Opini

Media Hari Ini : Etika Vs Traffic

etika vs traffic

Media berita akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook dan Youtube karena beberapa narasi berita yang disampaikan membuat bingung dan geram pembacanya. Media berita tersebut mendapat ancaman bahwa semua yang diberitakan pihaknya kedepan tidak akan dipercayai oleh pembaca.

Seperti kata pemilik akun instagram atas nama Krunch_29 di kolom komentar salah satu postingan tentang media tersebut “fix tandai medianya jangan percaya semua berita dari media tersebut klo perlu report dan boikot”. Narasi kekecewaan juga dilayangkan pemilik akun atas nama Ezafath di postingan yang sama “lantas masih percaya media? Media yang punya mereka”.

Media tersebut dinilai telah menjadi alat untuk membela pihak penguasa, dan mereka yang punya kepentingan. Dipercayai bahwa media yang dimaksud telah mendapat bayaran untuk memenuhi hasrat dan keinginan seorang atau kelompok tertentu.

Baca juga : Kritik Sosial Terhadap Sistem Kapitalisme Dalam Film Snowpiercer

Ancaman kepercayaan terhadap media berita sebenarnya sudah lama terjadi yaitu tepatnya setiap memberitakan kejadian yang kurang akurat. Namun kekecewaan itu kembali muncul setelah pemberitaan tentang pemukulan kepada pemilik cafe di Gowa, Sulawesi Selatan oleh Satpol PP saat penegakan aturan PPKM.

Pemberitaan media tersebut dinilai membolak balikkan fakta yang terjadi. Seperti yang diberitakan Makassar_info di laman instagramnya, menyebut beberapa media berita yang membolak balikkan fakta adalah Okezone.com, Sindonews.com, news.azka.id, siapgrak.com, dan jatim.poskota.co.id.

Selain itu, media TV seperti MNC TV juga ikut membolak balikkan fakta dan membenarkan tindakan Satpol PP yang melakukan pemukulan kepada pemilik cafe tersebut.

Dalam narasi beritanya dinilai memojokkan pemilik cafe dan menganggap keributan yang terjadi berawal dari pemilik cafe yang mengamuk dan melempari petugas Satpol PP dengan pisau dapur karena tidak terima ditegur  saat melanggar aturan PPKM. Padahal sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di lapangan yang terakam CCTV, keributan terjadi bermula saat Satpol PP menampar seorang pemilik cafe.

Baca juga : VENTILATOR, HFNC, DAN PCR TIDAK ADA; DOKTER HEBER: PENANGANAN COVID-19 DI TANA TORAJA DAN TORAJA UTARA DI BAWAH STANDART!

Membolak balikkan fakta telah melanggar etika jurnalistik yang telah disusun sebagai pedoman operasional. Seperti kata Septiawan Santana dalam buku Jurnalisme Kontemporer (2017), kode etik jurnalistik berfungsi sebagai landasan etika dan moral yang harus dipatuhi semua wartawan supaya senantiasa melakukan tindakan tanggung jawab sosial.

Adapun kode etik jurnalistik yang dilanggar berdasarkan laman Dewan Pers Indonesia yaitu pasal 1 tentang sikap yang harus independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk. Kemudian pasal 4 tentang larangan membuat berita bohong, fitnah, dan sadis.

Pelanggaran tersebut jelas sangat mencoreng nama baik dunia jurnalistik yang telah lama menjadi jembatan masyarakat untuk mendapat sebuah informasi. Seakan media tersebut tidak serius dalam pemberitaan yang berbobot dan malah fokus mencari berita yang viral, trending dan dangkal. Hal itu terjadi karena persaingan media berita yang berlomba-lomba mengejar traffic.

Baca juga : SELAMATKAN POLITIK INDONESIA

Pencapaian traffic memang sangat menjanjikan terutama situs yang telah terhubung ke Andsense. Lalu apakah dengan keberhasilan mencapai fokus utama itu terus menerus dipandu berita yang dangkal? Tentu keinginan banyak orang adalah tidak. Karena berita seperti itu dapat merusak mental dan memperparah arah berpikir beberapa generasi muda bangsa Indonesia yang salah.

Penulis : Sigit Allobunga’

2 thoughts on “Media Hari Ini : Etika Vs Traffic”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun