• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Keperawanan Di Mata Bangsaku

Keperawanan Di Mata Bangsaku

Oleh : (/E.V)

Keresahan mengantarkanku pada opini ini yang singkat mengenai istilah perawan. Dalam kehidupan sebagai seorang perempuan yang lahir dalam lingkaran adat istiadat yang kental,  maka diwajibkan secara lisan dan tindakan untuk mempercayai amanah tentang nilai dan prinsip dalam masyarakat.

Perempuan dan kehidupannya, sepintas sangat elok dilihat. Menjadi seorang gadis dan ibu, melahirkan, menyusui, mengurus rumah dan keluarga, mendidik anak-anak sampai pada mengurus sebuah bangsa. Banyak perempuan yang mengidamkan hal itu apalagi mencapai kehidupannya cukup baik. Dalam hal ini, tidak ada yang salah karena menjadi perempuan seperti apa pada masa depan adalah pilihan dan sebagai kesepakatan.

Perempuan dan laki-laki pada dasarnya adalah setara. Kesetaraan gender bertujuan agar tidak ada kesenjangan hak dan peran baik untuk laki-laki dan perempuan. Karena ketika kesenjangan itu terjadi maka akan ada perubahan besar. Hal ini juga telah berevolusi dalam waktu yang cukup lama dan tidak dapat ditentukan arahnya.

Perempuan sering disinggung tentang keperawanan. Tentunya hal ini diyakini sangat sakral, karena dikaitkan dengan nilai dan harga diri seorang perempuan. Diambil dari laman Palo Alto Medical Foundation bahwa keperawanan atau virginitas berasal dari kata Yunani dan Latin “Virgo” yang berarti gadis. Konteks keperawanan selalu dikaitkan dengan keutuhan selaput darah (Hymen). Perawan sebagai individu yang belum pernah melakukan hubungan seksual.

Sering terdengar dalam perbincangan secara umum, bahwa perempuan yang perawan adalah perempuan yang memiliki harga diri dan sebagai bentuk perempuan mampu menjaga diri. Artinya bahwa ketika seorang perempuan yang tidak perawan maka harga dirinya telah hilang dimata masyarakat.  Seorang perempuan yang tidak layak menjadi pendamping hidup untuk seorang laki-laki. Tentunya dalam hidup bermasyarakat, sebagian besar laki-laki akan memilih pasangan yang masih perawan. Mereka akan ada rasa menyesal dalam hidupnya ketika pasangan mereka tidak perawan lagi. Pemikiran dan perasaan menyesal itu lahir karena doktrin yang dibangun sangatlah kuat, hingga menjamur pada pemikiran laki-laki hingga saat ini. Perawan dan perempuan seakan menjadi satu kesatuan kebenaran mutlak. Bukankah ini berlebihan ?

Konstruksi sosial masyarakat terus menciptakan kesenjangan bagi perempuan. Istilah keperawanan dibentuk dan menjadi sebuah tindakan penindasan terhadap perempuan secara tidak langsung, di luar sadar kebanyakan perempuan. Perawan bukan hanya disebabkan  karena telah melakukan hubungan fisik seksual atau dikenal dengan kondisi saat penis menembus vagina yang dilakukan saat berpacaran, mengalami pemerkosaan atau keadaan lain. Tanda keperawanan yang notabenenya dipercayai masyarakat umum adalah ditandai dengan munculnya darah ketika berhubungan secara fisik.

Hal ini menjadi semakin rumit bagi perempuan ketika ingin melakukan kegiatan yang dinilai berat. Karena selaput tipis yang dianggap suatu hal yang sakral, bisa saja mengalami kerusakan secara alami. Selaput tipis (hymen) yang pecah disebabkan juga karena aktivitas yang berlebihan, bersepeda, atau pernah melakukan operasi. Namun berdasarkan ilmu medis, selaput darah setiap perempuan berbeda-beda, sehingga akan menjadi keliru ketika mengeneralkan pemahaman istilah keperawanan kepada perempuan dengan doktrin dan konstruksi masyarakat seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Selama jutaan tahun, evolusi laki-laki dan perempuan selalu menjadi pasangan yang dalam biologisnya selalu mengembangkan kelestarian dan reproduksi yang berbeda-beda. Saat laki-laki saling bersaing memperebutkan kesempatan untuk menghamili perempuan, kesempatan reproduksi  akan ada ketika laki-laki mengalahkan laki-laki lainnya yang mencoba mendekati perempuan yang didambakannya. Artinya bahwa ketika adanya penempatan makna keperawanan, maka lagi-lagi perempuan mengalami kekerasan secara non fisik dan simbolik.

Aturan itu lagi-lagi menjerat dan membungkam kaum perempuan. Seakan setiap inci tubuh perempuan perlu diperdebatkan oleh masyarakat dan bangsa. Perempuan tidak bisa berkuasa atas dirinya sendiri. Walau secara umum perempuan dan laki-laki telah setara dalam setiap akses baik hak politik, hak berpendapat, hak berkarir sampai hak memimpin. Sebagai perempuan yang hidup dalam lingkungan yang selalu mencari keadilan terhadap perempuan, tentunya membawa keresahan tersendiri. Hal ini dinilai sangat menganggu ruang gerak seorang perempuan. Walaupun aturan telah banyak dihadirkan, namun tidak menjamin pengerdilan pemikiran terhadap perempuan itu musnah.

Lalu apa hubungan keperawanan seorang perempuan dengan harga diri? Keperawanan tidak ada hubungannya dengan harga diri. Artinya bahwa ditengah-tengah kejayaan dan pengakuan pada perempuan, setiap perempuan harus membuktikan diri, bukan mengejar seberapa banyak perempuan yang berjaya tetapi seberapa berkualitasnya seorang perempua. Istilah keperawanan seakan diciptakan untuk membatasi perempuan. Oleh karena itu, penulis ingin mengajak perempuan  bahwa jadilah perempuan yang mencapai keinginan tanpa sekat, keraguan dan ketakutan. Setiap sejarah akan terlukis ketika perempuan sendiri bisa mengenal dan menghargai kalangannya dan menerobos doktrin yang mengekang.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun