• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
KISAH SEORANG GURU PEDALAMAN PAPUA

KISAH SEORANG GURU PEDALAMAN PAPUA

Menjadi seorang pengajar di pedalaman merupakan pengalaman yang luar biasa bahkan bisa dikatakan menyedihkan.

Luar biasa karena akan banyak bertemu hal yang baru seperti orang-orang yang berjuang bertahan hidup, meskipun kekurangan di segala aspek. Mulai dari aspek pembangunan, ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang jauh tertinggal dari daerah lain yang ada di Indonesia. Bisa juga dikatakan menyedihkan karena tidak sedikit berjumpa dengan tantangan dan halangan. Sebut saja salah satu tantangan terberat adalah rasa rindu. Rindu akan kampung halaman, keluarga, pasangan, dan lain sebagainya.

Menjalankan misi mencerdasakan anak bangsa di pelosok negeri ini juga menjadi kebanggaan tersendiri. Bangga bisa berkontribusi membangun bangsa dan negara lewat aspek pendidikan. Pendidikan adalah tombak kesuksesan dan kemajuan suatu negara beserta manusianya bahkan bisa jadi senjata mengubah dunia. Seperti kata Najwa Shihab “Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan.” Dan kata sang revolusioner asal Afrika, Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”

Tentang sistem pendidikan kita yang masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia, penulis tidak akan menjelaskan di sini karena sudah sempat dijelaskan sebelumnya di tulisan dengan judul “Karya Menelan Gelar Sarjana”. Teman-teman bisa baca dengan kembali mengunjungi tulisan lama di website ini. Tulisan kali ini masih seputar dunia pendidikan, yakni suka-duka menjadi guru di pedalaman.

​Diangkat dari kisah seorang pengajar di pedalaman Kebar, Papua Barat. Sebut saja nama inisialnya, GDA. Dia sudah mengabdikan diri sebagai guru Sekolah Dasar (SD) di pedalaman Papua sekitar 2 tahun lamanya bersama rekannya JTB. Diutus oleh Majelis Pendidikan Kristen (MPK) setelah menjalankan pelatihan mengajar bersama beberapa rekannya yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Indonesia (MPK) itu sendiri di Malang, Jawa Timur.

​Mengabdi selama kurang lebih 2 tahun bukanlah waktu yang lama jika dibandingkan dengan para tokoh- tokoh pejuang pendidikan lainnya, yang mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya. Seperti sang revolusioner pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara,  Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika sang perintis pendidikan kaum Wanita, dan pejuang pendidikan lainnya di era millenial saat ini. Selama pengabdian yang dijalaninya di pedalaman, rasa aman dan juga problem mendekatinya.

​Dalam wawancara dengan GDA, dia mengatakan bahwa suka dan duka yang menghiasi perjalanannya tidak bisa dikatakan sebanding, tapi sukacitalah yang banyak mengiringi perjuangannya “Dukanya pasti ada, tapi tidak seberapa dengan kebahagian yang diberikan Pace-Mace Papua kepada kami” katanya.

​Dia sangat bersyukur bisa ditempatkan di salah satu pedalaman Papua, karena selain menikmati budaya yang masih sangat kental dan alam yang begitu indah, juga berbaur dengan masyarakat yang baik hati. “Budaya dan kebiasaan orang disini masih mereka pertahankan, dan masyarakatnya baik sekali” lanjutnya.

​Sukacita itu juga bersumber dari orang yang dihadapinya setiap harinya, yaitu anak didiknya.

​Saat malam tiba, anak didiknya datang bertamu di rumahnya seperti seorang tamu kehormatan. Mereka tidak meminta sesuatu selain diajari ulang apa yang telah didapatkannya di ruang sekolah. Kebiasaan dan semangat anak didiknya itulah yang membuat guru GDA dan rekannya JTB, menjadi senang dan termotivasi untuk melanjutkan perjuanganya. Karena menurutnya, semangat anak didiknya yang telah tumbuh sejak usia dini, akan menghatarkannya ke masa depan yang cerah.

​​Permintaan anak didiknya mereka genapi, sehingga proses belajar mengajar tambahan itu berlangsung setiap 2 hari sekali. Dalam seminggu anak didiknya bisa belajar tambahan di rumahnya hingga 4 kali. Semangatnya luar biasa. “Mereka semangat sekali belajar. Saking semangatnya, mereka datang ke rumah belajar kalau malam. Biasanya 4 kali dalam seminggu saya dan JTB ajarin . Mereka datang kadang ganti-gantian. Pasti ada yang datang kalau saya lagi di rumah dan tidak ada halangan” lanjut GDA bercerita.

​Proses belajar mengajar di rumah itu berlangsung 2 hingga 3 jam. Setelah selesai belajar, tidak jarang juga mereka tinggal mengistirahatkan badan yang letih di rumah gurunya itu hingga pagi. Mereka letih bekerja seharian membantu orang tua, bermain dan belajar. Pagi-pagi benar mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing mempersiapkan segala sesuatunya, untuk kebutuhan belajar yang akan datang.

​Karena keterbukaan seorang GDA dan rekannya JTB menerima mereka untuk belajar malam di rumah, anak didik yang ceria dengan penuh semangat itu tak luput juga membawa hasil alam sebagai ucapan terimakasihnya “Mereka kalau datang kadang bawa sayur, daging, dan buah-buahan” kata GDA.

​Sekian lama mereka bersama berjuang mengarungi jembatan atas nama pendidikan, ada cerita menarik lain yang terjadi.  Saya ceritakan kurang lebih seperti berikut :

​Seperti biasa di malam hari, salah seorang anak didiknya datang untuk belajar, namun malam itu dia membawa berkat yang siap untuk dimasak. Tikus hutan. Hewan itu sebesar induk Kucing. Besar sekali.

​    “Ibu guru, tau makan barang ini ka tidak?” kata anak didiknya sambil menunjukan hewan itu.

​    “Ambil kucing besar itu di mana?” kata GDA keheranan.

  “Aduh Ibu Guru, ini bukan Kucing. Tikus” kata anak didik itu menjelaskan.

​    “Saya tidak makan Tikus” kata GDA

​   “Ibu guru tidak makan barang ini? macam kampungan sampe” kata anak didik itu dengan sedikit kecewa.

​Karena tidak mau membuat hati anak didiknya sakit karena kecewa, guru GDA langsung menerima itu dengan senang hati “Terimakasih ee !, kalian mulai belajar saja dulu nanti Ibu Guru ajar abis masak barang ini”.

​Setelah beberapa saat, berkat itu dihidangkan dan siap untuk disatukan dengan tubuh jasmani mereka. Mereka awali dengan doa, dan melahap dengan senang hati.

Namun di balik kebahagian yang dia rasakan, juga ada tantangan yang menghiasi. Tantangan mengajar. Tantangan itu terletak pada kurangnya alat bantu sebagai sumber dan bahan ajar. Maksudnya, mengajar di pedalaman sangat terbatas akan alat bantu yang dapat menunjang proses belajar mengajar, sehingga seorang guru dituntut bekerja keras mencerdaskan dengan segala kekurangannya.

​Tantangan yang lain yaitu pada perasaan. Bukan perasaan sakit hati karena ditolak gebetan ya, hehe. tapi rasa Rindu. Ya, sebagai seorang perantau yang jauh dari kerabat, keluarga, pasangan, dan teman, rindu adalah tantangan terberat. Seperti kata Dilan bahwa ” Rindu itu berat”. Perantau seperti seorang guru GDA, mengakuinya.

​Dari tulisan ini penulis ingin menyampaikan bahwa mereka di pelosok hanya kalah pada fasilitas bukan kapasitas. Dan kalimat yang mencerminkan GDA dan guru yang lain tidak salah adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Satu lagi, bersyukur akan segala sesuatu yang kita terima adalah salah satu kunci kebahagiaan.

Penulis : (/S.A)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun