• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Mulai Berpikir Jernih Dengan Meninggalkan Kebiasaan Yang Buruk

Mulai Berpikir Jernih Dengan Meninggalkan Kebiasaan Yang Buruk

Berpikir jernih tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun tidak sedikit orang yang berhasil melakukannya. Tentu mereka butuh proses dan persiapan.

Dalam buku yang berjudul Berpikir Itu “Dipraktekin” oleh Tim Wesfix, menjelaskan beberapa proses dan persiapan yang harus dilakukan untuk bisa berpikir jernih, semuanya tentang kebiasaan.

Berdasarkan penelitian beberapa ahli, otak manusia memiliki kelenturan yang kuat sehingga bisa berubah dan beradaptasi dengan kebiasaan manusia. Beberapa kebiasaan manusia yang telah mendarah daging dalam kehidupan justru menghambat proses berpikir. Salah satunya adalah malas memperbaharui pengetahuan yang bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Alasan lain adalah kebiasaan bergosip, terlalu banyak baca berita dan tidak mampu mengendalikan singa dalam dirinya.

Baca juga : Indonesia? Pemuda Mulai Berpikir?

Bergosip memang menyenangkan bagi beberapa orang apalagi dilakukan dengan cara berbisik-bisik, intonasi dan mimik yang mendukung. Bergosip adalah kesenangan semata yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, sehingga dengan segala informasi-informasi yang tidak relevan dapat menutupi fakta. Lalu apa hubungannya dengan berpikir jernih? Otak bagi penggosip tidak akan berkembang dan dapat salah menyimpulkan sesuatu karena hanya berdasarkan gosip. Menghasilkan kesimpulan yang tidak mendasar.

Membaca berita terlalu banyak juga dapat membuat pikiran hanya berjalan di tempat. Bagaimana tidak, informasi yang disajikan dalam platform media satu kadang simpang siur dan berbeda dengan platform media lainnya. Sehingga dengan menyerap semua informasi tersebut akan membuat pikiran tidak bisa menyimpulkan kebenaran. Lalu bagaimana memilih informasi yang relevan dan berkualitas?

Pilihlah berita yang sesuai dengan topik pilihan, artinya jangan membaca semua berita yang disajikan dalam platform apalagi berita yang tidak dikenali sumber dan penulisnya. Pilihlah berita yang sedang Anda dalami dan abaikan informasi yang terlalu berpihak dan mengandung SARA. Berita yang memicu critical thinking Anda adalah berita disarankan agar dapat mengembangkan proses berpikir kritis. Karena dengan berpikir kritis, kita dapat memutuskan suatu hal yang bernilai dan layak diperjuangkan dan menemukan cara terbaik untuk melakukannya.

Baca juga : Beberapa Kesalahan Berpikir Bangsa Indonesia Yang Terus Menjebak

“Pikirkan baik-baik, jangan terbawa emosi!” adalah kata yang sering diucapkan atau terdengar untuk mengingatkan seseorang saat mulai melibatkan emosi dalam melakukan suatu hal. Artinya manusia paham bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam suasana emosi cenderung fatal. Begitu juga dalam proses berpikir jernih, ketika tidak bisa mengendalikan emosi maka keputusan yang dihasilkan dominan kurang baik, melemahkan logika, sehingga memicu seseorang melakukan tindakan yang tidak relevan secara rasional.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangkitkan gairah berpikir yang jernih, tapi tulisan kali ini hanya mengambil dari sisi kebiasaan yang terus kita lakukan dan mungkin tidak menyadarinya. Dalam buku Berpikir Itu “Dipraktekin”, cukup lengkap jika sebagai referensi mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari persiapan hingga proses berpikir itu sendiri.

Kualitas berpikir kita akan dipengaruhi oleh tindakan kita sendiri. Semakin sering berpikir secara aktif maka otak akan semakin tajam. Mempertajam otak dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan gawai, meski terasa berat dan butuh kedisiplinan yang keras. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penggunaan gawai secara tidak terbatas telah melemahkan kebiasaan membaca buku. Sehingga dengan kurangnya membaca buku mempengaruhi ketajaman otak. Selain itu, otak juga dapat diasah dengan melakukan hal-hal baru yaitu tidak ragu mengubah aktivitas harian. Artinya, lakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan setiap harinya.

Baca juga : Memproduksi Kesesatan Berfikir

Memperbanyak interaksi dengan orang lain juga dapat mengasah kemampuan otak. Berinteraksi dengan mendiskusikan topik apa saja yang menarik. Dalam proses diskusi tentu kita ditantang untuk menyampaikan pendapat atau mungkin argumen, sehingga secara spontan harus mengingat pengetahuan sesuai topik pembicaraan yang telah didapatkan sebelumnya dalam buku atau sumber lain. Memperbanyak mengingat seperti ini juga dapat mempertajam otak.

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun