Cerpen

Nyawa Baru | Sebuah Cerpen Tentang Kekerasan Seksual

Cerpen Kekerasan Seksual

Seutas tali telah terikat kuat dan menjuntai dari atas kosen bubungan. Kepala Rima telah masuk ke dalam sebentuk simpul di sisi ujungnya. Kini, napasnya berada di tubir keputusannya sendiri. Ia hanya perlu melepaskan pijakan kakinya dari atas sebuah kursi, hingga lehernya terjerat dan tubuhnya tergantung. Lalu dalam hitungan detik, ia akan mencapai tujuannya: kematian.

Namun akhirnya, ia kembali menimbang-nimbang keputusannya. Ia teringat lagi pada kedua orang tuanya, juga para saudaranya, hingga ia kembali dilanda kebimbangan untuk mengambil keputusan yang final. Tetapi bayangan-bayangan yang mengkhawatirkan di dalam benaknya, lekas pula mematahkan keraguannya, hingga ia kembali terdesak untuk segera mengakhiri hidupnya.

Detik demi detik, momok kelam itu lantas membuatnya kembali membenci dirinya sendiri. Ia merasa terhina dan tak lagi punya harga diri. Ia telah berbadan dua, tanpa pernah menikah. Ia hamil, tanpa kehadiran sosok suaminya. Karena itu, kenekatannya kembali menguat untuk menandaskan napasnya sebelum aibnya tersiar dan menghancurkan nama baik keluarganya.

Baca juga : Menjelang Indonesia Merdeka Di Rombong

Perlahan-lahan, ia jadi makin jijik membayangkan noda dosa yang telah menggerayangi kesucian tubuhnya. Ia merasa tak punya masa depan lagi. Terlebih, ukuran moral masyarakat selalu timpang terhadap perempuan. Karena itu, ia berkeyakinan bahwa apa pun alasan yang akan ia ungkapkan, orang-orang akan menyalahkan dan menudingnya sebagai seorang wanita murahan.

Dan lagi-lagi, ruang kepalanya kembali dirongrongi oleh wajah seorang lelaki paruh baya yang tega merenggut kegadisannya. Seorang lelaki bejat yang telah memperkosanya, hingga ia berkalang nista. Seorang lelaki biadab yang telah membunuh mimpinya, hingga ia kehilangan harapan hidup. Seorang lelaki yang terus ia kutuki agar mendulang pembalasan yang perih.

Tetapi kegeramannya hanya berkobar di dalam hatinya. Ia hanya terus membenci rasa bencinya terhadap lelaki tersebut. Ia hanya terus melampiaskan amarahnya kepada dirinya sendiri. Itu karena ia begitu khawatir dan takut kalau perlawanannya malah akan membuat lelaki tersebut benar-benar menghancurkan kehidupannya seumur hidup.

Sampai akhirnya, pelan-pelan, mata pikirannya fokus menatap adegan pada malam mencekam itu. Malam ketika sang lelaki menyelinap ke dalam kamarnya dan mulai menggerayangi tubuhnya. Malam ketika kesadarannya membeku menyaksikan seseorang yang begitu dipercayainya mulai menjamah sisi kewanitaannya. Malam ketika tubuhnya mematung dan kehilangan daya untuk memberontak.

Pada malam itu pula, ia merasa dirajam derita dalam waktu yang berjalan sangat lambat. Raganya seperti mati, tetapi jiwanya dipasung dan disiksa secara terus-menerus. Keadaannya seperti benda, tetapi kemanusiaanya terus dimangsa oleh seorang manusia yang lebih buas dari binatang.

Hingga akhirnya, sesi perbudakan itu usai, dan ia menyambung napasnya sebagai orang yang berbeda.

“Camkan! Jangan bilang siapa-siapa soal ini! Kalau kau berani bicara-bicara, kau tahu sendiri akibatnya! Kau bisa mati!” ancam sang lelaki, sesaat setelah melampiaskan nafsunya.

Rima hanya terdiam dan meringkuk di sudut kasurnya.

“Tetapi kalau kau pintar menutup mulut, semua akan baik-baik saja. Kau akan tetap berada di sini, dan keperluan hidupmu akan tetap terjamin,” tutur sang lelaki itu lagi.

Rima hanya terus menangis.

Sampai akhirnya, waktu-waktu berlalu setelah kejadian itu, hanya dalam nuansa hitam dan kelabu.

Mengingat-ingat momen tersebut, seketika membuat Rima sampai pada puncak kekalutannya. Hati dan pikirannya serasa kosong. Ia seperti kehilangan dirinya sendiri. Lalu dengan begitu saja, kakinya terjungkal dari kursi. Ia kemudian menggantung dengan cengkeraman tali di lehernya. Tubuhnya pun memberontak melawan kesakitan menuju kematian.

Dalam sekejap, daya hidupnya melemah. Kesadarannya meredup.

Baca juga : Perempuan : Lingkaran setan “Misoginisme”

Tetapi pada detik-detik antara kehidupan dan kematiannya itu, seseorang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat, seseorang itu lantas naik dan bertumpu pada dudukan kursi, kemudian mengangkat tubuhnya agar lehernya terbebas dari jaratan dan tarikan tali. Dengan cekatan, seseorang tersebut lalu melepaskan simpul tali yang mencekik lehernya, kemudian menurunkan dan membaringkanya di lantai.

Untuk sekian lama, Rima kehilangan kesadarannya. Ia tak tahu apa yang terjadi di tengah kegelapan dan keheningan hidupnya itu. Sampai akhirnya, ia menemukan dirinya terbaring di rumah sakit. Dan beberapa waktu kemudian, ia menyaksikan kehadiran Rahmi, bibinya, saudara kandung ibunya, yang tak lain merupakan seseorang yang telah meloloskannya dari maut.

Bagi Rima, Rahmi merupakan sosok ibunya di kota ini. Ia tinggal di rumah Rahmi dan ia hidup dengan jaminan keungan dari Rahmi pula. Itu terjadi karena ibu kandungnya tinggal jauh di kampung dan tidak punya kemampuan ekonomi lagi untuk membiayai sekolahnya di tingkat SMA.

“Jangan sungkan-sungkan selama kau tinggal di sini, Nak. Bilang saja kalau kau ada keperluan,” pesan Rahmi untuk Rima, setahun yang lalu, ketika Rima baru saja datang dari kampung.

Rima pun memangguk segan. “Baik, Bibi. Terima kasih.”

“Jangan malu-malu, ya, Nak. Anggap saja ini rumahmu, dan kami berdua adalah orang tuamu,” sambung Rahmi, sambil melirik sepintas kepada suaminya.

Sang suami pun mengangguk dengan senyuman yang lebar.

“Baik, Bibi,” kata Rima lagi.

Rahmi kemudian tertawa pendek. “Ada baiknya, kau mulai memanggil aku dengan sapaan ibu, dan memanggil Pamanmu dengan sapaan bapak, supaya hubungan kita lebih hangat,” pinta Rahmi kemudian. “Apalagi, panggilan semacam itu akan lebih menyenangkan bagi kami. Kau tahu sendiri kalau selama ini, kami tak juga dikaruniai anak.”

Rima sontak tersenyum senang. “Oh, baiklah, Bu.”

Rahmi dan suaminya pun tampak bahagia.

Hari demi hari setelah kedatangannya, Rima terus menjalani kehidupan yang menyenangkan. Segenap kebutuhannya terpenuhi atas pengongkosan Rahmi dan sang suami. Mereka berdua tampak benar-benar menjadi orang tua pengganti yang penuh perhatian untuknya.

Baca juga : Seruan Mengkhayal cinta – Cerpen Karya Achmad Rony

Akhirnya, kini, Rima sedikit tersentuh mengenang masa-masa awal kebersamaan mereka. Karena itu, ia merasa setengah menyesal telah nyaris menamatkan hidupnya dengan mengambil keputusan fatal, yang hampir saja membuatnya terpisah dengan Rahmi untuk selama-lamanya.

Tetapi di tengah kondisinya yang lemah saat ini, untuk beberapa lama, Rima memilih untuk menenangkan hatinya dan tidak mengungkapkan bentuk perasaannya kepada Rahmi. Dan beruntung, Rahmi mengerti untuk tidak memperkeruh suasana batinnya dengan berondongan pertanyaan.

Namun akhirnya, Rima tak bisa menahan tangisnya. Ia seolah merasakan kekalutan setelah meresap-resapi kesempatan hidupnya yang kedua atas pertolongan Rahmi.

“Maafkan aku, Bu,” tutur Rima kemudian. “Maafkan aku yang telah melakukan tindakan yang bodoh.”

Rahmi pun mengangguk dan melayangkan senyuman. “Aku selalu memaafkanmu, Nak. Tetapi aku mohon, janganlah kau putus asa atas hidupmu, seberat apa pun masalahmu.”

Rima sontak menelan ludah di tenggorokannya. Ia kemudian menimbang-nimbang, apakah ia sebaiknya berterus terang atau tidak atas perkaranya. Sampai akhirnya, ia memutuskan saja untuk bercerita, “Tetapi, apakah Ibu akan memaafkan aku jika Ibu tahu kalau aku …”

Tiba-tiba, Suami Rahmi muncul dari balik pintu.

Seketika, Rima tak kuasa untuk menuntaskan kalimatnya. Ia kemudian menelan kata-katanya,

Tetapi Rahmi malah tersenyum menyaksikan keraguan Rima untuk bertutur. Dengan begitu saja, ia lantas menyinggung sendiri pokok permasalahan Rima, “Aku sudah tahu soal kehamilanmu, Nak. Dokter telah menuturkan soal itu kepadaku,” katanya, kemudian menggenggam tangan anak ampuannya itu.

Rima sontak kelimpungan.

Suami Rahmi yang duduk di sisi belakang mereka, terdengar mendengkus keras.

“Nak, kewajibanmu sekarang adalah menjaga kondisi tubuhmu, demi bakal anak di rahimmu,” nasihat Rahmi, lalu mengusap-usap sisi perut Rima. “Yang lalu, biarlah berlalu, Nak. Jangan pusingkan lagi. Semua persoalan pasti akan menemukan jalan keluarnya.”

Bukannya tenang atas ungkapan maaf dan penerimaan dari Rahmi, Rima malah tampak makin tegang.

Rahmi lantas melanjutnya pesan-pesannya, “Nak, supaya kau bisa menerima keadaanmu saat ini, maka lihatlah dari sisi baiknya. Paling tidak, kau masih beruntung, sebab kau dikaruniai kondisi tubuh yang baik, yang membuatmu bisa memiliki keturunan. Karena itu, kau sepatutnya menjaga bakal anak di dalam rahimmu,” katanya, lalu kembali merekahkan senyuman yang hangat. “Oh, dan pastinya, aku akan sangat senang untuk menjaganya jika kelak ia lahir ke dunia ini. Aku akan merasa sangat bersyukur untuk itu.”

Namun tetap saja, raut Rima tak menampakkan respons yang berbeda atas ucapan manis Rahmi. Ia tampak masih dilanda kekalutan yang mendalam. Pasalnya, ia yakin bahwa sikap Rahmi terhadapnya akan jauh berbeda jika saja perempuan yang telah divonis mandul itu mengetahui bahwa bakal anak yang ia kandung tak lain adalah hasil dari perbuatan bejat suaminya.

“Sekarang, kau tenangkanlah hati dan pikiranmu, Nak. Istirahatlah, agar kondisimu lekas membaik, demi bakal anakmu,” pesan Rahmi lagi.

Rima hanya menangguk pelan dan terus menatap kosong pada langit-langit ruang perawatannya.***

Penulis : Ramli Lahaping

Tentang Penulis :
Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog sarubanglahaping.blogspot.com

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun