• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Menjajah di Negeri Sendiri

Menjajah di Negeri Sendiri

Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

“Sebelum opini-opini yang berteriak dalam pikiranku menghilang seperti kepulan asap kereta, aku pastikan harus mencatatnya dalam tajuk tulisan sederhana” SHS

Indonesia negara maritim dan kaya, itulah obrolan manis para penguasa yang kita sering dengar di surat kabar dan televisi. Namun adakah yang mampu mengelola itu selain bangsa sendiri?.

Mengacu pada luas lahan teritorial Indonesia yang 1,905 juta km². Hal tersebut sangat mungkin. Melihat iklim Indonesia yang juga tropis, bagus untuk pertanian. Berpatok pada luas laut Indonesia, maka sangat mungkin juga Indonesia sangat kaya akan hasil laut. Tidak hanya itu, tanah Indonesia juga sangat kaya akan mineral tambang mineral emas, batu bara, pasir besi, nikel, bauksit, dan batu kapur. Indonesia kaya, tetapi kebanyakan dari hasil itu hanya bisa di ekspor secara mentah, berbentuk material utuh, bukan dalam bentuk sudah siap pakai. Indonesia juga memiliki banyak sarjana sarjana yang bisa dikatakan mahir dalam pengelolaan kekayaan alam tersebut, tetapi mereka kandas sebagai pekerja swasta, tidak menjadi peneliti atau penemu. Tidak mengabdikan diri pada generasi setelahnya, namun pada perusahaan perusahaan kapitalis.

 Justru bukan dari kalangan sarjana yang berniat melakukan penelitian dan membuat penemuan. Walaupun demikian, seberapa kerasnya peneliti berjuang, akan kandas juga di lahap oleh perusahaan raksasa dan negaranya sendiri. Katakanlah seperti mobil esemka yang di rancang oleh Sukiyat guru di Sekolah Menegah Kejuruan Negeri 1, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah yang sudah di produksi secara besar-besaran dan di apresiasi pemerintah. Pemerintah sudah melakukan upaya yang sangat cerdas sampai saat ini. Hendaknya tidak berhenti sampai disana, tetapi masuk dalam persaingan pasar bebas.

Ada beberapa lagi penemuan – penemuan di Indonesia yang berakhir tidak tau rimbanya di negeri sendiri. Seperti contoh Muhammad Kusrin perakit Televisi yang di vonis pengadilan karena pelanggaran hak cipta, Dr. Khoirul Anwar yang penemuannya menjadi cikal bakal 4 G LTE, Warsito P Taruno penemu alat pengobatan kanker dengan energi rendah yang di apresiasi jepang, Randall Hartolaksono dengan bahan anti api/ anti panas singkongnya yang digunakan dalam produk mobil dunia,namun bukan berangkat dari Indonesia, Ricky Elson dengan mobil Sport Selonya, dan banyak penemu lainnya. Sayangnya negeri kita tidak tertarik dengan penemuan-penemuan dan lebih senang menggunakan produk luar. Entah itu karena pertarungan pasar bebas ataupun mafia kelas atas.

Permasalahannya, bahwa warga negara Indonesia dan negara Indonesia sendiri merupakan pasar empuk basah bagi negara seperti Amerika, Jepang, Korea, China, dan negara lainnya. Warga negara Indonesia sangat jarang mengapresiasi dan menggunakan produk lokal, dan lebih senang menggunakan produk dari luar negeri. Sehingga Indonesia menjadi sasaran konsumen negara negara adidaya tersebut. Indonesia tidak lebih sebagai penyedia lapak dan penyedia pembeli. Di bawah ini ulasan opini yang mungkin membuka pikiran.

Amerika dan Produk yang di konsumsi oleh Indonesia.

Amerika, negara paman sam adalah salah satu negara yang menguasai pasar Indonesia, kita bisa melihat data bahwa mulai dari produk makanan sampai teknologi dikuasainya di Indonesia. Kita ulas dari produk makanan dan gerai McDonalds yang berada di Indonesia. Per 21 maret 2019 sudah membuka 200 gerai.(Bisnis.com). Rata rata pengunjung di McDonalds adalah berkisar 1700 orang per hari di setiap gerainya. (Wikipedia). Selain produk makanan, mobil produk Amerika Chevrolet pada tahun 2019 mendistribusikan produknya di bawah 10.000 unit per tahun. (detikoto.com), pengguna Mobil Ford pada tahun 2018 bahkan mencapai 80.000 unit, namun pengguna aktif berkisar 70.000 unit.(Gaikindo.or.id) dan masih ada produk mobil lainnya yang bercokol di Indonesia.

Selain dalam pasar otomotif, Negeri paman sam tersebut juga meluncurkan serangan produk gawai di Indonesia, contohnya Apple, Microsoft dan Hewlett-Packward (HP), serta yang lainnya. Dalam catatan informasi terbaru pengguna produk Apple di seluruh dunia mencapai 900 juta i-phone yang masih aktif, dan apabila digabungkan dengan produk apple lain seperti Apple Watch, Ipad,iPod, dan Mac, maka mencapai 1,4 milyar pengguna. (autotekno.sindonews), dan 10,06 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna i-phone, belum lagi pengguna apple watch dan produk apple lainnya.(beritagar.id). Belum dihitung jumlah pengguna aplikasi buatan amerika seperti facebook, whatsapp, Instagram. Indonesia menduduki peringkat ke 4 terbanyak di dunia sekaligus pengguna facebook terbanyak di Asia Tenggara. Hingga januari 2018 pengguna Facebook mencapai 130 juta akun di Indonesia.(kompas.com). Berbeda dengan Facebook, data pengguna whatsapp di Indonesia tidak dikabarkan di media online secara terbuka, namun kita bisa prediksi bahwa pengguna whatsapp di Indonesia adalah orang-orang yang sudah mengenal gawai. Pengguna whatsapp di India saja mencapai 160 juta pengguna.(kompas.com). Beranjak pada aplikasi sosial media satunya yaitu Instagram. Sama halnya seperti facebook, pengguna Instagram di Indonesia menduduki peringkat ke-4 terbanyak, yang berjumlah 56 juta pengguna.

Kita bisa berpikir, berapa omset yang Amerika dapatkan dari produk-produk yang dipasarkan di Indonesia. Belum lagi produk lain seperti pakaian, tas, ban, dan produk lainnya yang tidak tertuliskan. Bagaimana Indonesia mampu menarik keuntungan dari Amerika.

Jepang dan Permainan Teknologinya.

Setelah berselancar dengan produk Amerika yang dipasarkan di Indonesia, kita akan melihat produk negeri sakura yang menduduki pasar Indonesia. Mulai dari Teknologi, Otomotif, dan produk lainnya.

Berangkat dari produk otomotif yaitu mobil yang dipasarkan oleh Jepang di Indonesia. Beberapa mobil Jepang, yang popular di konsumsi oleh Indonesia antara lain mobil produksi perusahaan Toyota, Honda, Suzuki, Mitshubisi, Nissan, Hino, Isuzu, Daihatsu, Mazda dan Merk lainnya. Berdasarkan data detikoto.com, mobil dengan merk Toyota menjual 371.332 unit di Indonesia, kemudian Honda menjual sebanyak 186.859 unit pertahun 2017. Pengguna produk Suzuki sendiri per tahun 2018 mencapai 118.014 unit. Itu beberapa produk mobil Jepang yang menguasai Indonesia dalam bidang otomotif.

Beranjak dari dunia produksi otomotif, mari coba telusuri beberapa gawai yang dipasarkan oleh negeri Sakura di Indonesia. Produk yang muncul antara lain yaitu Sharp, Sony Xperia, Panasonic dan lainnya. Gawai dengan berbagai tipe di luncurkan untuk di konsumsi oleh Indonesia. Gawai buatan buatan Jepang tidak terlalu diminati oleh konsumen teknologi Indonesia. Hanya ada sony yang paling terkenal, namun tidak ada data seberapa banyak pengguna di Indonesia. Berbeda dengan Amerika, justru produk terbanyak yang dijual oleh Jepang di Indonesia adalah Produk permainan (Game Konsole) seperti Play Station dan aplikasi permainan di gawai. Play Station sendiri mencapai 96,8 unit di seluruh dunia termasuk Indonesia, tetapi tidak terdata berapa jumlah di Indonesia.

 Kita bisa menilai, dengan beberapa data tersebut, Indonesia mengkonsumsi banyak produk yang dipasarkan oleh Jepang. Masih ada beberapa produk eletronik rumah tangga buatan Jepang yang gemar di konsumsi di Indonesia, seperti Toshiba, Sharp dan Panasonic dalam bentuk produk Televisi, Air-conditioner.

Korea Selatan dan Invasi Ekonomi di Pasar Indonesia

Indonesia memang negara basah untuk meraup keuntungan ekonomi global. Sebabnya Indonesia menjadi target pasar negara negara Asia dan Eropa. Bertolak kepada produk teknologi besutan Korea selatan, dalam hal ini gawai Samsung. Siapa yang tidak tahu dengan gawai Samsung buatan korea selatan. Pengguna gawai Samsung terhitung tahun 2018 masih menduduki peringkat pertama di Indonesia, sepanjang September masih menguasai 28 % pasar persaingan gawai di Indonesia atau mencapai 2,3 juta unit.(kompas.com).

Selain produk elektronik yang dikeluarkan Korea, Produk kecantikan juga dimasuki oleh korea tersebut. Contoh produknya adalah etude house, laneige, Tony Moly, Innisfree dan lain lain. Produk kecantikan ini sudah membuka gerai dimana mana. Indonesia masih tetap mengkonsumsi produk luar negeri. Selain itu Korea melakukan invasi terhadap Indonesia melalui music K-Pop, drama korea. Apa produk Indonesia yang menyasar korea sebagai pangsa pasarnya?

China dan Produknya juara Indonesia

Bukan hanya Amerika, Jepang dan Korea yang melancarkan Invasi ekonomi di Indonesia. Negara tetangga kita, china juga melakukan hal yang sama. Tidak jauh berbeda dari produk negara negara lain tawarkan.

China sendiri melesat menguasai pasar gawai di Indonesia. Merk Gawai China yang menjadi konsumsi Indonesia antara lain Xiaomi, Huawei, Oppo. Ketiga gawai tersebut mulai melihat potensi Indonesia sebagai negara kosumen, bukan produsen. Berdasarkan kulikan data yang terkumpul, xiaomi memasuki pangsa pasar tersebar kedua di Indonesia dengan mencapai 1,7 juta unit terjual pada tahun 2018. Kemudian produk gawai china yang lain laku di Indonesia sebanyak 1,5 juta unit, disusul gawai vivo dengan 600.000 unit yang diproduksi dan dijual di pasar Indonesia (kompas.com). Selain produk gawai, china juga sudah masuk ke pasar Indonesia dengan produk otomotif. Produk otomotif tersebut yaitu Wuling, chery, DSFK dan geely. Di antara mobil tersebut, yang saban tahun ini merajai adalah mobil wuling yang pada tahun 2018 menjual sebanyak 17.022 unit, kemudian DFSK menjual 1.222 unit.(detikoto).

Dari beberapa negara yang bersaing di pasar Indonesia, Indonesia sendiri tidak mampu mengeluarkan produk-produk yang mampu bersaing dengan produk luar sebagai tuan rumah. Indonesia tidak kekurangan orang cerdas yang mampu bersaing dengan penemu-penemu luar negeri. Namun, pertanyaannya kenapa semua produk anak bangsa seperti hasil karya  nama – nama diatas, yang membuat terobosan tidak pernah diperhatikan. Mudahnya produk negara asing masuk ke Indonesia, membuat Indonesia ketergantungan pada produk-produk tersebut. Dan lupa harus ikut bersaing.

Secara logis, sebenarnya kita bisa menarik benang biru dari permasalahan ini. Yang pertama, apabila Indonesia mengeluarkan produk gawai, teknologi yang mampu bersaing, maka perusahaan yang masuk di Indonesia, akan menuai kerugian ketika memasarkan barangnya di Indonesia, apabila secara massal digunakan olrh Warga Indonesia sendiri. Sebagai contoh, kita tarik dari kasus mobil esemka yang sudah di produksi Indonesia secara massal, apabila pemerintah mewajibkan warga Indonesia menggunakan produk tersebut, akan merusak pasar perusahaan mobil lain seperti Amerika, Jepang, Korea, dan China yang masuk di Indonesia, dan berujung kerugian, sementara disisi lain Indonesia bisa saja sudah membuat kontrak kerjasama dengan perusahaan/negara-negara tersebut diatas untuk tetap menerima produknya di pasar Indonesia. Dengan jumlah jutaan orang yang menggunakan mobil Jepang di Indonesia, tiba tiba beralih ke produk esemka, maka perusahaan jepang tidak akan hanya tinggal diam. Akan melakukan upaya lain seperti monopoli pasar, dan bisa sampai pada tahap nyawa sang penemu terancam, seperti kasus Stanley Mayer tahun 1975 yang di duga dibunuh, karena akan menyebabkan pabrik minyak bangkrut dengan penemuan bahan bakar airnya. Begitu juga dengan perusahaan mobil lain yang sedang bersaing tidak akan diam saja. Tidak ada bedanya ketika Televisi yang diciptakan oleh anak bangsa Muhammad Kusrin dipasarkan di Indonesia, akan merugikan perusahaan televisi luar negeri yang datang menguasai pasar Indonesia. Tidak berbeda dengan produk produk lainnya yang masuk ke Indonesia. Negara kita mungkin terlalu takut, mengusir penjajah dengan menggunakan produk lokal. Sehingga kreatifitas anak bangsa harus dikebiri dan digunduli sebelum bersaing di pasar global. Kita tidak pernah belajar, bagaimana cara Mahatma Gandhi mengusir Inggris dari tanahnya dengan memproduksi sendiri pakaiannya, yang membuat pabrik jeans tutup. Membuat garam sendiri dan membuat pabrik garam Inggris di India juga bangkrut. Kedua, Indonesia tidak mau mengambil resiko menggelontorkan anggaran penelitian dan penemuan dalam negeri untuk bangkit bersaing, di dalam negeri maupun di luar negeri, karena berhadapan dengan raksasa kapitalis yang haus. Jangankan dengan teknologi, dan otomotif, produk makanan Indonesia saja seperti pecel lele, nasi campur, rawon setan, gado gado dan lontong balap jarang sekali diberi ruang untuk bersaing di pasar besar modern dalam negeri seperti mall.

Indonesia sebagai pasar global di gempur produk produk luar, tidak mampu bangkit untuk melawan produk dengan produk. Indonesia seperti menjadi pelancong di negeri sendiri, karena jarang sekali produk Indonesia yang dipersilahkan bersaing. Jarang disupport dalam mengembangkan Indonesia untuk melepaskan diri dari sebutan negara konsumen dan negara berkembang. Ketakutan negeri ini seperti senjata makan tuan yang menelan kreatifitas bangsanya sendiri. Yang ketiga dan terakhir adalah Perguruan Tinggi di Indonesia sudah tidak mencetak peneliti dan penemu, melainkan mencetak karyawan perusahaan yang akan bekerja untuk memproduksi barang-barang luar negeri secara massal di kampung halamannya sendiri. Atau bisa dikatakan menjadi mesin-mesin produksi barang-barang penguasa pasar Indonesia. Indonesia masih akan tetap menjadi negara berkembang, jika tidak memproduksi barang yang mampu bersaing.   

Kita sebagai bangsa perlu kembali mengutip isi novel anak semua bangsa yang isinya: “sejak zaman tak dikenal bangsamu menguburkan mayatnya ke utara bujur, dan idealnya rumah menghadap utara, karena dari utaralah datang kaki segala bangsa meninggalkan kita setelah buncit, dan sampah sampahnya yang kita dapatkan, dan penyakitnya dan hanya sedikit dari ilmunya”

Sudah saatnya kita berbenah sebagai bangsa.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun