Opini

Media Sosial Kembali Pada Tupoksinya?

Media sosial pada topuksinya

Perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19 sangat signifikan. Seperti melemahnya perekonomian masyarakat, perubahan cara belajar-mengajar dan masih banyak dampak besar lainnya.

Dampak besar bukan meluluh tentang menyengsarakan namun ada nilai baik yang begitu penting yang harus diterima. Seperti pemanfaatan media sosial yang kembali pada tupoksinya. Dalam hal ini Instagram, Facebook, dan Twitter.

Berbicara tentang media sosial tersebut, banyak hal yang dapat diketahui selama penggunaannya terutama karakter para penggunanya.

Dapat dinilai dari setiap komentar di kolom komentar di media sosial yang dimaksud. Banyak saling mencaci maki, saling menyalahkan, adu domba, menyebar ujaran kebencian, hingga menuliskan kata-kata yang tidak pantas.

Media Sosial Kembali Pada Tupoksinya

Setelah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mengurangi penyebaran virus corona, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kesepian order, minim pemasukan hingga terpaksa gulung tikar.

Dari sekian banyak yang terdampak, beberapa diantaranya telah memanen berkatnya. Mereka mendapatkan banyak sumbangan hingga berkali-kali lipat dari total kerugian akibat viralnya di media sosial.

Baca juga : Media Hari Ini : Etika Vs Traffic

Memviralkan sesuatu yang baik merupakan salah satu tujuan dari media sosial, namun sebagian dari penggunanya lambat menyadarinya.

Mereka baru menyadari karena adanya tekanan yang dasyat dalam suasana saat ini akibat pandemi. Sebab ide bukan cuma muncul saat dalam kamar mandi saja, melainkan juga saat dalam suasana yang mendesak.

Kejadian yang mendesak kerap kali kita menganggap bahwa ini adalah akhir dari segalanya, tidak ada cara lain selain pasrah. Tidak pernah mengatakan bahwa inilah saatnya untuk memaksimalkan kreativitas dan ide.

Banyak kreativitas yang bisa dikembangkan sembari menunggu suasana kembali kondusif. Salah satunya adalah memaksimalkan pemanfaatan media sosial untuk berjualan, memviralkan orang yang kesusahan hingga mendapat bantuan dari orang-orang baik, dan tindakan lainnya.

Kreativitas seseorang dalam menggunakan media sosial sebenarnya sudah ada sebelum pandemi, namun kreativitas itu lebih berkembang dengan adanya persoalan-persoalan baru yang menunggu untuk dipecahkan seperti saat ini. Daya letak derita wabah memacu kreativitas.

Baca juga : Indonesia Dalam Film The Platform

Kreativitas masyarakat media sosial tergantung siapa yang menyikapi bahwa media adalah salah satu solusi untuk keluar dari jeratan pandemi.

Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul Media Hari Ini : Etika Vs Traffic, sempat menyinggung tentang media berita yang fokus mengejar traffic tanpa memikirkan dampak yang dapat saja membahayakan. Contohnya, pemberitaan keganasan Covid secara terus menerus akan membahayakan mental para pembacanya.

Setidaknya media berita juga lebih fokus memberitakan bahwa ada solusi pengembangan kreativitas di masa pandemi.

Penulis : Sigit Allobunga

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun