• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Mendengar Suara Hati Di Tengah Pademi Covid-19   Menurut Etika Kristen

Mendengar Suara Hati Di Tengah Pademi Covid-19 Menurut Etika Kristen

Oleh : Marlen Bauronga

Cukup sulit mendefinisikan suara hati. Karena itu kita perlu melihat beberapa catatan secara etimologi mengenai suara hati. Istilah yang dipakai dalam  Bahasa Yunani Perjanjian Baru (PB) untuk suara hati ialah suneidesis. Dalam Bahasa Latin ialah conscientia yang kemudian menjadi asal kata suara hati dalam bahasa Inggris dan Prancis . suneidesis (conscientia) berarti; setahu, dengan diketahui oleh. Sama artinya dengan kata geewetan dalam bahasa Belanda dan “ gewissen” dalam bahasa Jerman. Kata ge dalam dua kata ini memiliki arti dengan. Dengan diketahui oleh: oleh siapa? oleh Allahkah? Oleh ibliskah? Oleh kita sendirikah?  Siapa yang menemukan suara hati ini,  tidak dijelaskan secara spesifik berdasarkan etimologi.

Adapun istilah-istilah lazim yang dapat dipakai dalam Bahasa Indonesia ialah bisikan hati, kata hati, rasa hati, suara batin. Sebuah istilah yang sangat khas ialah: hati kecil. Di dalam istilah-istilah itu seolah-olah dikatakan, bahwa di dalam manusia terdapat suatu instansi  yang lebih dalam, suatu “hati kecil” yang mengamat-amati dan mempertimbangkan kelakuan kita. Manusia memiliki senjata dalam hal ini memiliki akal sehat dan perasaan untuk menjadi pengamat setia dalam menjalakan kehidupan setiap harinya. Sehingga manusia mampu mengenal dirinya melalui suara hati itu sendiri. Dalam bertindak akal sehat dan perasaan menjadi pengontrol untuk memahami apa yang sementara dilakukan atau pun dikerjakan. Manusia pun turut dapat membatalkan suatu tindakan jika dirasa kurang sesuai dengan akal sehat dan perasaan.

Baca juga : Sebuah Kajian Perspektif Kristen Bagi Pemuda Untuk Menjadi Pendamai

Namun, perlu diperhatikan apa yang menjadi gejala dari suara hati itu sendiri. Suara hati ialah suatu desakan, yang terdapat dalam batin tiap-tiap manusia, untuk menimbang tindakannya . Ia menuduh kita. Ia menyatakan pendapatnya apabila dirasa salah dengan perbuatan kita. Bahkan, apabila kita berdaya upaya mematikan suara itu, makin nyaringlah suara itu. Tidak hanya berbisik-bisik saja, tetapi terkadang ia dapat merintih dan memanggil dan berteriak dalam hati kita. Suara hati benar ada dalam diri setiap manusia yang memiliki fungsi untuk mengontrol setiap tindakan manusia. Dengan begitu ketika manusia diperhadapkan dengan realitas yang membuat dirinya tidak berterima maka suara hati menjadi gelisah dan sebagainya. Dengan demikian suara hati tersebut tidak dapat dihilangkan dari dalam diri manusia. Semakin berusaha kita menghilangkannya semakin nyaring bunyinya. Semakin kita mengangap semua baik-baik dan tidak  ada masalah ketika diperhadapan dengan suatu realitas justru kegelisahan pun bisa saja semakin meningkat.

Salah satu filsuf Jerman yaitu Immanuel Kant memandang  suara hati sebagai Mahkamah Ilahi, yang formal tidak dapat bersalah dan manusia terikat sama sekali kepada keputusannya. Ucapan ini dapat kita dengar kembali dengan berbagai cara dan di dalam bentuk populer, misalnya bahwa suara hati itu suara Allah. Allah dalam keilahiannya menghadirkan suara hati dalam setiap manusia. Dengan begitu dapat tertlihat ketika sesuatu yang bukan berdasarkan kehendak Allah maka dengan sendirinya suara hati dapat dijadikan alarm yang memutuskan untuk tidak bertindak. Lalu, apakah suara hati mutlak suara Allah? Bukan, itu pun bukan. Tetapi suara hati itu takan ada, bila Allah tak ada. Dan suara hati itu tidak akan berbicara bila Allah tidak berfirman. Allah berfirman sebagai pencipta dan pembuat undang-undang kepada segala bangsa. Ia mengingatkan kita dijadikan menurut gambar-Nya. Bahwa kehendaknya seharusnya menjadi hukum (perintah) bagi kita.  Allah mengingatkan manusia sebagai wakil Allah yang menjalankan tugasnya berdasarkan perintah dari Allah. Melalui suara hati kita terhubung dengan Allah untuk menjalankan apa yang menjadi perintah Allah.

Baca juga : Tuhan dan Tulah

Dengan demikian baik masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang, Gereja-Gereja pada umumnya dan Etika Kristen pada khususnya memiliki kewajiban besar  untuk menyinarkan kembali terang hukum Allah dan Injil. Di dalam hal ini yaitu manusia merupakan gambar Allah yang sudah seharusnya menjalakan perintah-Nya melalui suara hati yang Allah anugerakan kepada manusia.  Ketika dalam menjalakan perintah Allah kita mengalami kegelisahan, maka kita perlu melihat kembali suara hati dan seberapa besar kita telah menjalin relasi bersama Allah. Salah seorang teolog Agustinus pun berkata “kita gelisah dalam hati kita sehingga kita menemukan ketenteraman di dalam Allah” demikianlah pun dapat di katakan : suara hati kita kegelisahan sehingga akhirnya takluk kepada pembuat hukum, hakim dan penolong tertinggi, yakni Allah Bapa Yesus Kristus.

Pada saat ini kita dapat berefleksi bahwa Indonesia masih terus dilanda pandemi  Covid19. Kegelisahan pun terjadi dalam setiap diri manusia. Kebijakan-kebijakan perintah maupun protokol kesehatan tidak lagi diperhitungkan untuk menertibkan diri kita. Kita pun berada pada puncak kegelisaan, pada puncak kejenuhan dan sebagainya namun  kita diingatkan kembali mendengarkan akan suara hati kita. Jika kebijakan perintah tidak lagi berpengaruh serta protokol kesehatan tidak lagi menertibkan kehidupan sosial kita, maka sudah saatnya pada puncak yang demikian kita kembali pada diri kita. Melihat kembali akan semua hal yang terjadi dalam hidup kita serta mengamati dan mendengar suara hati kita.  Dengan begitu kita akan  diarahkan untuk menemukan titik solusi berdasarkan dengan suara hati akan perintah Allah untuk bisa mengambil keputusan agar hidup jauh lebih tertib. 

Referensi
Buku Etika Kristen Bagian Umum.  Penulis Dr.J.Verkuyl.2015

Baca juga : Bukan Homo Homini Lupus Tapi Homo Homini Socio

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun