• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
PEREMPUAN SEBAGAI MANGSA TRADISI KAWIN TANGKAP

PEREMPUAN SEBAGAI MANGSA TRADISI KAWIN TANGKAP

Oleh : Ekravilo Amfotis

Perempuan dan budaya selalu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ibaratnya perempuan sebagai kertas  dan budaya sebagai pena yang akan memiliki nilai guna dimata masyarakat, ketika secara konsisten saling berhubungan baik secara sadar ataupun paksaan. Nilai dan hubungan inilah yang melegalkan segala sistem, sehingga kesalahan yang terjadi terkait budaya,  akan ditoleransi sebagai kebiasaan atau  bentuk penghormatan. Akhirnya budaya yang dianggap sebagai identitas suatu suku, daerah atau bangsa, justru menjadi wadah untuk membunuh manusia, karakter, kecerdasan, pemikiran dan kemanusiaan sendiri.

Perbincangan terkait perempuan dan budaya akhir-akhir ini menjadi sorotan dan perhatian semua kalangan. Hal ini terkait dengan tradisi Yappa Maradda atau disebut kawin tangkap dalam tradisi masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini dianggap sebagai kebiasaan yang terus dilanggengkan sepanjang waktu. Dalam tradisi ini, perempuan menjadi korban praktik dan implementasinya. Perempuan yang menjadi incaran dari laki-laki dalam melakukan momen kawin tangkap yang cenderung dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan perempuan tersebut. Bahkan pendapat perempuan dalam kondisi ini tidak diperhitungkan sama sekali. Menakutkan bukan?

Baca juga : Perempuan Pembual

Lagi-lagi perempuan menjadi korban dalam tradisi. Sebuah pelegalan tradisi yang berujung menghancurkan, memperjual-belikan, mendiskriminasi dan menjadi perempuan sebagai mangsa dari hasrat dangkal laki-laki dalam balutan tradisi. Tradisi yang menyebabkan trauma atau masalah psikis pada perempuan. Namun sayangnya, masyarakat sekitar bahkan turut mendukung tradisi yang berbalut kekerasan terhadap perempuan ini. Mengapa? karena tradisi dianggap hal sakral yang tidak boleh di langgar, dan dipercayai sebagai budaya leluhur yang harus ditaati. Jika tidak demikian, maka hukumnya adalah dikucilkan, diusir, mendapatkan denda sosial dan adat bahkan nyawa sebagai taruhan. Lantas apa nilai dari tradisi itu sendiri? apakah tradisi dibentuk tanpa dilandasi rasa kemanusiaan ataukah sebenarnya tradisi tidak menganggap perempuan sebagai manusia?

Kita bisa melihat bagaimana budaya patriarki memainkan polanya. Laki-laki menjadi sangat berkuasa dalam memainkan aksi heroik dalam tradisi kawin tangkap ini. Tradisi yang dibangun menyembunyikan fakta bahwa nilai perempuan hanyalah pelengkap dalam kehidupan dan perempuan bukan manusia. Tradisi seharusnya memanusiakan manusia, bukan membinatangkan manusia. Perempuan dalam kondisi ini masih dengan ketidakberdayaan dalam melawan atau mendobrak ketidakadilan ini. Kesadaran setiap perempuanpun belum dibangun secara utuh sampai keakarnya. Bahkan sebagian perempuan masih menganggap tradisi ini sebagai ketaatan pada leluhur dan orangtua. Dampak yang dirasakanpun dianggap sebagai kebiasaan dan dibiarkan.

Baca juga : Perempuan Lingkaran Setan Misoginisme

Melihat kondisi yang tidak memanusiakan seorang perempuan tentu menggusarkan setiap orang. Banyak perempuan yang mengaungkan aksi ketidaksepakatan akan tradisi berupa diskusi-diskusi, turun lapangan dalam membantu korban kawin tangkap dan aksi lain sebagai bentuk empati mereka terkait tradisi kawin tangkap yang merugikan perempuan. Artinya bahwa tradisi yang dibangun dengan nilai tinggi memerlukan pembaharuan. Tradisi ini dilihat merendahkan martabat perempuan. Perempuan bukanlah pelengkap kehidupan, melainkan pemain utama sendiri dalam kehidupan. Tradisi kawin tangkap berujung pada kekerasan pada perempuan yang berbasis patriarki, sangat berbahaya bagi kehidupan perempuan sendiri. Hal ini menjadi salah satu penyebab kekerasan dalam rumah tangga dan sebagai boomerang ketidakharmonisan dalam berkeluarga.

Sesungguhnya penulis tidak secara langsung menyalahkan secara utuh bahwa laki-laki sebagai akar adanya masalah ini. Laki-laki juga sebagai korban dari tradisi yang dibentuk oleh leluhur. Konstruksi sosial yang ditanamkan membentuk laki-laki dalam melegalkan tradisi ini. Laki-laki diajarkan tentang pelegalan tradisi dan posisi perempuan dimata laki-laki. Sehingga pola pikir itu terbentuk dan mengakar. Ditambah lagi pemahaman yang rendah, sikap feodal dan ketidaksadaran akan tradisi dan pola pikir dangkal yang dibiasakan hingga meninabobokan penyadaran dan nilai kemanusiaan pada laki-laki. Perempuan dan laki-laki sama-sama adalah korban. Namun yang menjadi obyek dari tradisi ini adalah perempuan. Sehingga akan menjadi keliru ketika secara gamblang memojokkan laki-laki, karena padahal dalam tradisi ini juga melibatkan perempuan baik dari keluarga, teman atau tetangga.

Baca juga : Perempuan Yang Dipelacurkan

Yang menjadi sorotan adalah tentang tradisi kawin tangkap. Tradisi bisa diganti dengan yang lebih memanusiakan, lebih setara dan lebih egaliter. Tradisi ini seharusnya perlu dievalusi agar nilai dari tradisi tidak disalahgunakan untuk kepentingan orang lain. Nilai yang dijaga sebagai persatuan menghasilkan rasa kepedulian terhadap sesama manusia dalam jangka waktu yang panjang. Tidak ada yang perlu dilindungi dan dipertahankan jika itu membunuh manusia lain. Tradisi sebagai hal yang dinamis dan tentunya memiliki tujuan untuk kedamaian dan rasa aman. Identitas yang memerdekakan.

Yang menjadi penting adalah perlu pendidikan akan penyadaran secara utuh oleh setiap kalangan baik laki-laki dan perempuan. Pola pikir yang dibangun dari lingkungan baik keluarga, sekolah, organisasi ataupun institusi lainya. Perlu saling melindungi baik perempuan dan laki-laki agar setara bukan hanya narasi tanpa makna. Untuk setara dan menerima keadilan maka kita perlu menelenjangi ketidakadilan dan ketakutan itu sendiri. Jika tercapai hal tersebut aturan dan hukum yang diperjuangan akan terasa bermanfaat secara menyeluruh kepada perempuan yang masih terbelenggu dalam budaya patriarki dan kekerasan.

Baca juga : Gerakan Mahasiswa Dan Tagar Para Netizen

2 thoughts on “PEREMPUAN SEBAGAI MANGSA TRADISI KAWIN TANGKAP

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: