• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Perempuan : Lingkaran setan “Misoginisme”

Perempuan : Lingkaran setan “Misoginisme”

Oleh : (/E.V)

Perempuan saat ini masih dekat dengan label kalimat “sebagai kunci perubahan sebuah peradaban” hal ini diungkapkan oleh Soekarno dalam buku Sarinah. Sepintas kalimat tersebut seakan menjadi kekuatan dan kebanggaan bagi perempuan, namun  sekaligus bisa menjadi penjara. Artinya bahwa perempuan sebagai tiang sebuah perubahan peradaban. Label tersebut sengaja diberikan kepada  perempuan yang masih terbelenggu dalam sistem patriarki untuk bangkit dan sadar. Karena faktanya menjadi terbelenggu sangatlah membunuh karakter hingga intelektual. Oleh karena itu perempuan perlu keluar dan merdeka untuk menciptakan sungai sejarah peradaban. Meskipun esensi narasi yang terus digaungkan itu belum merata dipahami oleh semua perempuan.

Menelaah berbagai gerakan yang telah dilakukan oleh perempuan, nyatanya sejarah telah mencatat setiap perjuangannya. Namun walaupun demikian, masalah kekerasan terhadap perempuan tidak kunjung selesai. Seperti akhir-akhir ini masalah kekerasan terhadap perempuan sangat memprihatinkan dan terus menjadi kanca problematika perempuan dalam pergerakannya. Suara-suara perempuan sampai hari ini masih tidak lekang oleh waktu. Mereka terus membuktikan siapa mereka, dan ingin menegaskan bahwa mereka juga manusia yang nyata. 

Mengutip pandangan Aristoteles dalam buku Second Sex karya Simone De Beauvoir “bahwa perempuan dengan sifat khususnya yang kurang berkualitas, dimana kita harus memandang sifat perempuan yang dimilikinya sebagai suatu ketidaksempurnaan alam”. Dia menilai perempuan seperti bukan manusia nyata dan sebagai subyek lain dari manusia itu sendiri yakni laki-laki. Pandangan itu seakan menyudutkan perempuan dan identitasnya. Hal tersebut mengarah pada misoginis yang menjadi salah satu akar permasalahan perempuan mengalami penindasan.

Dari pandangan bapak filsuf Yunani tersebut, secara tidak langsung menunjukan penindasan secara simbolik kepada perempuan. Sayangnya, sampai saat ini masih banyak perempuan yang tidak memahami simbol penindasan tersebut. Perempuan cenderung memandang kalimat tersebut sebagai sebuah keindahan kata-kata, dan dianggap sebagai sebuah keistimewaan yang diberikan untuk perempuan. Bukankah untuk menjadi istimewa, seseorang tidak perlu diperlakukan secara istimewa? Penulis tidak menuntut kepada semua perempuan untuk menolak hak istimewa yang menjadi ukuran kebahagian perempuan, tetapi mengajak perempuan untuk tidak terlalu nyaman terhadap perlakuan simbolik. Makna yang tersembunyi dari keindahan kalimat tersebut adalah perempuan dalam rantai pertunjukan kepemilikan secara utuh yang tata rapi untuk laki-laki.

Status kepemilikan laki-laki pada perempuan secara utuh, akhirnya bersifat mengikat dan mengarah pada penindasan. Ideologi laki-laki terhadap perempuan selalu cenderung misoginis yang berujung mendiskriminasikan perempuan. Misoginisme perempuan dilihat sebagai sebuah sikap membenci, tidak suka dan tidak percaya terhadap perempuan secara berlebihan, yang dilakukan laki-laki. Adapun faktor yang mempengaruhi adanya kondisi misogeni yaitu seperti doktrin sejarah, ajaran agama, kejadian masa lalu yang membuat trauma, cara berpakaian perempuan, dan upah kerja perempuan yang lebih tinggi.  Misoginis juga dapat dilihat dari lelucon pornografi sampai pada tindakan kekerasan terhadap perempuan

Misoginisme yang terus  membudaya dan menyeret perempuan pada perendahan martabatnya hari ini dilihat sebagai kewajaran. Tanpa perlawanan dan menyeret pada perempuan dalam kesenangan yang absolut. Kebencian akan sifat-sifat feminim yang diajarkan dari lingkungan (keluarga, sekolah dan negara) lagi-lagi menyeret perempuan untuk tunduk dan menjadi penurut. Sikap misoginis akhirnya berakhir dengan penindasan terhadap perempuan. Kekerasan perempuan akhirnya terus meningkat dan tidak bisa dihentikan. Kenapa bisa? Karena laki-laki yang melakukan misogeni cenderung tidak menyadari tindakannya.

Contoh kasus misoginis yang terjadi terhadap perempuan, yaitu ketika laki-laki memukul perempuan saat pacaran atau setelah berkeluarga. Yang disebabkan oleh trauma masa lalu, dimana seorang laki-laki pernah mengalami kekerasan dari ibu, kekasih, atau pernah melihat secara langsung bagaimana seorang ayah atau laki-laki lain memperlakukan perempuan dengan kasar, melecehkan, dan menomorduakan perempuan. Sehingga mereka akhirnya terbawa pemikiran dan sifat yang sama membenci dan menyerang perempuan. Itu adalah salah satu contoh kasus dari sekian banyak model misoginis yang terjadi hari ini.

Tak dapat dipungkiri misoginis sebagai budaya lingkaran setan, patriarki. Lagi-lagi superioritas laki-laki atas gagasan dan pengetahuan memang sudah dilanggengkan sejak berabad-abad silam, memaksa perempuan hadir sebagai mahluk inferior dalam pergumulan intelektual dan domestik. Bahkan negara yang hari ini patriarkat, kapitalis, dan rasis pada kebijakan dan tindakan yang diambil secara struktural, cenderung bersifat diskriminatif pada perempuan itu sendiri. Narasi gender dan seksual oleh negara dalam mengurangi masalah kekerasan terhadap perempuan, masih tidak memiliki tempat kecuali sindiran misoginis politisi. Kekerasan terhadap perempuan yang berbalut jubah fundamentalisme agama, mampu membuat negara tidak berkutik.

Perempuan harus bekerja lebih dari biasanya untuk membebaskan diri dari misoginis ini. Semua perempuan dan laki-laki tentunya sadar, bahwa kita perlu memanusiakan manusia lainnya. Kita sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jawaban untuk menghapus tindakan misogenis yang berujung maut ada di tangan kita sebagai manusia. Perempuan dan laki-laki berada pada panggung yang sama yaitu setara. Maka biarkanlah kesadaran dan cara berpikir meredupkan kerakusan pada peran yang sebenarnya bukan milik kita.

1 thought on “Perempuan : Lingkaran setan “Misoginisme”

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: