada jawaban atas pertanyaan Pak Guru kumis tipis itu. Kami hanya bisa menunduk, takut seperti seorang pengecut. Menunduk, hingga kurasai mukaku begitu panas. Panas sekali. Merah bagaikan tomat.

​”Frans dan Tandi, kalian terlambat. Kalian tidak boleh masuk! bersihkan kantor dulu!” tegas Pak Petrus memberi kami hukuman.

​Robi si kepala besar bebas dari hukuman. Dia tidak terlambat. Sebab memilih mengendarai motor Revo hijau, kebanggaannya. Bukan karena hengkang dan sengaja meninggalkan kami. Tapi dia punya tanggung jawab yang mulia yang akan datang. Yakni, akan menjemput Ibunya di Pasar Lekke[2], seusai sekolah. Dia si gendut yang berbakti pada orang tua.

​*

​Ketika jarum jam telah menunjuk angka pulang sekolah, Galvianto seorang pria perkasa nan gagah di kelas, hadir melengkapi sejarah hari itu.  Dia menyulap rasa capek kami, yang telah seharian membersihkan kantor. Menjadi lebih baik, lega dan menyenangkan. Dengan gurauannya, yang kadang tidak masuk akal.

​Gurauannya terus berlanjut. Hingga di sepanjang jalan pulang. Sampai Robi dan teman kelasku yang lain, menikmatinya dengan terbahak-bahak. Kami berjalan kaki semakin jauh, menjauh dan terus menjauh . Tiba-tiba Robi mendapat sedikit malasah.

​”Robi, bukannya tadi pake motor ke sekolah?” tanya Ardi, salah satu teman kelasku yang menikmati gurauan Galvianto, di sepanjang jalan itu.

​”Iyo le’.. Ketto’na na!!”[3] Teriak Robi, sambil memukul kepala Galvianto yang tengah asik bergurau. Dia kemudian berbalik menyusuri jalannya kembali. Menjemput Revo hijau kebanggaannya..

​Terdengar  jelas, dia memaki  sebanyak 5 kali.

Keterangan :

​1. Bahasa daerah Simbuang, bagian barat Tana Toraja

2. Pasar terbesar di daerah simbuang.

​​3. Bahasa makian daerah Simbuang

2 thoughts on “Kamar Mandi Sahabat

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: