Cerpen

Pejamkan Cinta Sejenak | Cerita Pendek Karya Mieche Kakisina

Pejamkan Cinta Sejenak

Malam sendu ditemani hujan rintik, seakan ikut bersedih melihat Tiara yang kali itu sedang memandangi sebuah potret.

“Aku tahu kamu selalu menyayangiku, bahkan ketika aku belum juga bisa mencintaimu” lamunan Tiara membawa kenangannya ke masa lalu, saat ia bertemu seseorang yang berhasil merebut hatinya.

***

“Sendiri..?” seorang pria menyapa Tiara yang sedang duduk menunggu antrian nasabah.

“Hmm…, iya…!” jawab Tiara tersenyum sedikit mengangguk menanggapi pria tampan itu.

“Boleh kenalan…?” pria itu mengulurkan tanganya. Tiara sejenak terdiam merasa kebingungan, tetapi kemudian ia mengulurkan tangan memenuhi perkenalan itu.

“Tiara…”

“Arka…”

Jabatan tangan mengawali perkenalan di antara mereka. Sejak saat itu obrolan hangat selalu mengisi kebosanan ketika mereka sama-sama menunggu antrian nasabah. Pertemuan demi pertemuan menambah kedekatan di antara mereka, dari saling tukar nomor telepon, bahkan pulang diantar pria yang mempunyai selisih umur enam tahun dengan Tiara itu, sudah menjadi hal biasa untuk Tiara setiap mereka bertemu.

“Mungkinkah aku jatuh cinta..?” kata Tiara bertanya-tanya dalam hati di kamarnya, sambil memeluk bantal hati dengan wajah yang berseri-seri. Kebahagiaan seperti menguasai dirinya, merasakan cinta pertama di usia yang belum lama menginjak umur 20 tahun.

“Tiara..!” panggil ibunda Tiara sambil mengetuk pintu

“iya, ma…?”

“ada, Arka”

“Arka..?” Tiara segera beranjak dari tempat tidurnya berlari membuka pintu kamar.

“makasih ma..!” dengan langkah yang tergesa-gesa menuju keluar, tangan Tiara terlihat sibuk merapikan rambut dan pakaiannya.

“Tenang…” Tiara menenangkan diri setelah menarik nafas panjang.

“Arka..?” suara Tiara pelan menyapa Arka yang sudah menunggunya

Dengan senyum yang begitu lebar untuk Tiara, Arka memulai obrolan. Banyak yang mereka bicarakan, sesekali Tiara tertawa dengan gurauan ringan yang dibuat Arka.

“Kamu bisa buat aku tertawa, kamu bisa buat aku nyaman berlama-lama di dekat kamu” kata Tiara dalam hati dengan pandangan mata tetap pada Arka. Tiba-tiba Arka menghentikan obrolannya.

“Tiara..!” Arka sesudah terdiam sejenak terlihat serius

“Setiap kata dari bibir kamu selalu sulit untuk aku lupakan. Setiap kurasakan rindu, aku selalu ingin menjumpaimu. Setiap malam sebelum tidur, mataku selalu menggambarkan wajahmu. Dari awal ku melihatmu, entah perasaan aneh apa yang aku rasakan, tapi sekarang aku tahu, saat pandanganmu seakan langsung menembus hatiku, aku telah jatuh cinta padamu. Kamu mau jadi pendampingku..?” Arka menatap mata Tiara yang kali itu sudah berbinar. Tak ada alasan untuk berkata tidak bagi Tiara, Arka selalu membuatnya merasa bahagia.

***

Baca juga : Indahnya Sebuah Masalah | Cerpen Karya Tomo

“Tiara, sudah hampir enam bulan kita bersama dan selama itu pula cintaku semakin bertambah untukmu. Boleh kalau misalkan aku mengajak kamu untuk bertemu orang tuaku?”

“Tentu saja boleh, dengan senang hati..!” wajah Tiara begitu berseri mendengar hal itu, pasti akan sangat menyenangkan pikir Tiara.

Tanpa ragu, hari itu Tiara memenuhi permintaan Arka untuk bertemu orang tuanya, tapi apa yang terjadi semua diluar dugaan Tiara, keluarga Arka seakan tak menyambutnya, kehadiran Tiara seperti tak dihiraukan keluarga Arka.

“Kenapa seperti ini, apa mereka tidak menyukaiku, apa yang salah denganku..?”

Tiara semakin merasa tidak nyaman saat melihat Arka yang berubah sikap, ia terlihat kaku tak seperti biasanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi..?” kata Tiara dalam hati seakan ingin segera membuka mulut untuk berbicara.

Saat sampai di rumah, Tiara tak banyak bicara, Arka yang berpamitan pulang padanya pun, ia hanya balas dengan anggukan kecil.

“Sudahlah mungkin ini memang baru pertama kali..!” kata Tiara dalam hati menuju kamarnya.

Sejak kejadian itu, setiap harinya Tiara merasakan hal yang berbeda, walau semua berjalan seperti biasa tapi kejanggalan seperti dirasakan Tiara. Hingga suatu hari ada seorang pria yang menghampirinya sepulang kerja.

“Maaf, kamu Tiara kan..?, aku Rayan temennya Arka” pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Tiara kebingungan dengan kedatangan pria itu, walaupun Tiara sedikit mengingat tentang pria itu yang memang pernah terlihat saat dirinya bertemu sepintas dengan teman-teman Arka. Tiara membalas jabatan tangan rayan kemudian menerima permintaan Rayan yang ingin sedikit berbincang dengan Tiara.

Seusai perbincangan yang terlihat serius itu, rayan mengantarkan Tiara pulang.

“Kamu tidak apa-apa..?” tanya Rayan.

“Tidak, aku baik-baik saja..!” Tiara sambil tersenyum

Tiara membuka pintu kamarnya kemudian berbaring, perlahan tetes air mata mulai jatuh di luar kendali Tiara. Perih rasanya setelah mengetahui cerita yang didengarnya tadi.

“Tapi aku tak boleh percaya begitu saja, aku harus memastikan kebenarannya, aku akan bertanya langsung pada Arka” Tiara dalam hatinya sambil memegang dada berusaha untuk tenang.

Hari itu, semua berjalan seperti biasa, Arka mulai kembali bersikap seperti dulu. Dengan awal yang sedikit ragu Tiara akhirnya memberanikan diri untuk menyinggung masalah itu pada Arka

“hmm…Bagaimana kabar orang di rumah..?”

“Semua baik-baik saja, memangnya kenapa…?”

“hmm.. Nggak.. Cuman pengen nanyain aja, kalau kabar istri kamu..?”

Arka terlihat sangat terkejut saat Tiara mengatakan hal itu.

“Maksud kamu apa..?” Arka mencoba untuk pura-pura tidak mengerti. Tiara terus menatap Arka tanpa bicara menunggu penjelasan dari Arka.

“Maksud kamu apa Tiara..?” melihat Tiara yang tetap seperti itu akhirnya Arka menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Maafkan aku, Tiara, aku tak bermaksud menyembunyikan apapun dari kamu”

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal..?” air mata Tiara mulai menetes

“Kamu harus dengerin aku, aku benar-benar mencintai kamu Ra, sejak awal melihat kamu aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, dan soal aku yang sudah beristri sebentar lagi aku mau bercerai sama dia. Dan kamu tak perlu khawatir lagi karena saat itu terjadi, kamu akan menjadi satu-satunya yang utuh di hidup aku”

“Aku gak mau kamu ninggalin istri kamu hanya karena aku, aku tak mau jadi perusak hubungan orang”

“Nggak Ra, kamu gak jadi perusak hubungan orang, sebelum bertemu kamu aku memang sudah merencanakan untuk bercerai dengannya, justru kehadiran kamu menjadi semangat baru di hidup aku”

“Aku mencintai kamu Arka, tapi aku perlu waktu untuk memikirkan ini” Tiara mengusap air matanya kemudian beranjak pergi.

Sudah beberapa hari Tiara menghindar dari Arka, telepon Arka, sms Arka tidak Tiara hiraukan. Tetapi itu tidak bertahan lama, Arka yang terlihat tidak menyerah akhirnya meluluhkan hati Tiara. Hubungan merekapun perlahan kembali membaik dengan tak lupa Tiara sesekali menanyakan hubungan Arka dengan istrinya.

“Aku yakinkan kamu semua akan baik-baik saja” Arka yang selalu mayakinkan Tiara saat Tiara terlihat khawatir. Tiarapun kembali tenang menikmati cinta yang semakin tumbuh di hatinya.

“Ini salah, dia sudah beristri, ini salah, tapi harus bagaimana, aku mencintainya, aku terlanjur mencintainya dan mungkin aku sudah buta dengan kenyataan karenanya apalagi dengan keyakinan yang selalu dia berikan, aku semakin tidak bisa melepaskannya” renung Tiara di kamarnya

“Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu Arka, walau komunikasi tetap jalan tapi dia kemana..? Tak seperti biasanya menghilang seperti ini” kata Tiara dalam hatinya dengan kaki terus melangkah menuju rumah. Tiba-tiba terdengar suara klakson sepeda motor di belakangnya, Tiara pun menoleh.

“Arka..!” Tiara yang terlihat sangat senang melihat kekasih hatinya. Tetapi senyum Arka saat itu terlihat mempunyai beban.

“Kamu kenapa..?, kamu kemana saja..?” Tanya Tiara kepada Arka

“Aku tidak apa-apa, sudahlah yang penting aku sekarang ada disini untuk kamu” semua pertanyaan Tiara seakan tak butuh lagi jawaban dengan kehadiran Arka yang telah menepis rindunya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Tiara merasa heran, dalam hatinya ia merasa seperti ada sesuatu yang sudah terjadi, apalagi dengan Arka yang dari tadi hanya diam tak seperti biasanya.

“Tapi sudahlah, aku tak mau merusak pertemuan ini” dalam hati Tiara

Di kamarnya, saat Tiara berbaring dengan senyum bahagia atas kehadiran Arka kembali, kemudian terdengar suara telepon yang memecahkan lamunan Tiara.

“Halo Tiara..?” suara Arka memastikan itu Tiara

“Iya Arka, ada apa, kamu mau bicara sesuatu..?” perasaan Tiara berubah tidak enak saat mendengar nada suara Arka

“Aku mohon sama kamu untuk tidak memutus telepon sebelum aku selesai bicara ya..!” Arka meminta sedangkan Tiara yang semakin bertanya-tanya hanya terdiam mendengarkan

“Aku menyayangimu, kamupun tahu itu, jiwaku kembali hidup karenamu, aku takkan pernah meninggalkanmu, tapi aku meminta waktu sama kamu untuk benar-benar menjadikan kamu satu-satunya cinta dalam hidupku”

“Waktu..?’ apa yang sebenarnya ingin kamu katakan ‘ka..?”

“Aku sangat mencintai kamu, Ra…Aku sangat mencintai kamu” Arka terdengar terisak menahan kesedihannya

“Apa, Ka, ada apa…?”

“Istriku sekarang sedang mengandung Ra dan aku tak mungkin meninggalkannya di saat seperti ini”

Tiara tersentak, pedang tajam seperti sedang menikam hatinya, ia tak bisa menahan air matanya untuk jatuh

“Aku mohon kamu ngertiin aku, Ra..!” suara Arka terdengar semakin memohon

“Iya, aku akan ngertiin kamu Ka dan aku ingin selalu ngertiin kamu” Arka terdiam mendengar Tiara

“Aku juga sangat mencintai kamu, Ka, tapi mungkin ini saatnya aku sadar bahwa aku memang sedang berada di tengah-tengah cinta kalian, dan ini salah”

“Maksud kamu, Ra..? apa kamu mau ninggalin aku..? tapi aku sangat mencintai kamu, Ra..?”

“Tapi cintamu membuatku sakit. Aku takkan pernah memaksa kamu meninggalkan istrimu untuk bersamaku, meskipun akan terasa sangat perih dan entah sampai kapan aku butuh waktu untuk mengobati luka ini, tapi aku tak ingin bertahan seperti ini, menanti kebahagiaan dengan menunggu lebih dulu orang lain jatuh, aku tak bisa seperti ini, Ka, aku do’akan kamu bahagia”

“Maafkan aku, Ra..?” permintaan maaf Arka dengan penuh penyesalan menjadi kalimat terakhir yang Tiara dengar sebelum ia menutup teleponnya.

Sejak saat itu, Tiara tidak bertemu lagi dengan Arka, walau sesekali Tiara melihat Arka dari kejauhan yang seperti ingin menghampirinya tapi Tiara berusaha tidak peduli, bukan hanya sekedar karena lukanya yang sudah terlanjur dalam tetapi Tiara tak ingin menjalani kisah cintanya yang salah.

***

Baca juga : Kisah Buaya Penunggu Cekdam

Sudah lebih dari dua bulan, Tiara mengisi waktu untuk menutupi lukanya. Kali ini ia berjalan di taman kota kemudian duduk di atas tanah yang lembut dengan rumput hijau, tetapi saat ia menoleh ternyata telah ada seorang pria yang terlihat duduk dengan mata yang tertutup di tempat yang teduh dengan pohon itu. Ketika Tiara ingin beranjak tiba-tiba pria itu menyapanya

“Tidak apa-apa kok kalau kamu juga duduk disini..!” dengan senyum yang lembut, pria itu sambil menatap Tiara. Tetapi Tiara hanya menggelengkan kepala lalu pergi.

Keesokan harinya saat Tiara pergi ke taman dan hendak duduk di salah satu tempatnya, lagi, pria itu telah ada disana. Sampai hari ketigapun saat Tiara hendak duduk di taman walau di tempat yang berbeda, Tiara lagi-lagi menjumpai pria itu disana.

“Kamu ngikutin aku ya..?” Tiara dengan nada sedikit meninggi kepada pria itu.

Walau pada awalnya pria itu sedikit mengerutkan dahi, tapi kemudian tersenyum mulai bangkit hendak meninggalkan tempat itu.

“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu” Tiara menghentikan langkah pria itu.“Aku hanya sedang…” kata Tiara. Kemudian pria itu berbalik dan tersenyum kembali pada Tiara.

“Hmm…Hatiku terasa tenang, perasaan apa ini..? Kenapa dia malah tersenyum padaku..?”

“Kalau kamu mau, kamu bisa membagi masalah kamu..! Aku Irman” kat pria itu sambil mengulurkan tangannya, dan Tiara menyambutnya.

“Hmm… Terima kasih, tapi mungkin tidak saat ini”

Irman duduk kembali dan diikuti Tiara duduk di sampingnya tapi tak terlalu dekat. Obrolan ringan mulai terjalin di antara mereka

“Bebanku terasa berkurang sesudah bicara dengannya, walau hanya sekedar mengobrol, aku bersyukur..!” kata Tiara dalam hati setelah pertemuan itu dengan Irman

Perlahan Tiara menerima kehadiran Irman dalam hidupnya, sebagai teman berbagi. Perhatian Irman setiap harinya semakin bertambah pada Tiara, hingga pada akhirnya Irman merasakan perasaan lain pada Tiara dan mengungkapkannya.

“Ra, aku tahu kamu belum mengenal aku terlalu lama, tapi aku yakin dengan perasaanku, aku menyayangimu lebih” ungkapan perasaan Irman itu membuat Tiara terkejut.

“Maaf, jika rasa sayang yang kamu maksud adalah lebih dari teman, aku belum bisa” kata Tiara langsung menuju pada intinya dan akhirnya menceritakan tentang kisah cintanya yang terdahulu bersama Arka. Tapi ternyata setelah mendengar cerita Tiara, Irman bukannya berputus asa, semangatnya malah semakin menggebu untuk mendapatkan cinta Tiara, berbagai usaha dilakukan Irman untuk membuktikan cintanya.

***

Tak terasa sudah hampir tiga tahun ia mengisi hari-hari Tiara, tetapi Irman belum bisa melihat bahwa kehadirannya berarti di mata Tiara. Hingga akhirnya Irman memutuskan untuk menyerah memperjuangkan Tiara.

“Mungkin aku bukanlah yang terbaik untuk kamu, untuk itu aku ingin kamu tenang tanpa kehadiranku” Tiara yang tak bisa mengucapkan apapun saat itu hanya memandang Irman yang melangkah pergi meninggalkannya.

Tiara kadang tak sadar bahwa Irman telah pergi, ia selalu merasakan Irman ada di dekatnya, saat ia membutuhkan sesuatu Tiara selalu teringat Irman, tapi saat tersadar ternyata Irman memang telah pergi.

“Aku kehilanganmu, Ir.., kamu dimana sekarang..?” Tiara dalam hati yang terasa hampa. Tiara merasakan perasaan yang lebih perih dibandingkan dengan saat ia memutuskan untuk meninggalkan Arka. Kali ini bukan hanya hampa, rindu, bahkan rasa cinta yang perlahan Tiara sadari ternyata tumbuh untuk Irman. Tiara mencoba mencari tahu keberadaan Irman, ia menghubungi teman-teman Irman yang mungkin mengetahuinya. Setelah menghabiskan waktu yang tak sedikit akhirnya ada kabar tentang Irman.

“O..Irman..? Sekarang dia lagi menjalin hubungan dengan seseorang, dan sepertinya serius, mereka mau menikah”

Setelah mendengar kabar itu Tiara bahagia, tapi tentu kesedihan lebih besar ia rasakan.

Selang satu minggu setelah Tiara mendengar kabar itu, hatinya semakin terasa hampa. Tiara mengalami peristiwa yang sama bahkan kali ini lebih sakit.

“Sekarang aku sadar, ternyata aku menyayangimu, Ir.., sayangnya aku menyadarinya setelah kamu pergi” kata Tiara dalam hati menyesali sambil memandangi potret Irman “Aku tahu kamu selalu menyayangiku, bahkan ketika aku belum juga bisa mencintaimu” lanjut Tiara sambil mengusap potret Irman.

“Tiara, kamu sedang apa..? diluar ada tamu katanya mau ketemu kamu..” terdengar suara ibu Tiara dari balik pintu.

“Siapa..?” Tiara pelan, dengan berjalan lambat dan mata yang masih terlihat sedikit basah. Ketika Tiara membuka pintu ternyata Irman yang sedang menunggunya. Tiara terkejut, perasaannya bercampur aduk, Tiara terdiam dengan air mata yang kemudian menetes kembali.

“Kamu kenapa nangis..?” Irman yang tersenyum lebar

“Aku ingin minta maaf, aku ingin menangis, aku rindu, aku sayang sama kamu, tapi sekarang aku tahu itu tidak mungkin karena kamu sudah punya penggantiku”

“Hmm.. ! Apa kamu masih ingat waktu pertama kali kamu ketemu aku?”

“Iya…, saat itu kamu sedang tidur” kata Tiara sambil mengangguk kecil

“Hmm… Kamu tahu apa yang sebenarnya sedang aku lakukan..?”

Tiara tidak tau sama sekali maksud itu hingga menggeleng-gelengkan kepala.

“Saat itu aku sedang berdo’a agar aku dipertemukan dengan jodohku, dan saat aku membuka mata, aku lihat kamu” Irman dengan senyum yang melebar untuk Tiara

“Karena itu aku kembali kesini, karena aku yakin kamulah yang terbaik untukku, dan aku sudah menyayangimu”

Tiara menangis, sedih ketika teringat perjuangan Irman yang Tiara sia-siakan, haru mengingat Irman yang tidak menyerah sampai saat itu.

“Maukah kamu menjadi pendampingku untuk selamanya..?”

Dengan sedikit terisak, Tiara menganggukan kepala berulang kali dengan senyum penuh kebahagiaan.

SELESAI…

Penulis : Mieche Kakisina

Baca juga : Seruan Mengkhayal cinta – Cerpen Karya Achmad Rony

1 thought on “Pejamkan Cinta Sejenak | Cerita Pendek Karya Mieche Kakisina”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun