• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
MENTAL PROYEK KADER ORGANISASI KEPEMUDAAN

MENTAL PROYEK KADER ORGANISASI KEPEMUDAAN

“Mental proyek” kini menjadi sebutan populer dalam dunia organisasi kepemudaan, lingkungan masyarakat, berbangsa hingga bernegara. Orang proyek dalam artian ini bukan tentang seorang Insinyur yang bertanggung jawab atas sebuah proyek pembangunan, melainkan orang-orang yang menghamba atas keuntungan.

Berbicara tentang orang bermental proyek, tidak lengkap rasanya mengesampingkan sebuah buku novel yang berjudul Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Buku ini berkisah tentang seorang Insinyur bernama Kabul yang rela meninggalkan pembangunan jembatan mewah yang dipimpinnya. Ditinggalkan karena bertentangan dengan prinsip yang dia pegang, yakni pengabdian kepada masyarakat miskin. Pembangunan jembatan itu menjadi kesempatan untuk melakukan tindakan korupsi besar-besaran oleh para pejabat, kepala pemborong, hingga mandor. Karena merasa berada di lingkaran yang berbau keserakahan, Kabul mengundurkan diri setelah memimpin proyek itu selama dua tahun lamanya. Konon, buku ini laris karena penuh kritikan terhadap kepemimpinan Orde Baru yang selalu mementingkan partai dan dirinya sendiri. Sehingga orang-orang miskin yang tak tahu apa-apa menjadi korban keserakahan.

Baca juga : Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

Lalu mengapa sebutan ini populer dalam dunia organisasi kepemudaan saat ini? Karena bermain proyek tidak hanya melekat pada pimpinan dan beberapa pengisi jabatan Orde Baru maupun kepemimpinan sekarang, melainkan juga tumbuh subur dalam diri beberapa pemuda. Mereka merasa telah cukup ilmu dan mental untuk bermain, sehingga tidak segan-segan bermain anggaran organisasi lalu mengabdi kepada siapa saja yang penting menguntungkan. (Bermain: melakukan taktik yang berbau korupsi). 

Mereka mencintai idealisme tentang nilai kemanusiaan, namun bangga juga mencederainya. Mungkin mereka merasa akan dipandang hebat dalam organisasi ketika mampu mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya untuk menjalankan misi-misi yang tak terpuji, yakni tetorika murahan. Entahlah…

Melakukan semua itu pasti ada alasan yang melatarbelakangi seperti tuntutan ekonomi, uji nyali ilmu yang dipelajari, hingga menyangkut kepribadian lainnya. Lalu muncul pertanyaan; jalan seperti itukah yang akan ditempuh para pemuda organisatoris ketika telah melewati proses yang panjang di sebuah organisasi? Bukankah dituntut menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan nilai kepemudaan yang berhati nurani, bertanggung jawab, dan sebagai agen perubahan?

Baca juga : ONANISME ORGANISASI – Sebuah Kritik Kesadaran

Penulis percaya bahwa tak semua pemuda melakukan itu bahkan hanya sebagian kecil dari jumlah pemuda yang ada di negeri ini. Namun dampaknya bagi sebuah organisasi akan begitu besar. Bukan hanya tentang keuangan organisasi yang mulai di korupsi oleh para pimpinannya, tetapi tentang kepercayaan publik. Sehingga publik tak hanya memandang nilai perjuangan sebuah organisasi tersebut hanyalah sebuah dongeng omong kosong melainkan wadah saluran pelayanan. Nyatanya kepercayaan kebanyakan publik sudah seperti itu.

Keserakahan yang ditantang Kabul dalam buku yang berjudul Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari, bukan hanya tentang penggelapan uang untuk kepentingan pribadi tetapi juga keserakahan jabatan. Yang nyatanya juga telah menjadi budaya beberapa kader-kader organisasi kepemudaaan. Manjatuhkan kader lain dengan manghalalkan segala cara, hingga tak segan menyerang mental kader lain. Mereka begitu bangga melakukan tindakan tersebut karena termotivasi dengan kata yang terus dikonsumsi dalam lingkungan organisasi, bahwa mengikuti jalan seperti demikian membuat dirinya dipandang sebagai petarung. Omong kosong. Kabul ketika menjadi seorang kader dalam organisasi tersebut akan memilih berjuang lalu mengundurkan diri ketika suaranya tidak didengarkan.

Tentang keserakahan orang proyek, Ahmad Tohari dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Proyek, menuliskan tentang banyaknya orang Indonesia di luar sana yang memiliki sifat seperti pemuda proyek dalam organisasi tersebut “Orang dengan mental proyek merajalela di mana-mana. Sehingga bagaimana nasib Indonesia di masa depan?”

Baca juga : Indonesia Dalam Film The Platform

Penulis : Sigit Allobunga’

2 thoughts on “MENTAL PROYEK KADER ORGANISASI KEPEMUDAAN

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: