• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Karya Menelan  Gelar Sarjana?

Karya Menelan Gelar Sarjana?

Pendidikan merupakan suatu tombak kesuksesan suatu Negara. Jadi tidak heran ketika negara-negara yang ada di dunia ini berlomba-lomba memperbaharui pendidikannya  ke arah yang lebih baik. Seperti Indonesia akan memperbaharuinya dengan mengubah sistem zonasi hingga hapus Ujian Nasional (UN). Terobosan itu diberi nama “Merdeka Belajar” oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Namun ditengah-tengah pembaharuan sistem pendidikan Indonesia, belum menjadi solusi untuk memberi kebebasan bagi para kaum terdidik.

Kaum terdidik saat ini belum bisa lepas dari namanya penindasan. Ada beberapa kategori penindasan yang dirasakan siswa dan mahasiswa sebagai kaum terdidik saat ini. Yang pertama adalah mahalnya biaya pendidikan dari waktu ke waktu namun tidak sesuai dengan timbal balik yang diberikan sekolah dan perguruan tinggi. Kemudian benih-benih kebodohan yang mengarah pada penindasan ditemui juga dalam mata ajar. Mata ajar untuk siswa diisi dengan pelajaran-pelajaran yang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kaum terdidik, sehingga kapasitas seorang siswa tidak ditemuinya.   

Setiap siswa memiliki pelajaran kesukaan, kemampuan, dan daya serap yang berbeda-beda. Ada yang suka matematika, ada yang suka seni, menulis, biologi, dan bahkan pelajaran lain. Sehingga dengan memaksa siswa untuk mempelajari semua pelajaran di luar kesukaannya adalah bukan solusi untuk mencerdaskan. Setiap orang punya passion yang berbeda, sehingga memberi kesempatan untuk memilih jalannya masing-masing sesuai passion adalah keharusan dan jauh lebih baik. Bukan hanya itu, sistem belajar-mengajar yang masih kental dengan cara hafalan, menjadi penindasan untuk kalangan kaum terdidik saat ini. Kenapa bisa? Karena dengan sistem mengajar hafalan sama halnya membatasi seorang siswa dan mahasiswa untuk mengespresikan hal yang disukai dan dipahami. Memaksa kaum terdidik menghafal dapat membunuh perlahan inovasinya karena merasa tertekan. Pemikirannya beralih fokus menghafal untuk ujian yang akan datang sebagai syarat nilai dan kelulusan, bukan mengembangkan inovasinya.

Sistem menghafal juga masih ditemui di dalam dunia kampus. Mahasiswa-mahasiswa juga tunduk pada sistem ini, sehingga istilah Agent Of Change hanyalah nama tanpa makna yang diletakkan pada atribut beberapa mahasiswa saat ini. Mahasiswa seharusnya dikasih kesempatan untuk berinovasi sesuai dengan kamampuan dan possionnya, sehingga dengan temuannya dapat menjawab nama yang dikalungkan atasnya yaitu Agent Of Change (Pembawa perubahan). Mahasiswa bukan justru disibukkan dengan menghafal, dan mengerjakan tugas matakuliah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan jurusan, passion dan dunia masa depannya.

Mengikuti sistem belajar-mengajar tersebut merupakan tindakan pembatasan terhadap kaum muda. Membatasi gerak kaum muda untuk berkarya. Sedangkan kaum muda adalah penggerak dan memiliki peran besar untuk negeri ini. Seperti kata seorang Jurnalis terkenal, Najwa Shihab “Indonesia tak tersusun dari batas peta, tetapi gerak dan peran besar kaum muda”. Artinya bahwa sumbangsih pemikiran seorang pemuda hari ini sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Sistem menghafal dikritisi Paulo Freire dalam bukunya berjudul Pendidikan Kaum Tertindas “Narasi, yang tunduk pada guru, mengarahkan siswa ke penghafalan mekanis dari konten yang diriwayatkan … narasi mengubahnya menjadi wadah yang harus diisi guru.” Artinya bahwa ketika sistem menghafal terus digunakan, maka otak siswa dan mahasiswa diibaratkan  seperti mesin yang dapat diisi sewaktu-waktu tanpa memberi kesempatan untuk berekspresi dan berinovasi sesuai kemampuannya. Sehingga kaum terdidik saat ini hanya diboboti dan dipersiapkan layaknya mesin siap kerja (Karyawan).

Karena dengan sistem pendidikan yang condong memaksa menghafal, banyak kaum pelajar tidak mampu dan akhirnya putus sekolah. Putus sekolah memang diakibatkan beberapa faktor, namun yang paling sering kita temui adalah mahalnya biaya pendidikan, dan tidak tertariknya kaum terdidik terhadap pelajaran yang disediakan, sehingga memilih keluar dan lanjut mengikuti pendidikan nonformal atau kursus keterampilan.  Data penelitian pusat studi kependudukan dan kebijakan  Universitas Gadjah Mada, menyebutkan bahwa  sebanyak 47,3 persen responden menjawab putus sekolah karena biaya, dan 9.4 persen karena ingin melanjutkan kursus keterampilan.

Paulo Freire pernah mengatakan bahwa “Anak-anak perlu memiliki hak untuk belajar memutuskan, yang hanya dilakukan dengan memutuskan” artinya bahwa dalam pendidikan, seorang pelajar atau siswa harus dihormati setiap keputusannya, dan berhak memilih pelajaran yang sesuai dengan keterampilannya bukan dipaksa mempelajari semua pelajaran yang tidak disukainya.“Pendidikan adalah kebebasan” Paulo Freire

Dari persoalan pendidikan Indonesia  tersebut, tidak ada langkah kongkrit untuk memperbaharuinya selama ini.  Di awal pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin lewat terobosan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim semoga membawa perubahan untuk Pendidikan Indonesia yang berdiam ini. Mendikbud yang baru ini memulainya dengan sangat optimis dan mencoba mengubah dengan memberi kebebasan kaum muda untuk berkarya. Terbukti dari statement pada pidatonya yang mengatakan “Kita memasuki era ketika gelar bukan lagi jaminan kompetensi”. Dia mengatakan bahwa berkarya jauh lebih baik dari pada mengejar gelar.

(/SA))

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun