• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Keberpihakan Tambang

Keberpihakan Tambang

Tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana tanggapan seorang mantan karyawan tambang bernama EA terhadap sebuah perusahaan tambang tempat ia pernah bekerja. Alasan penulis menceritakan percakapan tersebut, karena penulis ingin mengabadikan percakapan beberapa saat lalu.  Saat itu secara kebetulan saya bertemu dengan mantan pacar, ee salah, mantan pekerja tambang. Kami bercerita panjang lebar, hingga saya boleh mengantongi informasi yang manarik pula darinya. Ketika ada informasi yang menarik, kenapa tidak untuk dituliskan? Seperti kata Nyai Ontosoroh dalam buku Bumi Manusia, “menulis adalah sebuah pekerjaan menuju abadi”     

Dia memulai ceritanya tentang dampak yang dirasakan oleh  masyarakat dan lingkungan sekitar lokasi akibat aktifitas tambang. Dia mengatakan bahwa ada beberapa lahan yang dulunya hijau penuh pepohonan, kini rata dengan tanah. Selain lahan, masyarakat juga merasakan dampak akibat penambangan, lahan yang selama ini digarap masyarakat sebagai kebun, diambil alih perusahaan tertentu. Rumah mereka mengalami gangguan seperti retakan-retakan pada dinding rumah, lantai, halaman dan juga atap akibat aktifitas tambang.   

Ulasan di atas merupakan dampak yang dirasakan oleh masyarakat sekitar perusahaan tambang menurut EA. Lalu bagaimana dengan kesejahteraan buruh tambang di dalam perusahaan? Apakah ada keresahan-keresahan yang tidak tersuarakan?. Jawabannya, ya ada.

Keresehan itu muncul dari seorang mantan karyawan perusahaan tambang tadi yang bernama EA. EA mengatakan bahwa keresahan itu muncul sejak lama dari dalam dirinya. Keresahan itu sudah bermula sejak masih menjadi karyawan. Dia mengatakan bahwa menemukan ketidaksesuaian suasana lapangan pekerjaan dengan kondisi yang seharusnya.

“Awalnya, saya mengira karyawan diberlakukan sama, ternyata tidak” kata EA . Dari pernyataannya itu, saya selaku orang lawan bicaranya kaget sekaligus penasaran. Berawal dari rasa penasaran itu, membuat saya menggebu-gebu bertanya, hingga cerita panjang lebar mengenai kondisi buruh tambang di salah satu perusahaan tersebut berlanjut.  Dengan percakapan pertemuan itu saya tuliskan seperti berikut :

“Di pertambangan itu, ada karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya selama ini. Dia lulusan S1 pertambangan tapi dipekerjakan sebagai tukang pel dan sapu jalan (tukang bersih-bersih). Tidak seperti tukang sapu yang kau kenal, berbeda kondisi jalan yang disapu. Jalan yang disapu sangat berdebu, yang dapat membahayakan kesehatan”  lanjut EA bercerita. Cerita itu semakin menarik bagiku untuk diikuti alurnya.

“Bagaimana tanggapanmu sebagai orang yang pernah menjadi karyawan tambang, apakah kerja di perusahaan tambang itu menarik dan nyaman?” tanyaku

            “Masalah gaji, menarik.  Saya bisa katakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lumayan banyak. Tapi perlu kamu tahu, ketidakadilan juga saya jumpai dalam lingkungan perusahaan itu. Kesenjangan masih sangat terasa antara karyawan orang asli Indonesia dengan karyawan warga negara asing (China). Ketidakseimbangan itu saya lihat dari bagaimana cara pimpinan perusahaan memperlakukan karyawannya, salah satunya adalah soal makanan. Tidak bisa dipungkiri bahwa semua orang pastinya membutuhkan asupan gizi untuk ketahanan, kesehatan dan energi tubuh, apalagi seorang pekerja tambang seperti kami yang akan membutuhkan energi banyak di lapangan. Tapi tempat masak dan makanan berbeda. Jelas saya lihat dengan mata sendiri, dapur tempat memasak makanan untuk karyawan orang asli Indonesia itu sangat kotor. Kotor sekali. Sedangkan untuk dapur orang warga negara asing sangat bersih, bahkan dijadikan tempat tidurpun bisa. Makanan yang bergizi juga lengkap. Mereka diberlakukan seperti itu karena yang kuasai perusahaan adalah mereka. Kami karyawan orang asli pribumi menjadi tidak terhormat sama-sekali, padahal kami bekerja diatas tanah sendiri”     

Kulihat  dia dengan raut wajah yang sedih, penuh dendam, dan penuh kekecewaan saat berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.

“Pada sistem perekrutan karyawan dan atasan kami , aku melihat juga sangat buruk. Kenapa? Karena masih sangat kental sebuah cara seperti perusahaan-perusahaan lain, yaitu jurusan orang dalam atau kekuatan lobi dan pendekatan keluarga, ras maupun suku. Cara itu diberlakukan meskipun calon karyawan bukan dari latarbelakang pertambangan. Sehingga dalam proses penambangan, kadang hasil tidak  maksimal, karena yang menjadi pimpinan lapangan adalah orang yang bukan dari latarbelakang pertambangan. Dan kami sebagai karyawan, hanya bisa tunduk menunggu arahan. Kalau tidak, kami tidak digaji. Kemudian kesalahan di lapangan yang berujung pada kecelakaan, juga dipengaruhi oleh juru bicara (translator bahasa China ke bahasa Indonesia). Terjadi miskomunikasi, karena juru bicara menerjemahkan percakapan secara datar saja dan tahunya hanya bahasa sehari-hari, sehingga yang disampaikan pimpinan dalam bahasa teknik tidak tersampaikan. Kebanyakan juru bicara tidak tahu bahasa-bahasa teknik terkusus istilah-istilah dalam pertambangan. Ada penerjemah karena sekali lagi yang kuasai adalah asing” lanjut EA menjelaskan.

Dari cerita seorang mantan pekerja tambang tersebut, ada pernyataan awal yang menarik untuk kita lanjut bahas disini. Bunyinya seperti ini “Di pertambangan itu, ada karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya selama ini. Dia lulusan S1 pertambangan tapi dipekerjakan sebagai tukang pel dan sapu jalan (tukang bersih-bersih)” Menarik untuk dibahas, bukan? menarik. Pertanyaannya adalah kenapa orang dengan lulusan Sarjana (S1) diberi pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih? Bukankah dia telah belajar tentang pertambangan selama kurang-lebih 4 tahun dan siap untuk diimplementasikan di perusahaan tambang?

Ada dua kemungkinan, pekerjaan itu sengaja diberikan oleh pimpinannya di lapangan setelah adanya seleksi,  dan atau juga pekerja yang lulusan S1 sendiri yang meminta ditempatkan sebagai tukang bersih-bersih, karena sadar bahwa tidak memiliki skill yang cukup tentang dunia pertambangan. Pekerjaan tersebut sangatlah halal untuk dikerjakan. Namun sebagai lulusan sarjana (S1), bukankah itu sebagai tindakan untuk membatasi bahkan membunuh ilmu yang selama ini dipelajari di kampus? Mati karena tidak diimplementasikan. Sangat disayangkan ketika seorang lulusan S1 ditempatkan sebagai tukang sapu jalan. Ilmu  yang selama ini didapat di kampus tidak berguna, bukan?”.

(/S.A)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun