• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
PEREMPUAN DALAM PUSARAN KAPITALISME

PEREMPUAN DALAM PUSARAN KAPITALISME

Oleh : Ekravilo Amfotis

Perbincangan tentang percintaan bukanlah hal yang tabu untuk diketahui oleh setiap kalangan. Percintaan merupakan  suatu kebutuhan yang melekat dalam diri setiap orang. Dalam perjalanannya, percintaan diakui memiliki kekuatan psikologi yang mampu menciptakan sebuah imajinasi liar sehingga seseorang cenderung mengalami euforia cinta. Secara umum, percintaan sebagai wujud kesepakatan antara pasangan yang saling mencintai, memiliki sebuah misi untuk mencapai visi bersama sampai pada hal yang sensitif sekalipun yaitu  pemenuhan hasrat seksual. Untuk mencapai makna klimaks percintaan, dari sisi laki-laki dan sisi perempuan tentunya konsep kesetaraan dalam segi materialis maupun non materialis perlu diterapkan, sehingga tidak merugikan salah satu pihak.

Dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat, untuk mendapatkan pengakuan percintaan secara sah dibutuhkan ketaatan terhadap aturan dan sistem yang telah dibentuk serta dijalankan. Keterlibatan masyarakat atau orang lain dalam urusan percintaan seseorang, melahirkan kesempatan bagi beberapa orang untuk mencari keuntungan. Pandangan masyarakat yang masih primitif menjadi ujung tombak untuk orang tertentu dalam mensabotase konsep percintaan menjadi ladang bisnis. Dalam buku Robert Lekacham dan Borin Van Loon tentang kapitalisme menjelaskan bahwa kapitalisme sebagai suatu perlengkapan modal masyarakat, dan alat-alat reproduksinya dimiliki oleh segelitir individu yang memiliki hak legal untuk mempergunakan hak miliknya guna meraup keuntungan pribadi. Dalam hal ini percintaan maupun perkawinan perlengkapan modal tersebut adalah perempuan, sedangkan alat-alat reproduksinya adalah keluarga. Sehingga kelompok keluarga menggunakan perempuan sebagai objek produksi untuk keuntungan segenlintir kelompok (Keluarga). Yang kemudian secara tidak sadar menjadi kebiasaan yang dilajalankan terus menerus oleh perempuan.

Kapitalisme pada dasarnya mengarah pada sebuah nilai guna dan nilai lebih yang berpotensi menindas dan merugikan orang lain. Dalam kehidupan percintaan, banyak perempuan melegalkan tindakan dan pandangan sebagai hasil kontruksi sosial budaya masyarakat, dengan menjadikan laki-laki sebagai subyek pemenuh kebutuhan. Perempuan yang secara etimologi dari kata “empu” artinya orang yang berkuasa dan bebas untuk menentukan kehidupannya, akhirmya mengalami pergeseran makna dan nilai  menjadi seorang yang berkuasa untuk menindas dan mempermainkan laki-laki dalam sistem patriarki percintaan itu sendiri. Sebagai perempuan yang mewajarkan semua hal ini, apakah perempuan hari ini, telah bebas dalam menetukan pilihan untuk dirinya atau justru terjebak dalam permainan lingkaran euforia  yang padat akan nilai patriarki?

Seiring  perkembangan zaman dan teknologi yang tak terkendali membawa perubahan yang drastis sehingga teknologi itu sendiri ikut berpengaruh membentuk konsep berpikir seseorang dalam hal ini percintaan. Pembentukan konstruksi percintaan tidak terlepas pula dari status sosial. Status sosial yang menjadi salah satu alasan kekuatan berkembangnya kapitalisme sekaligus menjadi akar kesetimpangan kondisi percintaan hari ini. Kapitalisme berhasil membentuk kelas-kelas sosial yang berbeda sehingga berdampak pada pembedaan status sosial seseorang.

Dalam konsep percintaan perempuan dari kelas rendah, kelas menengah sampai kelas tinggi secara rasional cenderung memilih, laki-laki yang mampu menggangkat harga dirinya dan yang berkapasitas menunjang masa depannya. Laki-laki yang bermodal karakter setia, cerdas dan pekerja keras akan kalah dengan laki-laki mapan yang memiliki jabatan, lingkaran pertemanan besar, kendaraan mahal, rumah mewah, dan latar belakang perekonomian keluarga yang dianggap tinggi.

Kemapaman yang dengan parameternya adalah hal-hal yang berbentuk materialistis dipercaya memiliki nilai jual untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi perempuan yang dalam bermasyarakat. Perempuan kelas rendah, kelas menengah sampai kelas tinggi hari ini, terbentuk sebagai pemburu kapital dan menjadikan kemapanan laki-laki sebagai obyek  untuk mencapai hedonisme yang ditunjang dengan kapitalisme dan konsumerisme.

 Laki-laki sebagai subyek pemenuh kebutuhan ketika menjalin hubungan dengan perempuan (pacaran), secara langsung menjalani suatu kebiasaan yang seakan mewajibkan laki-laki untuk menyenangkan pasangannya dengan menuruti segala keinginan sang perempuan. Hal yang dilakukan adalah dengan mengajak jalan-jalan ke mall, berbelanja, nonton, makan ditempat mahal dan berkencan dengan membawa mobil atau motor. Dalam hal ini, Kapitalisme menjalankan peran dengan mendoktrin bahwa hubungan harus dibuktikan dengan sebuah simbol materi sebagai identitas dari rasa cinta itu sendiri. Simbol itu mengarah pada hal-hal  materialistis seperti memberi tas, sepatu, cincin, boneka, coklat dan bunga yang sebenarnya sangat menguntungkan perempuan itu sendiri tetapi bermakna sebaliknya untuk laki-laki. Entah sejak kapan percintaan bersetubuh dengan kapitalisme? Namun hal itu benar-benar telah merubah cara pandang manusia (perempuan), dengan menyukai hal-hal yang berbau estetika, euforia secara buta dan mempersempit makna percintaan yang sebenarnya.

Untuk menjawab pertanyaan apakah perempuan hari ini telah bebas dalam menetukan pilihan untuk dirinya atau justru terjebak dalam permainan lingkaran euforia  yang padat akan nilai patriarki?  Dalam kehidupan bermasyarakat,  penulis berpendapat bahwa perempuan belum bebas dalam menentukan pilihan sendiri. Perempuan hari ini terlena  menikmati permainan euforia yang menawarkan kemewahan secara  praktis. Bahkan dalam hal ketika perempuan ingin memilih pasangan hidupnya. Masyarakat terdekat dalam hal ini lingkungan keluarga, cenderung mencampuri urusan perempuan dengan menempatkan kriteria dan mempertanyakan status sosial dari laki-laki sebagai pasangannya. Orangtua cenderung mendikte anaknya (perempuan) untuk memilih laki-laki yang mapan secara material dengan alasan masa depan yang gemilang.

Pengabdian terhadap orang tua selalu menjadi senjata untuk melumpuhkan kebebasan anak ketika mengambil keputusan yang bersebrangan dengan orangtua termasuk lingkungan masyarakat. Penempatan standar akan status sosial laki-laki menjadikan pemenuhan kehendak bebas seorang perempuan tidak memiliki arti. Sampai pada penentuan harga diri seorang perempuan (mahar)  diputuskan oleh keluarga tanpa memberi ruang menyatakan keinginannya. Kehendak bebas dalam percintaan seakan hanyalah fiksi dengan maksud menyenangkan perempuan sekaligus tindakan pelecehan terhadap makna perjuangan perempuan yang tidak dipahami. Orangtua sendiri sebagai kaum kapitalis yang  menjadikan percintaan anaknya (perempuan) sebagai modalnya agar menjawab kondisi sosial ekonomi dan menganggap hal tersebut sebagai bagian dari budaya leluhur.

Secara perlahan makna percintaan sebagai nilai ketulusan mulai tergerus dan terganti dengan makna bahwa percintaan adalah tentang status sosial dan materialis yang bermerk. Masyarakat juga ikut memainkan dan memperkuat kapitalisme sebagai wadah yang menentukan berapa bernilainya kehidupan seseorang. Kapitalisme dalam konsep patriarki tentunya menimbulkan ketidakadilan untuk laki-laki, namun perempuan dalam kacamata tradisi hal tersebut merupakan kewajiban yang hanya dijalani oleh laki-laki.

Percintaan sesungguhnya tidak ada hubungan kapitalisme, jika dimaknai dengan kemandirian berpikir. Percintaan sesungguhnya adalah kesepakatan antara dua pihak yang saling mencintai, memiliki sebuah misi untuk mencapai visi bersama. Kesepakatan untuk menjalani kehidupan tanpa paksaan dan kurungan. Kesepakatan untuk setara dalam konsep berpikir dan bertindak. Perempuan dan laki-laki harus sama-sama memiliki konsep pemenuh kebutuhan yang saling bergantungan sehingga tidak ada yang dirugikan. Kapitalisme berbicara mengenai makna perlengkapan modal beserta alat reproduksinya pada praktek kehidupan. Tentu akan sangat tidak terhormat ketika identitas seorang perempuan disimbolkan dengan barang. Karena perempuan adalah hal yang tak ternilai maka memberi harga yang bernilai yang bisa dihitung secara kapital pada perempuan merupakan suatu penghinaan kemandirian berpikir.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun