• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Misteri Cakar Ayam Tomo

Misteri Cakar Ayam Tomo

Sekolah adalah tempat dimana kita mencari ilmu, dapat bertemu teman teman, menghabiskan waktu hari ke hari. Begitulah kegiatanku, pada masa sekolah.

Saya siswa SMK jurusan Teknik Geologi Pertambangan, di salah satu daerah terpencil Indonesia Timur.  Saat itu saya menempuh kelas IX. Menjadi siswa kesayangan guru-guru di sekolah, walau terkadang membuat mereka jengkel dengan tingkahku yang jail.

Setiap pagi saya berangkat ke sekolah jam 07:30 dan menempuh waktu kurang lebih 10 menit sebelum bel berbunyi. Saya sangat bahagia dengan hari-hari sekolahku, karena bisa bertemu teman dan suasana sekolah bisa melepaskan seluruh permasalahan di rumah. Selama di sekolah saya memiliki satu mata pelajaran yang membuat saya berpikir dua kali untuk masuk kelas. Saya tidak suka dengan pelajaran itu.  Bukan karena mata pelajaranya yang tidak baik untuk masa depanku, bukan juga karena gurunya yang sudah tua Bangka. Saya sulit memahami apa yang dijelaskannya di depan papan tulis, dengan cara mengajar yang sangat kaku. Mengingat usianya sudah senja.

Pukul 07:50 terdengar bel berbunyi “ting nong ting nong”. Berulang sekitar 3 kali sebelum disudahi oleh pengawas bel, Pertanda jam pelajaran di mulai. Saya merasa bel tersebut terdengar seperti panggilan di stasiun kereta. Sehingga bel itu membiasakan kami para siswa dapat melatih pendengaran. Supaya saat tiba di stasiun tidak perlu heran lagi soal bel berbunyi seperti itu.

“Jam pelajaran akan segera di mulai, semua siswa dan siswi di harapkan untuk memasuki kelas” Suara tambahan, terdengar dari pengeras suara.

Saya berjalan di ambin sekolah dan mulai memasuki kelas, setelah bel sekolah bisu, suara teriakan guru mata pelajaran ku saat itu yang mulai menggema di dinding kelas. “woii… anak- anak masuk, teriakannya sangat kencang hingga serasa menembus di telinga kanan ku.

Dengan terkejut dan rasa terburu-buru saya menjawab, “baik bu”.

Saya dan teman teman satu kelas memasuki kelas seperti bebek yang masuk dalam kandangnya, berbaris dengan rapi. Kemudian satu persatu menuju tempat duduk masing-masing.

Setelah semua duduk, ketua kelas dengan lantang meneriakkan kebiasaan sebelum memulai kelas.

“Berdiri, siap grak ucap salam pada guru” teriaknya.

“selamat pagi bu” seluruh kelas terdengar kompak.

“selamat pagi anak anak” sahut ibu tua yang sudah senja.

Duduk, “sebelum memulai pelajaran hari ini baiklah kita berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing” lanjutnya.

Doaku setiap mata pelajaran ini mungkin berbeda dari teman sekelas yang lain. Saya hanya berdoa agar hari ini tidak ada ocehan ibu tua yang menelanjangi telingaku dan menghilangkan semangat belajarku. Sebut saja namanya Bu Jasmin. Guru tua yang usianya sudah senja, dengan kacamata, alis tinggi dan bersiku, rambut keriting dan wajah garang.

Kelas hening sejenak, semua siswa mempersiapkan alat tulis serta buku mata pelajaran yang akan dimulai. Aku sibuk berimajinasi tentang kejadian apa saja yang akan ku alami dalam satu jam kedepan. Beberapa selang waktu kedepan sembari aku membuka ransel yang selalu kugedong saat ke sekolah, perlahan kancing ransel kutarik dari bawah ke atas. Tiba-tiba terdengar guru usia senja bergumam.

“Hai Tomo” bu Jasmin memberi sapaan kepada murid tercintanya, namun sayangnya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

“iya bu” sembari nyegir dengan senyum gugup, aku membalas sapaannya. “Hai juga Bu”.

Hatiku tegang serasa sedang bertamasya di kebun binatang dan dimasukkan di kandang buaya.

Mata pelajaran dimulai dan ibu guru memulai menjelaskan kelanjutan dari pelajaran tempo hari. Waktu berjalan serasa biasa-biasa saja, belum ada kejadian aneh yang biasanya terjadi. Hal sangat aku benci yaitu menerima bullyan saat ada yang salah memberi pertanyaan.

Tak terasa, mata pelajaran hampir usai dan semua murid diminta untuk mengumpulkan pekerjaan rumah yang sempat diberikan minggu lalu oleh bu Jasmin.

Semua bergilir. Saya duduk sebelah kanan baris ke 3 bagian ke dari samping kanan. Setelah usai beberapa temanku, dan tersisa 2 orang. Saya dan teman satu mejaku.  Saya merasa deg-degan karena memiliki firasat pasti tulisanku dikomentari. Seperti sebelumnya.  

Temanku sudah selesai diperiksa dan sekarang giliran saya,

“Tomo..”  namaku terpanggil, serasa aku terpanggil oleh malaikat maut namun dosaku belum memenuhi syarat dan ketentuan untuk masuk surga. Jantung berdetak dengan tidak beraturan, dan kakiku terasa berat dan sangat susah untuk melangkah. Ada beban seperti diikati 10 ton baja di kakiku.

“Pekerjaan rumah kamu kemarin mana” teriak sang guru

“ini Bu” jawabku, sembari ku sudorkan hasil cakar ayamku yang kutulis semalam dengan buru-buru, karena ingin cepat-cepat selesai dan bermain game onlineku.

“loh loh loh. Ini bagaimana membacanya? tulisan kamu ini hampir sebelah dua belas dengan cakar ayam”.katanya.  Tawa teman-teman terdengar kencang, tubuh ku menciut karena malu seperti semut dalam bus kota.

“hehehe iya bu, aku emang susah nulis” jawabku sembari menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“ini kamu serius tidak kerjanya?” dengan nada tinggi, yang membuatku semakin tegang.

“serius kok bu, saya akan belajar nulis lagi” jawabku. Setelah ungkapan itu terlontar, terdengar teriakan teman yang mengintimidasi

“balik ke SD ajah huuu…”   dengan bercanda aku membalasnya teriakan itu “ia baru rencana balik SD besok sabtu kalau tidak hujan” candaku . Seketika tawa tak beraturan ramai dalam kelas.

“Ting nong..ting nong” Pertanda kelas selesai. Seperti hari-hari biasanya kami mengisi waktu senggang di kantin atau di lapangan bermain. Waktu berlalu hingga mata pelajaran terakhir. Aku pulang ke kost. Dalam perjalanan saya tertawa kecil mengingat kejadian pagi tadi di sekolah. “yah mungkin aku emang perlu memperbaiki tulisan dokterku demi masa depan ku. Karena dia adalah guru yang pastinya memiliki kerinduan melihat muridnya pintar dan sukses”. Diri ku bergumam dalam hati.

Dengan kejadian itu, maka saya selalu berusaha agar bisa membuktikan kepada guru saya bahwa saya mampu menulis. Namun takdir berkata lain di masa SMKku, saya belum bisa menulis dengan rapi sesuai harapan guruku.

Waktu berlalu dan saya akhirnya dikatakan lulus SMK setelah melewati Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah. Beruntung saya yang hidup di masa canggih sekarang, Orang-orang menggunakan teknologi yang ada mempermudah ujian, sehingga tulisan dokterku tidak harus menjadi permasalahan. Di sekolahku juga sudah menggunakan komputer untuk mengerjakan soal ujian. Saya tak bisa membayangkan juga mengerjakan ujian dengan tulisan ku yang begitu kacau, mungkin aku tak akan pernah menyelesaikan masa SMK dan selalu mendengar ocehan guru tua garang yang membuat semangat belajarku luntur.

Masa SMK usai dan saatnya memasuki arena yang sebenarnya, yaitu kuliah. Saya berharap di kampus saya bisa memperbaiki tulisanku agar mempermudah teman- temanku membacanya.

Duniaku berbalik 180 derajat, tulisanku mulai membaik terkadang juga saya mampu mengerjakan soal yang di berikan oleh dosen di depan ruangan tanpa tawa tulisan cakar ayam.“Kamu dapat berhenti sekolah namun jangan berhenti belajar dan begitu sebaliknya. Waktu dapat membawa perubahan tapi diri sendiri yang memberi pegaruh terbesar untuk perubahan itu. Jangan pernah merasa diri kamu terkucilkan, karena ada sisi lain yang orang lain belum ketahui dalam diri kamu yang menakjubkan. Terus belajar dan sampai waktumu habis dalam dunia.”

Penulis : Herman

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun