• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Cara Bersahabat Dengan Masalah

Cara Bersahabat Dengan Masalah

Semua orang tidak akan bersih dari namanya masalah selama hidupnya. Mulai dari masalah percintaan, keluarga, ekonomi, pekerjaan atau masalah pribadi lainnya. Kadang masalah yang datang menjumpai itu tidak bisa kita selesaikan, meskipun berbagai langkah dan strategi sudah kita lakukan.

Karena tidak bisa diselesaikan, sampai akhirnya mengeluh dan begitu cemas. Berbagai keluhan pun bergentayangan “kenapa tidak bisa saya selesaikan hingga semakin menjadi banyak pula? apa yang terjadi dengan hidupku? atau apakah ini adalah cobaan dari Tuhan?” Ya, semua masalah adalah datangnya dari Tuhan. Dia menguji sejauh mana kita bisa bertahan dan menjawabnya.

Masalah yang tidak bisa dituntaskan menjadi hantu yang akan datang menghantui pikiran kita kapan saja dan dimana saja. Menjadi hantu bukan karena kita tidak berusaha menyelesaikannya, melainkan karena kita terus  membuang-buang waktu untuk memikirkannya. Bukan pula solusi yang dipikirkan, melainkan kemalangan  dirinya yang terus dilanda masalah. Memikirkannya seakan-akan itu menjadi tantangan akhir yang akan menjerumuskannya ke dalam kematian. “sangat sial hidupku, mungkin Tuhan tak lagi punya belas kasih padaku” begitulah kira-kira kalimat yang keluar dari mulut orang yang memiliki masalah tak kunjung selesai. Hingga akhirnya ada yang menyalahkan Tuhan. 

Baca juga : Sudahkah Kita Menerima Diri?

Bisa tidaknya menyelesaikan suatu masalah tergantung bagaimana kita menanggapinya. Apakah kita menanggapi masalah adalah hal yang serius atau bukan. Maka tidak kaget ketika ada orang yang menganggap semua masalah adalah hal yang serius, dan ada juga yang menganggap semua masalah adalah hal yang biasa saja sehingga menanggapinya dengan santai.  

Dari kedua pilihan tersebut, kita harus berdiri sebagai orang yang menganggap masalah adalah hal yang biasa saja. Bukan berarti acuh tak acuh dengan masalah yang menimpah, melainkan nyaman saat menjadi berbeda. Artinya bahwa kita berani tampil seperti orang yang tidak ada masalah, atau menjalani hidup sebagai orang normal tanpa beban meskipun masalah tak lepas dari kehidupan. Semakin cemas karena masalah, tidak akan memperbaikinya. Justru kecemasan itu akan datang pula berlipat-lipat ganda.

Satu masalah tidak untuk dipikirkan, melainkan kita harus berani bersikap masa bodoh dan mulai memikirkan hal-hal lain di luar masalah. Berhenti terlalu memikirkannya. Bisa kita ganti dengan memikirkan hal-hal yang bersifat positif. Nasehat seperti ini tidak asing lagi kita dengar di kehidupan sehari-hari. Nasehat seperti itu biasa datangnya dari sahabat yang selalu peduli kehidupan kita. Narasinya kira-kira seperti ini “badanmu turun, usahakan jangan terlalu banyak mikir (masalah)”. Secara langsung, kita telah diperintahkan oleh sahabat untuk masa bodoh dengan masalah. Tujuannya bukan cuma menormalkan kembali badan seperti yang diinginkan oleh sahabat yang telah peduli tadi, melainkan bagaimana kita bisa mempergunakan waktu dengan baik. Seperti yang dikatakan Mark Manson dalam bukunya yang berjudul Seni Bersikap Bodoh Amat “menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna dan sembrono”   

Baca juga : Indonesia Dalam Film The Platform

Tidak ada yang lebih penting selain mengurangi kecemasan dalam diri dan mencoba memikirkan hal-hal yang bersifat positif. Dan masa bodoh merupakan tantangan bagi orang yang berani lepas dari kecemasan.

Beranilah tampil beda meskipun dijadikan candaan dan ditertawakan oleh orang lain akibat masalah Anda. Perlakuan itu akan menjadi motivasi untuk mulai bersikap bodoh amat. Ada pepatah mengatakan bahwa “kita kuat karena luka”

 “untuk bisa mengatakan bodoh amat pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan” Mark Manson

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun