• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Pemuda Anti Hoax dan Ujaran Kebencian:  Sebuah Refleksi Atas Kebencian Yang diberikan Kepada Yesus (Yoh 8:2-11)

Pemuda Anti Hoax dan Ujaran Kebencian: Sebuah Refleksi Atas Kebencian Yang diberikan Kepada Yesus (Yoh 8:2-11)

Oleh : Alfonso Jaya Lumban Gaol

Pendahaluan

Sepanjang perjalanan manusia pasti selalu mendapatkan tantangan. Tantangan inilah sebagai cara untuk manusia lebih menguatkan lagi mental kehidupannya. Dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu bangsa ini bukan dengan cara yang mudah merebut kemerdekaan dari penjajah. Pasti harus ada perlawanan untuk mendapatkan kemerdekaan ini. Hal ini serupa dengan kehidupan manusia yang telah diperjuangkan oleh kepala gerakan, Yesus Kristus. Manusia yang berdosa-hina telah ditebus dan dimenangkan oleh Kristus itu sendiri. Kristus yang telah dibenci, dihina, disiksa, mati dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ke-tiga demi memenangkan umat-Nya dari belenggu dosa dunia ini.

Oleh karena itu, hal ini juga yang menggorogoti pemuda/i Indonesia pada saat ini. Sebuah tantangan dalam anti hoax dan ujaran kebencian adalah sedikit-banyak sebagai tantangan pada saat ini. Terlebih utama korban saat ini banyak terjadi oleh kaum minoritas[1]. Ujaran kebencian ini dapat kita rasakan pada beberapa waktu lalu yang terjadi sebelum Pemilu Gubernur DKI Jakarta, yang sebagaimana saat itu CaGeb (Ahok) yang dituduh melakukan ujaran kebencian dengan sengaja menistakan surat Al-Maidah. Namun, hal ini sangat miris. Dan hal ini tidak dapat terjadi dengan hal kebalikan oleh umat Muslim itu sendiri. Hal ini terjadi ketika ada sebuah penistaan kepada agama, yang menganggap agama Islam ada paling benar, dan di luar itu tidak ada yang benar lagi di Indonesia. Hal ini seperti melihat jauh ke belakang, apakah masih relevan keselamatan itu hanya diakui oleh beberapa orang saja. Seperti zaman reformasi yang dilawan oleh Luther, karena tidak ada keselamatan di luar gereja. Maka dari itu, menurut saya untuk mencegah hal hoax dan ujaran kebencian ini adalah salah satunya dengan cara perlawanan. Bagaimanakah melawan itu? Saya akan memberi sedikit-banyak refleksi perlawanan Yesus terhadap ujaran kebencian yang diberikan kepada-Nya dalam teks Injil Yohanes.

Perlawan Yesus dalam Kebencian

Perjalanan kehidupan Yesus selalu diiringi akan orang-orang yang membenci hidupnya. Hal ini diperkarakan bahwa karena ia telah mengaku sebagai Anak Allah, dan telah melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar tradisi umat Yahudi, salah satunya di saat hari Sabat. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi Yesus. Yesus lebih mementingkan kehendak Bapa daripada sibuk dengan orang-orang sekitar yang selalu membenci dan mengganggunya.

Dalam nats ini, pada pagi-pagi benar Ia berada di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Tradisi umat Yahudi selalu memakai Bait Allah sebagai tempat berkumpul. Pada tempat berkumpul inilah berbagai kegiatan dapat dilakukan, salah satunya sebagai proses mengajar. Yesus pada kehidupannya memanfaat momen mengajar ini di dalam Bait Allah. Karena saat di sinilah banyak orang berkumpul, dan tentu memanfaatkanya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Seperti biasa, di mana orang yang baik dan benar, di situ selalu ada orang yang sirik bahkan benci kepada-Nya. Di mana Yesus berada, hampir rata-rata di situ ada Imam, Ahli-ahli Taurat, dan Orang-orang Farisi. Pada saat ini yang datang kepada-Nya adalah Ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi[2]. Kedatangan mereka bermaksud untuk menjebak dalam kebencian mereka kepada Yesus dengan membawa perempuan yang berzinah. Dan hal inilah muncul sebuah perdebatan hukum yang dibawa kaum Ahli Taurat dan Orang-orang Farisi kepada Yesus. Dapat dilihat dengan jelas, jebakan ini membuat dilema moral yang sangat sulit pada saat itu. Yesus yang diberikan kebencian dengan tenang menanggapi hukum yang diberikan kepadanya.

Hukum yang diberikan ini adalah bagaiman berjalannya hukum Musa. Di mana pada ay.5 dikatakan bahwa, Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Demikian ini adalah ketika perempuan yang telah tertangkap basah berzinah. Karena di dalam Perjanjian Lama, hukum untuk perzianahan adalah kematian baik bagi si laki-laki dan perempuan (Im 20:10; Ul 22:22). Dan pada saat ini hukuman mati itu, harus diadopsi dengan melakukan lemparan batu hingga mati. Ridderbos mengatakan bahwa melempari batu adalah faktanya adalah cara yang paling umum di mana hukuman mati dilaksanakan di Israel (Riddebos 2012, 310). Dan hal ini dikatakan dan diberikan penekanan yang sangat penting untuk mencobai Yesus (ay.6). Apabila Yesus berpihak kepada perempuan itu tentu ia akan masuk ke dalam konflik yang terbuka dengan Musa. Dan melalui ini tentu kehidupanya Yesus akan cepat berakhir pada saat itu.

Namun reaksi yang dilakukan Yesus sangat di luar tindakan. Ia menunduk dan menulis di tanah. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi dan tafsir oleh para ahli. Tafsir yang sampai saat ini selalu didukung adalah dari Ambrose dan Agustinus yang menunjuk kepada Yer 17:13, di mana dikatakan mereka yang menolak Tuhan sehingga “mereka akan ditulis dalam bumi, karena mereka telah menolak Tuhan, sumber air hidup. Namun, dalam hal ini Yesus juga melakukan tindakan parabolik. Yaitu untuk mengingatkan orang-orang Kitab Suci ini dengan menulis di atas tanah, tanpa menyerang mereka secara terbuka (Ridderbos 2012, 310). Dan juga, menurut hemat saya dalam hal ini Yesus mengajarkan untuk kita selalu menggunakan suara hati (hatu nurani) sebagai penjawab berbagai masalah. Hati nurani (suneidesis) adalah terjemahan kata dari bahasa Yunani. Sun: bersama-sama, dan eidenai: mengetahui. Hakh mengatakan bahwa, hati nurani mempunyai pengertian untuk mengetahui secara bersama-sama (Hakh 2014, 19). Bukan hanya dalam bahasa Yunani saja, kata ini juga mempunyai pengertian dalam bahasa Latin conscientia, yang menjadi asal kata dari bahasa Inggris conscience (Verkuyl 1982, 65). Dengan pengertian asal kata ini, menurut hemat saya bahwa hati nurani adalah sebuah tindakan manusia dalam perjalanan hidupnya yang selalu disertai kesadaran untuk mengambil sebuah sikap dalam memutuskan berbagai tindakan. Secara singkat, bahwa dalam menentukan masalah atau menjebak manusia perlu pertimbangan dengan kesadaran yang tinggi untuk dilakukan.

Dan pada akhirnya, Yesus bangkit dan memberikan jawaban kepada mereka yang begitu lembut namun keras artinya. Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia melemparkan batu itu kepada perempuan itu (ay.7). Dan kemudian Yesus menulis kembali dengan perlahan-lahan orang pergi meninggalkan perempuan itu.

Penutup

Dalam kehidupan Yesus kita dapat belajar untuk menghadapi ujaran kebencian dan hoax, perlu dengan cara yang tenang dan signifikan. Bagi saya, dalam menghadapi ujaran kebencian ini, pemuda/i perlu menggunakan hati nurani dengan berbagai sikap kristis dalam menghadapi tantangan ini. Selayaknya kita sebagai pengikut Kristus, diharapkan dapat tenang dan meneladani bagaimana sikap Kristus untuk tetap santai dan tanpa menghina sama sekali orang yang berdosa. Artian ini, kita tidak perlu membalas dengan cepat atau dengan keras bagaimana ujaran kebencian yang selalu diterapkan kepada kaum minoritas. Seperti layaknya nats ini dengan keindahan kesederhanaan. Seperti Yesus membungkam dengan perkataan dan gerakan tubuh, kutuk hukum dicabik dari dasarnya dan dengan membangun (kembali) keadilan di atas dasar anugerah-Nya (Ridderbos 2012, 314). Tetaplah kaum muda, dengan kesederhanaan menggunakan hati nurani dan tanpa menghilangkan sikap kritis untuk menghadapi tantangan ujaran kebencian ini.

Literatur

Hakh, Samuel Benyamin. 2014. Akal budi & hati nurani. Bandung: Bina Media Informasi.

Ridderbos, Herman N. 2012. Injil Yohanes: Suatu tafsiran theologis. Terj: Lanna Wahyuni. Surabaya: Momentum.

Verkuyl, J. 1982. Etika Kristen: Jilid I bagian umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia.


[1] Minoritas di sini adalah kaum non Muslim. Dalam hal ini saya akan mengacu kepada Kristen.

[2] Ahli-ahli Taurat menunjuk kepada suatu kelas, Orang-orang Farisi menujuk kepada suatu golongan. Karena itu meskipun kelompok ini tidak sama, tidak semua Ahli Taurat itu orang Farisi, dan tidak semua orang Farisi itu Ahli Taurat.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun