• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Kembalinya Zaman Jejak Langkah dan Penindasannya

Kembalinya Zaman Jejak Langkah dan Penindasannya

“Kita sedang menjadi anjing penguasa yang bersetubuh dengan pemodal. Dengan sukarela menjilati kaki majikan hanya untuk diberi makan dan tulang-tulang sisa makanan, bahkan menjadi halal menghinakan saudara sebangsa kita hanya untuk dikatakan militan. Hanya untuk memperoleh jabatan”. Apa bedanya kita dengan budak belian? Kata itu sejenak langsung masuk menjadi topik menarik untuk dibahas. Kembalinya “Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer” dalam kehidupan kita hari ini.

Ahh peduli amat keturunan siapa seseorang? Yang jadi ukuran tetap perbuatannya sebagai pribadi pada sesamanya. Itulah kalimat yang dituliskan dalam halaman 289 pada buku jejak langkah. Pemikiran seperti itu sudah muncul pada zaman Indonesia masih disebut sebagai Hindia Belanda, tetapi tidak berlaku bagi kita hari ini. Kalau zaman Hindia Belanda, yang menjadi pemimpin adalah orang-orang dari keturunan ningrat, sedangkan hari ini, pemimpin adalah anak angkat maupun anak kandung dari pimpinan partai. Tanpa diangkat oleh partai mustahil seseorang bisa jadi pemimpin di Negeri ini. Pemimpin negeri hari ini, harus menuruti kata-kata orang tuanya (pimpinan partai) dalam mengambil sebuah keputusan. Setelah keputusan dibuat, kemudian kekuasaan berada ditangan anak-anaknya, maka tinggallah kita masyarakat yang menjadi anjing peliharaan. Yang siap diadu untuk memenuhi hasrat sang majikan. Pecahlah perang saudara.

Pada buku Jejak Langkah diceritakan, para petinggi petinggi “Pribumi” yang dihadiahi jabatan sebagai bupati oleh Gubermen, harus rela melakukan apapun keinginan Gubermennya agar dihormati.  Budaya itu tidak hilang dari watak kita sebagai bangsa jajahan Belanda. Masih tetap sama, hanya berevolusi. Dulu pribumi yang berjabatan bupati rela untuk menjual anak perempuannya demi mempertahankan jabatan, sedangkan sekarang, rela mempertaruhkan rakyatnya demi harta kekayaan. Rela melakukan apapun agar dianggap masyur. Rela menjatuhkan martabat seseorang yang tidak bersalah, membiarkan penangkapan orang yang menyatakan kebenaran, hanya agar kebohongan tidak terungkap. Musuh bersama pada zaman jejak langkah adalah kekuasaan Belanda, tetapi sekarang zaman jejak langkah telah kembali, penjajahan tidak berubah kecuali orangnya. Penjajahan tetap terjadi, oleh orang orang berkuasa, sistem penjajahan dimutahirkan. Mental mental penjajah masih hidup dalam diri bangsa kita yaitu mental menindas, mental priyayi yang beku, rakus, gila hormat dan korup. Mental priyayi yang kita temui pada terpelajar Hindia dulu (sekarang Indonesia) tetap sama. Contohnya, Ketika seseorang diantara terpelajar itu sudah mendapat jabatan di Pemerintahan atau Perusahaan, tetap muncul sifat priyayi tersebut. Rakus, gila jabatan, dan korup.

Terjadilah keinginan penjajah dulu. Menjadikan jati diri bangsa kita menjadi jati diri yang korup dan gila pujian. Menjilat untuk dapat berkuasa. Menyalahkan saudara sebangsa agar masuk dalam lingkaran kekuasaan. Dibutakan, ditulikan oleh jabatan.

Pihak pihak yang dekat dengan kekuasaan mendukung kekuasaan tanpa sudut pandang objektif. Kebenaran menjadi mutlak milik penguasa karena ada orang-orang yang bermental priyayi. Kerajaan Belanda dulu berubah menjadi kerajaan Partai hari ini. Dan masyarakat tetap menjadi anjing penjilat yang siap sedia ditarungkan dalam arena kebodohan. Seperti propaganda yang dilakukan oleh Kerajaan Belanda, ingin mengirimkan tentara Mangkunegaraan untuk menyerang saudaranya sendiri di kerajaan Klungkung, Bali. Beruntung tentara Mangkunegaraan tidak berangkat dan perang saudara dihindarkan. Akan tetapi, kali ini kita melihat sesama bangsa kita yang sudah disatukan dengan rasa persaudaraan kembali dicabik-cabik dengan cara yang sama. Bukan oleh kerajaan Belanda lagi, malah oleh orang Indonesia yang berkuasa. Menjadikan Indonesia pertarungan Pancasilais dan Non Pancasilais.

Dengan ini ramalan bung Karno menjadi benar, tugasnya lebih mudah karena mengusir penjajah, sedangkan tugas kita sebagai bangsa lebih susah karena melawan bangsa sendiri. 

(/S.H.S)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun