• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19

PENDIDIKAN DI TENGAH COVID-19

Oleh : Nobert Imanuel Kono Radadjawa (Ketua Cabang GMKI Denpasar Masa Bakti 2019/2020) 

Pandemi covid-19 yang semakin menyebar luas di Indonesia memaksa kita untuk kembali melihat makna dari kehidupan, orang di sekitar kita, serta lingkungan sosial dalam arti yang lebih dalam. Covid-19 yang telah menjadi krisis di manusia modern sehingga memaksa kita untuk berhenti dalam segala rutinitas sehari-hari.

Pada saat ini Indonesia menghadapi tantangan yang besar, sehingga memaksa masyarakat untuk melakukan physical distancing (menjaga jarak) agar mampu mencegah penyebaran covid-19. Pemerintah juga telah mengeluarkan himbauan agar segala sesuatu di lakukan dari rumah. Mulai dari beribadah, bekerja dan belajar. Physical distancing juga berdampak pada aspek pendidikan, sehingga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran tentang pelaksaan pendidikan selama masa darurat covid-19 di lakukan secara daring/online dan di susul dengan peniadaan Ujian Nasional (UN) untuk tahun ini.

Mekanisme yang secara mendadak ini diterapkan tentu saja membuat para pelajar dan mahasiswa sebagian beranggapan ini sebagai “surga atau neraka”. Seperti halnya Ujian Nasional (UN) yang telah di tiadakan di kalangan pelajar tentu ini bisa saja di anggap sebagai “surga” karena akan di luluskan begitu saja dari bangku sekolah. Di kalangan mahasiswa ada yang beranggapan ini sebagai “neraka” karena ketika harus belajar dari rumah, mengakibatkan kuota internet menipis dan tugas yang begitu banyak. Terlepas dari kedua hal di atas, tentu ini adalah kebijakan yang harus di terima untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 di tengah masyarakat.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang awalnya harus bertatap muka secara langsung hanya sekedar dipindahkan dengan bertatap muka melalui media online, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Pembelajaran via online ini seharusnya menjadi sesuatu yang menarik, sehingga para pelajar dan mahasiswa bisa lebih kreatif dan mampu menghasilkan karya walaupun tetap di rumah saja. Namun akhir-akhir ini banyak bermunculan keluhan-keluhan yang di keluarkan oleh pelajar dan mahasiswa, mulai dari keluhan terkait beban tugas yang menumpuk setiap hari, pembayaran UKT yang telah dilakukan, tetapi tidak bisa merasakan fasilitas kampus selama satu semester, dan yang terbaru mahasiswa meminta agar anggaran fasilitas kampus di pindahkan ke subsidi untuk membeli kuota internet. Di beberapa kampus sudah di terapkan tetapi ada juga kampus yang menolak akan hal tersebut, sehingga tidak merata di setiap kampus. Kemudian, ada juga keluhan dari para guru dan honorer karena gajinya tidak dibayar. Dengan alasan mereka yang digaji hanya untuk guru yang melakukan proses pembelajaran via online sedangkan yang tidak melakukanya tidak akan di gaji.

Melihat dari adanya keluhan-keluhan di atas, tentu patut dipertanyakan efektifitas dari metode pembelajaran dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Tetapi, di satu sisi pastinya ada tantangan yang harus dihadapi ketika berbicara tentang kemajuan teknologi dari berbagai aspek kehidupan. Beberapa tantangan yang di hadapi dari pembelajaran daring, seperti : Mulai dari belum meratanya infrastukur seperti listrik, jaringan internet, kepemilikan gadget yang belum merata ke seluruh pelosok negeri ini. Dapat kita lihat dari perbedaan yang begitu jauh dalam mengakses internet, antara orang yang berada di pusat kota dan orang yang berada di desa. Sehingga juga dirasakan oleh mahasiswa perantau yang  mulai kekurangan logistik di tempat perantauan, tetapi ketika ingin pulang tentu mereka harus berpikir lagi terkait keterbatasan kualitas jaringan internet di kampung mereka masing-masing. Yang berikut penguasaan teknologi masih rendah, baik di kalangan guru/dosen dan pelajar dan mahasiswa. Dan yang terakhir biaya jaringan internet yang mahal menjadi tantangan tersendiri ketika harga dari kuota internet melonjak tinggi.

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan yang pertama, ketika hal-hal di atas tak mampu untuk diselesaikan secepatnya, maka ketimpangan kualitas dari sektor pendidikan akan semakin tinggi. Membuat pelajar dan mahasiswa yang dihasilkan, sangat diragukan untuk kemampuannya bersaing di revolusi industri dan liberalisasi di sektor pendidikan juga akan semakin kacau. Yang kedua, harus dipikirkan alternatif  pembelajaran seperti apa yang harus di terapkan untuk saudara-saudara kita yang berada di daerah terpencil, terluar dan tertinggal sehingga mereka tetap mendapatkan pendidikan yang merata di tengah pandemi covid-19. Yang ketiga, penarapan pembelajaran daring ini harus di jadikan alat ukur plus dan minus agar nantinya mampu menstimulus sistem pendidikan.

“Tujuan dari pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” 
Tan Malaka

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun