Cerpen

Menjelang Indonesia Merdeka Di Rombong

Cerpen titikalinea.com

Pagi ini, mentari begitu cerah. Seakan turut bangga dengan apa yang Aku rasakan. Mungkin dia tahu kalau Aku telah mendapatkan bagian terkecil yang kuimpikan.

Pamandangan pagi yang benar-benar hidup. Siulan burung peliharaan dan pepohonan yang ikut menari-nari mempesona. Belum lagi ditambah bendera yang melambai-lambai ditiup angin. Bendera-bendera itu menghidupkan suasana kemerdekaan bangsa ini, yang akan datang sebentar lagi. Tepatnya di tanggal 17 Agustus mendatang. Kelihatannya bendera itu baru, dipastikan baru saja dikeluarkan dari plastik kemasannya. Bendera di depanku banyak sekali, karena semua tetanggaku memasang di depan rumahnya. Ada yang memasang tiga bendera, sehingga kelihatan dari jauh bagaikan kantor pemerintahan.

Di bawah terik matahari pagi kupandangi cerahnya warna bendera merah-putih itu, sambil menggantungkan harapan hari ini bahwa semuanya akan lebih baik. Banyak harapan yang muncul seiring bertambahnya kecepatan angin itu menghembus bendera-bendera baru itu.

Setelah duduk cukup lama menggantungkan harapan pada bendera, waktu telah menandakan bahwa segera turun untuk berjualan. Lokasi jualan tidak jauh dari tempat tinggal, cukup ditempuh 5 menit saja menggunakan sepeda motor.

Dalam perjalanan menuju lokasi, aku merenung, “Kira-kira pelajaran apa yang akan saya ajarkan ke mereka nanti?” Kataku sambil melihat kiri kanan daun pepohonan di pinggir jalan.

“Mas, tema ngajar untuk anak kecil apa ya?” Tanyaku pada tukang ojek yang mengantarku.

“Aa? Kamu guru? Makanan itu untuk anak didiknya, ya?” Jawabnya begitu pede.

“Tidak, Pak. Ini untuk saya jual”

“Oalah.. Tentang tema, saya juga tidak paham, mungkin ajari mereka tentang kerja keras aja” kata tukang ojek sambil mengepal dan mengayunkan tangannya.

Setelah sampai di lokasi, semua kupersiapkan lalu menunggu para pelanggan berdatangan. Tapi tidak sesuai harapan. Hari ini rasanya tak seberuntung hari kemarin. Pelanggan hari ini tidak banyak. Meskipun begitu, aku tidak berani mengatakan bahwa ini adalah kutukan dewa keberuntungan.

Detik demi detik telah berlalu hingga suasana hari yang begitu panas menyengat perlahan berubah menyejukkan. Ya, tandanya sudah sore. Waktunya anak-anak diijinkan keluar bermain oleh orang tuanya. Termasuk Vero dan Adam yang dizinkan keluar untuk datang belajar di samping rombong jualanku. Setiap hari mereka datang.

Aku mengenal mereka sejak pertama kali mulai berjualan. Saat itu mereka lewat di samping rombongku sambil membawa buku pelajarannya.

“Mau belajar dimana, dek?” Kataku sambil tersenyum bangga melihat semangatnya.

“Disitu, di samping Ayah” jawab Vero sambil menunjuk ke depan rombong Ayahnya yang tidak jauh dari rombong jualanku. Di sana terlihat Ayahnya mengaduk-aduk bumbu masakan jualannya.

Baca juga : Cerpen : Tempat bekal

Vero adalah anak yang ceria, semangat belajar yang tinggi, berbadan gemuk dan cerewet persis ibu-ibu pasar. Sedangkan temannya, Adam, adalah anak yang pendiam tapi memiliki wawasan untuk anak seusianya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia bahkan tahu kapan dan berapa jumlah taruhan yang pas dalam sehari pada salah satu judi online. Mungkin dia belajar dari Bapaknya. Entahlah.

Sore ini, Vero dan Adam sudah terlihat. Mereka muncul dari balik tirai besi ruko pasar. Vero membawa dua buah buku di tangan kanannya dan dua buah pistol mainan yang masing-masing diapit dikedua ketiaknya. Sedangkan Adam, cuma membawa satu buah buku, tapi cukup tebal.

“Kak, ayo mulai belajar!” Teriak Vero sambil melambaikan tangannya dan saat itu juga salah satu pistol mainannya jatuh karena apitan ketiaknya longgar.

“Adek-adek, karena sebentar lagi tanggal tujuh belas Agustus, jadi kita belajar hari ini tentang Indonesia ya! Oiya, adek-adek tahu apa itu Indonesia?” Tanyaku berharap mereka tahu.

“Tanah yang kita injak ini” sahut Vero sambil sentakkan kaki.

“Betul. Indonesia itu tanah kita, rumah kita, yang memberi kita makan, memberi kita minum” Jawabku membenarkan.

Namun, tak disangka pertanyaan yang polos diajukan oleh Vero membuat saya bingung sekaligus kagum “Kalau rumah kita, memberi kita makan dan minum, kenapa kita injak?”

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca. Buku tentang sekelompok orang yang sukses di daerah tertentu namun dengan bangga juga menginjak (merusak) tanah itu bagaikan musuh. Seakan pertanyaan itu merujuk ke dalam buku tersebut, tapi saya yakin bukan itu maksudnya. Menurutku, arti injak dalam benak manusia polos seperti Vero dan Adam adalah kaki yang menyentuh tanah. Sehingga tak kujawab pertanyaan itu, kualihkan ke topik selanjutnya.

“Adam, buku apa yang kamu bawa?” Tanyaku mengalihkan pembahasan menghindari pertanyaan polos Vero tentang Indonesia tadi.

“Ini kak” sahut Adam sambil mengulurkan bukunya.

“Baik. Kita pelajari dari sini aja, ya!” Kataku sambil menunjuk buku Adam.

Membuka buku Adam dari lembar demi lembar membuat saya tambah bingung. Bukunya adalah buku belajar versi bahasa Jawa, sedangkan saya tidak fasih berbahasa Jawa. Sungguh malang raga ini, hanya bisa menginjakan kaki ditanahnya namun tidak bisa bahasanya.

“Kakak punya pertanyaan buat Vero dan Adam, bendera kita warnanya apa?” kataku setelah meletakkan kembali buku Adam yang juga sama membingungkannya dengan pertanyaan Vero.

“Tidak tahu” sahut Vero. Dia menjawab cepat sekali, sepertinya tidak mau jawabannya disusul Adam.

“Bendera kita warnanya Merah-Putih. Merah di atas dan putih di bawah. Tidak boleh terbalik ya! Kalau terbalik kita nanti dimarahi” Aku sambil menggambar bendera warna merah putih.

“Kenapa harus merah dan putih, Kak?” Tanya Adam

“Karena merah menandakan berani, Adam. Sedangkan putih menandakan suci. Suci itu bersih dan tidak bernoda. Makanya itu, kita harus mencintai Indonesia, ya!”

“Iya, Kak” sahut mereka bersamaan.

Di balik bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang, Vero dan Adam mulai terlungkup meresapi ilmu dalam setiap lembaran demi lembaran bukunya. Mereka sangat serius. Cukup lama mereka menggoreskan kenginannya di atas buku masing-masing, hingga tanya jawab pun terjeda.

Baca juga : Indahnya Sebuah Masalah

Tiba-tiba muncul pertanyaan Vero memecahkan kesepian tanya jawab yang sempat tejadi tadi. Pertanyaan kali ini membuat saya harus mengakhiri pembelajaran hari ini, dengan alasan akan melayani pelanggan.

“Kak”

“Ia, Dek Vero?”

“Kita harus mencintai Indonesia?”

“Betul, Vero. Harus!”

“Kalau besok-besok saya tidak mencintai Indonesia lagi, bagaimana Kak?”

“Eeeā€¦ Bsok datang lagi ya, kita lanjut belajar tentang Indonesia dan pahlawan-pahlawannya” kataku mengalihkan sambil menggaruk-garuk kepala.

Tamat

Penulis : Sigit Allobunga

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun