• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
MASTURBASI BERPIKIR PEREMPUAN PADA KAUMNYA

MASTURBASI BERPIKIR PEREMPUAN PADA KAUMNYA

Penulis : (/E.V)

Makna perjuangan dari generasi dulu hingga memasuki generasi milenial, selalu diartikan sebagai suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh seseorang atau komunitas tertentu dengan output  mencapai sebuah tujuan. Dimana tujuan yang ditawarkan dianggap memberi jawaban atas setiap keresahan, keraguan, masalah dan masa depan yang dilihat semakin abstrak. Secara milenial perjuangan hari ini disimbolkan dengan kepalan tangan untuk kaum aktivis.

Perjuangan ini tidak terlepas dari genggaman kaum perempuan. Mereka tentunya tidak melewatkan kesempatan dari makna perjuangan itu. Dengan berbondong-bondong mengenggam visi dan misi mereka. Tergambar dari strategi dalam perjuangannya yang membawa amarah, niat, rayuan, pengorbanan dan ketekatan yang melebihi kekuatan baja. Dapat dilihat dalam rekam jejak bagaimana pergerakan perempuan dari bangsa Eropa hingga menjalar ke Indonesia, dalam memperjuangkan nilai-nilai perempuan. Perempuan dengan kepalan tangan mampu meruntuhkan sistem yang menindas, mengeksploitasi, membunuh, membungkam, memperkosa dan termarginalkan.

Perjuangan yang dilakukan dengan pertumpahan darah menggambarkan totalitas kaum perempuan dalam pergerakannya. Hari ini, perempuan dan kaumnya cukup dapat menikmati kebebasan dalam mencapai apa yang diinginkan dan diekspresikan. Dalam segala bidang baik politik, ekonomi, media, wirausaha dan sosial budaya, perempuan cukup terlihat eksistensinya. Artinya bahwa perjuangan yang dilakukan oleh pejuang kaum perempuan terdahulu, atas dasar kesadaran, satu kesatuan, dan dukungan semua perempuan dalam memperjuangan suatu kondisi yang dilihat tidak adil. Kondisi yang memarginalkan dan mensubordinasi perempuan dari lingkungannya. Puas bukan ketika perjuangan pejuang perempuan terdahului membuahkan hasil ? Senang bukan ketika melihat semua perempuan waktu itu bersatu dalam memperjuangkan nilai perempuan tanpa menjatuhkan satu sama lain ?

Perempuan hari ini yang telah berdinamika secara bebas dan terus mengepak sayap perjuangannya, tentunya menjadi apresiasi yang patut diacungi jempol. Namun perlu dilihat catatan hari ini tentang betapa ngerinya kasus perempuan sebelum kepakan perjuangan terus jauh. Catatan dalam negara kita yang terus terkuak bagaimana meningkatnya kekerasan terhadap perempuan baik secara privat, komunitas dan publik (dapat dilihat dalam tulisan sebelumnya “apa maunya perempuan”). Terdapat juga pengeksploitasian tubuh perempuan secara besar-besaran, perdagangan perempuan, pemerkosaan, penghinaan terhadap perempuan, prostitusi, kesadaran perempuan yang masih untuk perempuan kelas atas dan perkawinan. Menjadi tugas perempuan masa kini untuk menuntaskan apa yang telah terjadi. Melihat beberapa kasus yang telah disebutkan di atas, tentu terlintas ketakutan bahwa betapa terancamnya kehidupan perempuan. Penulis sendiri memiliki kebimbanggan hingga muncul beberapa pertanyaan. Apakah pergerakan perempuan saat ini ditujukan untuk sebagian perempuan ataukah untuk semua perempuan? Apakah perempuan hari ini masih bersatu dalam memperjuangkan nilai perempuan tanpa menjatuhkan satu sama lain ?

Perempuan yang dinilai sebagai tonggak perubahan suatu bangsa adalah sebuah makna yang menegaskan bahwa perempuan mampu merubah apapun itu, sekalipun dalam lingkup besar (bangsa) ketika semua perempuan bersatu, saling membangun baik pola pikir dan tindakan serta saling berpegang teguh.

Namun perjuangan perempuan yang dilakukan hari ini, seakan tertuju pada segelintir perempuan saja. Perempuan yang mendapatkan pendidikan, mampu berinteraksi, memiliki keberanian secara fisik dan finansial, mandiri ataupun telah maju dalam mengikuti perkembangan dunia seakan menjadi sorotan perhatian. Sedangkan perempuan yang masih tergenggam dalam ranah domestik, agama dan budaya seakan dibiarkan terjebak dan tidak mendapatkan arahan, sehingga euforia akan setiap ketidakadilan dianggap kewajiban dan hal biasa. Pola pikir yang tidak pernah tersentuh dengan perubahan, menjadikan belenggu penindasan tidak akan berakhir sampai kapanpun. Ketika tidak ada pemerataan pola pikir antara perempuan, maka dampak yang terjadi akan terlihat dengan jelas pada perbedaan konsep berpikir perjuangaan perempuan hingga menimbulkan perdebatan dikalangan perempuan sendiri.

Perempuan yang hari ini bangga dalam kemewahan, seakan menutup mata terhadap ketidakadilan yang menimpa kaumnya. Mereka yang merasa merdeka dan sering berteriak dijalanan, media sosial, dan media massa yang outputnya hanya untuk diri sendiri yang berdalil dalam kebohongan demi kepentingan semua perempuan. Mencuri dalam rumah sendiri. Perempuan hari  ini bukanlah bhineka tunggal ika, mereka mengejar kepentingan masing-masing. Perjuangan perempuan telah diperkosa oleh perempuan sendiri. Lantas bagaimana masalah terhadap perempuan dapat terselesaikan kalau perempuan sendiri banyak yang menjadi bandit untuk kaumnya sendiri?

Perempuan tidak lagi mendukung satu sama lain. Perempuan justru saling menjatuhkan dan saling mengebiri. Contoh kasus yang penulis angkat dan anggap cukup viral dan diketahui oleh semua kalangan, seperti Venessa Angel dengan kasus prostitusi online, Nikita Mirzani dengan keseksian tindakannya, dan kasus Baiq Nurul yang dilecehkan oleh Kepala Sekolah. Berdasarkan pandangan masyarakat luas, tindakan Venessa dan Nikita dinilai tidak terpuji dan melanggar aturan baik secara budaya dan agama. Sebagai publik figur yang menjadi sorotan media, hal ini  bisa memberi dampak secara psikologi baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Dalam  kasus Venessa Angel, Nikita Mirzani, dan Baiq Nurul, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perempuan tidak mengalami masturbasi berpikir untuk sesama perempuan. Jika dilihat dari apa yang menimpah mereka sebagai seorang korban, secara psikologi membutuhkan dukungan moral dari sesama perempuan, bukan untuk dihina. Dan ketika aturan yang telah ada, dianggap sebagai wadah perempuan untuk mendapat perlindungan justru dengan mudah digembos. Sebagai sesama perempuan tentunya saling menguatkan, mengingatkan dan mendukung secara moral serta melihat secara kritis masalah tersebut. Agar tidak terjadi mastrurbasi berpikir pada perempuan. Karena bukankah hal ini secara tegas menunjukan perempuan menjadi korban kejahatan dan mengalami ketidakadilan? Namun apa yang terjadi, seakan dunia berputar 180 derajat. Sesama perempuan justru saling mengeksploitasi, saling mengebiri, saling caci maki, mengutuk  dan mencemooh baik secara langsung atau melalui media massa dan sosial. Perempuan melakukan penganiayan baik secara fisik ataupun simbolik terhadap perempuan lain.

Bukti kongkrit ini menunjukkan bahwa perempuan justru menindas dan menjatuhkan kaumnya sendiri. Perempuan saling menyerang satu sama lain. Perempuan saling menertawakan dan mendukung penghinaan terhadap kaumnya sendiri. Hari ini, perempuan sendiri tidak saling mendukung dan menganggap kaumnya yang mendapatkan masalah itu, pantas disingkirkan. Karena dianggap melanggar sistem, budaya dan omong kosong masyarakanya yang telah dilegalkan. Apakah ini yang dimaksud dengan perjuangan perempuan untuk kaum perempuan? Inikah hasil dari visi misi perempuan berjuang atas nama nilai seorang perempuan ?

Penulis menilai bahwa akar permasalahan hari ini, sesungguhnya adalah perempuan telah mengisolasi diri dan berfokus pada kesenangan pribadi. Tidak ada lagi istilah membantu secara tulus dan berjuang demi kepentingan bersama. Pola pemikiran perempuan yang tidak pernah diperkosa dengan segala informasi, keberanian, pembukaan diri, sosialisasi dan perubahan akan tidak berjalan ketika sesama perempuan tidak saling berbagi dan mendukung. Ketidakpedulian perempuan satu dengan yang lainnya akan menjadikan pergerakan perempuan tergerus dan menjadi bahan tertawaan. Jangan berteriak perempuan merdeka kalau masih takut untuk berubah dan masih menindas perempuan lain. Sesunguhnya saat ini perjuangan perempuan yang sebenarnya adalah perempuan harus berjuang melawan dan memperbaiki kaumnya sendiri ( secara berpikir dan bertindak).

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun