• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Perempuan Bersama Rantai Belis

Perempuan Bersama Rantai Belis

Tradisi dimaknai sebagai salah satu bentuk kepercayaan yang dijalani secara terus menerus, dalam kurun waktu yang abstrak dan juga telah  mendarah daging. Tumbuhnya sebuah tradisi dikarenakan kontruksi sosial yang dibangun dan diyakini oleh masyarakat sebagai tujuan kepuasan dan kesejahteraan hidup bagi keturunan dan kaumnya. Tradisi dianggap begitu sakral dan suci sehingga masyarakat akan menjadi murtad ketika ada yang menentang dan melanggarnya.

Salah satu tradisi dalam masyarakat Indonesia khususnya  tradisi masyarakat Timor Tengah Utara, yang dianggap penting adalah tentang perkawinan. Tradisi perkawinan tersebut perlu disoroti saat ini,  terutama permasalahan mahar atau dikenal dengan sebutan belis. Pada dasarnya perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat timor tengah utara, menganut sistem genealogis patrilineal, dimana sistem ini mengikuti garis keturunan laki-laki  dan menempatkan marga (fam) sebagai identitas untuk keturunannya. Sehingga  belis secara pasti selalu diberikan kepada kaum perempuan.

Dalam tradisi masyarakat Timor Tengah Utara, belis merupakan suatu bentuk penghargaan  tertinggi yang diberikan oleh laki-laki kepada keluarga perempuan guna mendapatkan perempuan yang menjadi target atau pasangan dari seorang laki-laki tersebut. Belis juga diartikan sebagai bentuk syukur akan hadirnya keluarga baru dalam satu ras atau kelompok.  Wujud Belis sebagai penghargaan biasanya berupa barang (emas, perak, logam dan molo), hewan ternak seperti sapi, kuda dan babi serta sejumlah uang yang ditentukan berdasarkan keputusan Bersama keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Jumlah besar kecilnya wujud dan harga belis, tergantung  dari status sosial keluarga ataupun pendidikan dari perempuan.

Sebelum menuju tahapan pemberian belis, maka ada beberapa tahap yang harus dilalui oleh seorang laki-laki yaitu pada tahap pertama dikenal dengan sebutan “Pius sual muti” (lamaran), pada asalnya seorang laki-laki wajib membawa sebotol sopi, sekapur sirih  dan uang 1 (satu) perak. Namun, pada saat ini, pius sual muti bisa diganti dengan sejumlah uang dengan nominal minimal dua juta lima ratus ribu rupiah. Pius sual muti merupakan bentuk pengenalan diri laki-laki kepada pihak keluarga perempuan, dengan maksud merayu keluarga perempuan.

Kemudian setelah mendapatkan persetujuan masuk pada tahap kedua yang dikenal dengan sebutan “bunuk hau no’o” (peminangan). Pada tahap ini,  laki-laki membawa uang sejumlah 50 perak. Apabila dikategorikan dengan nilai ekonomi zaman sekarang maka  bisa digantikan dengan ternak seperti sapi atau kuda berjumlah satu ekor sampai dua ekor dan sejumlah  uang minimal 30 juta ( perhitungan saat ini). Tahap ini juga mewajibkan pihak laki-laki membawa cover yang berisikan barang-barang bagi perempuan seperti sarung, pakaian, perhiasan, sepatu dan perabotan rumah tangga sebagai bentuk kesiapan laki-laki untuk memulai dan telah siap membangun bahtera rumah tangga.  

Selanjutnya, tahap ketiga adalah pembahasan inti yaitu mengenai belis (mahar). Tahap ini merupakan tahap terberat bagi seorang laki-laki.  dimana seorang laki-laki wajib membawa sejumlah uang yang disepakati bersama antara pihak laki-laki dan pihak perempuan dengan perhitungan yang menyesuaikan nilai ekonomis zaman, dengan tafsiran minimal enam puluh juta rupiah beserta puluhan ekor hewan ternak. Dalam penentuan belis khususnya posisi adat, perempuan yang dijadikan pasangan tidak berhak berbicara atau menyatakan pendapatnya. Perempuan mau tidak mau harus menyetujui setiap perbincangan yang menjadi kesepakatan kedua pihak keluarga. Pernikahan akan dilakukan setelah penyelesaian tradisi adat (Belis) tercapai. Artinya perempuan dan laki-laki yang menikah secara agama, tidak akan diakui pernikahan secara adat ketika kewajiban belis belum dituntaskan oleh pihak laki-laki. Karena hal ini dianggap menjadi masalah dan beban dalam sebuah keluarga bahkan sampai keturunannya.

 Tahapan terakhir prosesi adat adalah pengesahan. Pengesahan adalah agenda memutuskan “mata musang” yang artinya dalam tahap ini ada keputusan kedua belah pihak untuk menetukan  ahli waras  (anak) yang mengikuti marga perempuan. Tahapan terakhir ini, sejumlah uang dan barang menjadi transaksi belis pada upacara perkawinan. Setelah melewati tahap-tahap tersebut maka, secara tradisi adat istiadat, seorang laki-laki telah menyelesaikan urusan adat dan dianggap berhak secara penuh untuk memiliki perempuan beserta keturunannya dalam kehidupan.

Dari uraian diatas penulis memiliki pertanyaan, apakah belis sesungguhnya adalah sebuah penghargaan tertinggi kepada keluarga perempuan guna mendapatkan pasangannya ? ataukah sebagai bentuk penyamaan martabat seorang perempuan sebagai manusia dengan barang dan hewan? Ataukah perempuan sebagai produk yang dapat diperjualbelikan sehingga ada prosesi tawar menawar sejumlah uang yang berbentuk transaksional?

Perempuan sebagai manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai seseorang yang berbudaya, berbangsa dan bernegara. Penulis berasumsi perempuan tidak pantas dijadikan sebagai objek tawar  menawar layaknya barang. Pantaskah tradisi trasaksional seperti ini dibiarkan dan dikembangkan, sehingga akan berakhir menjadikan perempuan budak penjualan?

 Secara umum penentuan harga berupa uang dan hewan ternak  merupakan bentuk penjualan seorang perempuan secara tidak langsung. Tradisi yang dibangun justru mengancam keselamatan perempuan sendiri ketika membangun rumah tangga. Tradisi belis yang semakin sulit justru menjadi ancaman keharmonisan rumah tangga bahkan bisa berdampak pada kekerasan terhadap harga diri seseorang. Sistem belis juga tidak luput menciptakan lingkaran utang piutang yang terus meningkat. Karena asumsi pembayaran dan kepemilikan secara penuh oleh pihak laki-laki terhadap perempuan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, apakah belis sesungguhnya adalah sebuah penghargaan tertinggi kepada keluarga perempuan guna mendapatkan pasangannya ? maka penulis berasusmsi bahwa belis bukanlah suatu bentuk penghargaan melainkan sebuah prosesi memperjualbelikan perempuan serta sebagai upaya menurunkan martabat seorang perempuan. Perhargaan sesungguhnya adalah menerima dan menghargai melalui tindakan nyata bukan dengan barang atau hewan ternak yang justru membebani pasangan. Pertukaran menggunakan sejumlah uang dan hewan ternak menegaskan secara jelas bahwa martabat perempuan tidak lebih dari nilai segepok uang dan hewan ternak itu sendiri. Selanjutnya apakah perempuan sebagai produk yang dapat diperjualbelikan sehingga ada prosesi tawar menawar sejumlah uang yang berbentuk transaksional?. Prosesi tawar menawar dengan sejumlah uang untuk perempuan dengan secara langsung menegaskan bahwa perempuan sesungguhnya hanyalah sebuah produk semata yang sedang ditawarkan. Jika harga pantas, maka akan diambil namun jika harga tidak pantas akan ditinggalkan. Karena sesungguhnya konsep transaksi jual beli produk adalah transaksi pertukaran barang dengan sejumlah uang atau benda bernilai nominal.

Melihat kondisi ini, sesungguhnya tradisi belis yang diterapkan sebagai bentuk transaksi dalam upaya menyenangkan salah satu pihak tertentu maka, secara tegas penulis menyatakan bahwa tradisi belis tidak relevan untuk  terus dibiarkan dan dikembangkan hari ini, karena bisa berakibat pada menurunnya penghargaan martabat serta timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. Sesungguhnya harga diri adalah poin terpenting yang harus dipertahankan bahkan tidak bisa ditukarkan dengan apapun.

(/E..V)

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun