• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Mengejar Kebenaran Dalam Film The Last Duel

Mengejar Kebenaran Dalam Film The Last Duel

Prof. J.E. Sahetapy pernah berkata “Meskipun kebohongan itu lari secepat kilat, satu waktu kebenaran itu akan mengalahkannya,” sebuah pepatah yang sangat cocok untuk menggambarkan perjalanan film kisah nyata tentang kehidupan Prancis pada abad ke-14 yang satu ini.

Film yang menceritakan tentang pertarungan dua kesatria perang ini, merupakan pertarungan terakhir gladiator di Eropa dan menjadi pertarungan pertama di abad ke-14 setelah dihentikannya secara resmi pada abad ke-5. Gladiator merupakan sebutan bagi kesatria bersenjata yang bertarung menghibur para penonton. Mereka melawan sesama gladiator, hewan dan narapidana.

Baca juga : Kritik Sosial Terhadap Sistem Kapitalisme Dalam Film Snowpiercer

Film yang berkutat pada pertandingan antara kesatria bernama Jean de Carrouges dengan sahabatnya, Jacques Le Gris ini, juga mempertontonkan sebuah kisah dalam memperjuangkan keutuhan cinta dan keadilan.

Kisah bermula ketika prajurit bernama  Jacques Le Gris bertingkah semena-mena terhadap sahabatnya, Jean de Carrouges. Ingin merebut istri sahabatnya hingga memperkosanya. Bersikap powerfull bukan tanpa alasan, melainkan sebagai tangan kanan seorang raja. Dia menganggap bahwa segala kekuasaan itu adalah bagian dari dirinya.

Merasa dirugikan oleh sahabatnya sendiri, Jean de Carrouges lalu membawa masalah ini ke pengadilan, tapi malah mendapat hinaan dari publik yang mendengarnya. Berita tersebar begitu cepat hingga membuat keluarganya jadi perbincangan hangat di kerajaan Prancis.

Tidak tahan dengan hinaan publik terhadap keluarganya, akhirnya memilih jalan bertarung  untuk menyelesaikan masalah ini dengan sahabatnya sendiri. Permintaan bertarung sempat ditolak sebelum menjadi jalan keluar penyelesaian masalah oleh pengadilan, karena menurutnya menjadi gladiator tidak sesuai dengan ajaran agama Katolik yang dianut. Pada akhirnya pertarungan berlangsung dan Jacques Le Gris sahabatnya, mati di tangannya.

Baca juga : Indonesia Dalam Film The Platform

Sebuah kisah yang sempurna tentang perjuangan mempertahankan keutuhan cinta dan kaadilan atas dasar kebenaran. Kisah yang nyata dalam kehidupan saat ini, bahwa memperjuangkan dan berbicara tentang kebenaran seakan sulit karena alasan tertentu. Ditinjau dari aspek politik, tidak segan menutupi beberapa hal yang benar demi mulusnya kepercayaan publik. David Runciman, seorang ilmuwan politik Universitas Cambridge pernah berkata, “Perlu ditarik garis antara kemunafikan yang tidak terhindarkan dalam kehidupan politik, dan kemunafikan yang memang tidak bisa ditoleransi”. Begitu juga dari sudut pandang bisnis, demi mulusnya sebuah usaha, maka beberapa di antara mereka harus menutupi beberapa hal yang seharusnya terbuka dan penting untuk diketahui publik.

Dinamika pendidikan juga kerap melakukan kebohongan demi sebuah eksistensi lembaga pendidikan, hingga menimbulkan dampak yang serius. Dampak yang paling berbahaya adalah banyaknya generasi yang tumbuh dalam pemahaman dan kesadaran yang palsu, baik tentang hakikat dirinya maupun tentang kehidupan ini. Banyak anak didik yang jatuh tertelungkup dalam jurang kepalsuan karena kebohongan yang sistematis. Beberapa aspek yang lain juga seperti demikian dan telah menjadi rahasia umum.

Berbicara tentang kebenaran, perjalanannya memang tidak semulus kendaraan yang melintas di aspal yang baru. Akan ada waktu dimana berakhir sia-sia hingga tertelan dengan hal yang sebaliknya. Misalnya dalam media sosial, beberapa kebenaran telah tertumpuk oleh berita-berita bohong, hingga beberapa generasi kita telah menjadi konsumen langganan.

Baca juga : Media Hari Ini : Etika Vs Traffic

Semua orang bisa mengungkapkan kebenaran, namun tidak semua memiliki keberanian seperti seorang Jean De Carrouges dalam film The Last Duel ini. Sedangkan kebenaran akan hidup karena sebuah keberanian. Menegakkan kebenaran tidak selamanya harus mengikuti langkah strategi yang telah digunakan oleh Jean De Carrouges, tetapi harus dengan keberanian yang sama.

Keberanian yang tidak dipupuk dengan konsisten adalah sia-sia. Seperti dalam film ini, Jean de Carrouges tidak akan menemukan kebahagian lagi bersama istrinya jika berhenti memperjuangkannya begitu saja. Dia berhasil berlari mengejar kebohongan, karena sadar bahwa kebenaran tidak akan datang dengan cepat begitu saja.

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun