• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
PEREMPUAN YANG DIPELACURKAN

PEREMPUAN YANG DIPELACURKAN

Sejak  memasuki era revolusi pertanian, dapat terlihat dengan sangat jelas bahwa kedudukan laki-laki selalu baik dan  layak dibandingkan perempuan. Laki-laki dengan maskulinitas sebagai hasil dari konstruksi sosial, mencipta indikator bagi laki-laki yang berujung memperoleh hak kekuasaan penuh dalam kehidupan.  Lingkungan patriarki berkelana dalam kekuasaan dan kebebasan tanpa batas.  Layaknya terlahir sebagai seorang laki-laki adalah berkat, dan perempuan adalah kesalahan. Siapa yang berani menantang lingkaran setan masyarakat yang dinamakan patriarki hari ini?

Sejauh perjuangan yang telah perempuan lakukan bertahun-tahun secara konsisten, menjadi bentuk penolakan terhadap sistem patriarki yang ada. Dan perlu diakui bahwa lingkaran setan yang telah berakar sangat sulit untuk digembos. Sebagian besar perempuan memiliki kepercayaan  bahwa domestik adalah lingkaran yang ditakdirkan untuk mereka. Perempuan ditanamkan sebuah doktrin yang bersifat mitos serta tak didasarkan pada bukti empiris, sehingga kekerasan akan dianggap sebagai suatu kewajaran  ketika perempuan melakukan kesalahan atau menantang doktrin yang ada.

Perempuan yang hidup dengan penindasan, seakan menikmati atau menerima dengan lapang dada sebagai bentuk kepatuhan dan pengabdian kepada leluhur, orangtua, suami, masyarakat dan tanah air. Ranah sumur, kasur dan dapur adalah lingkaran yang dimaksud untuk menjegal perempuan akan pengenalan dunia dan isinya. Aturan yang dibuat selalu saja menyudutkan perempuan dengan alasan melindungi harkat dan martabat mereka, namun sebenarnya merenggut perempuan dan martabatnya. Entah martabat khusus apa yang masyarakat percayai sehingga sampai ada pelabelan kepada perempuan. Pelabelan yang merujuk pada kepemilikan seseorang. Bukankah itu penipuan ?

Katakanlah pada seorang perempuan yang dalam kehidupan berbudaya dan berbangsa disebut pelacur. Pelacur selalu didenotasikan sebagai perempuan yang menjual diri atau melanggengkan seksual tanpa disahkan melalui pernikahan dan hukum adat. Perempuan pelacur tidak akan memiliki nilai yang baik dimata masyarakat. Perempuan yang mendapatkan label ini, cenderug akan dijauhi dalam lingkungan, sebagai wadah bully semua orang dan terhitung cacat secara kehidupan.

Perempuan yang bersentuhan dengan lawan jenis tanpa melewati fase pernikahan, tidak layak dianggap sebagai kebaikan dan perlu disingkirkan dari masyarakat agar generasi muda tidak dipengaruhinya. Kira-kira itulah doktrin yang sering terucap kepada para pelacur. Diskriminasi selalu menyerang pelacur sehingga mereka sendiri dikerdilkan sebagai seorang manusia. Mungkin inilah yang dunia maksud bahwa memanusiakan manusia adalah dengan membunuh manusia itu sendiri.

Pemahaman perempuan dan pelacur secara horisontal melihat bahwa hal tersebut adalah tindakan melecehkan martabat dan harga diri seorang perempuan. Sungguh betapa perhatiannya masyarakat dan lingkaran patriarki itu kepada perempuan sehingga masyarakat dan dunia juga menutup mata untuk melihat secara rasional tentang perempuan pelacur. 

Menurut penulis, pelacur hanyalah nama yang dilabelkan untuk sebuah profesi dalam pekerjaan. Sama halnya dengan menjadi manager, direktur, jurnalis dan pengusaha yang memiliki tugas pokok dan strateginya tersendiri. Begitu pula Perempuan yang menjadi pelacur memiliki alasan yang berbeda-beda. Dengan berkembangnya dunia dan teknologi dan tentunya biaya hidup semakin rumit. Tentunya secara realita kita paham bahwa mandiri dan kerja keras untuk dihidup harus dilakukan.

Alasan menjadi pelacur jika dilihat dalam ranah kebutuhan, bahwa dalam memenuhi kebutuhan secara ekonomi dan memenuhi tingginya biaya pendidikan, maka memaksa perempuan untuk mengambil profesi menjadi pelacur ketika sebagai ladang pekerjaan dan solusi. Dan juga alasan karena psikologi, baik dilihat ketika seseorang mendapatkan tekanan karena lingkungan sekitar hingga merasa stress, kemudian mencari obat penenang yang berujung menjadi pelacur. Hal lainnya karena penyakit, artinya seseorang yang telah menjadi candu dalam melakukan seksual baik yang sudah sah menikah atau sebaliknya, memilih untuk menjadi pelacur demi kesembuhan. Alasannya bukan hanya untuk mendapatkan uang, kemewahan, kesenangan dan menjajankan diri secara gratis. Masyarakat menyudutkan profesi yang secara pelacur karena dinilai melanggar nilai kebudayaan dan harkat seorang perempuan.

 Menjadi pelacur bukanlah sebuah kesalahan. Hal ini sebagai pekerjaan agar manusia  (perempuan) bisa hidup. Pengucilan terhadap pelacur adalah sebuah bentuk pembunuhan karakter manusia dan peradaban. Seakan dunia mempertanyakan sah tidak hubungan seksualnya seseorang. Apa hubungannya dunia dengan privasi ( seksual) seseorang. Ketika dikaitkan dengan melakukan hubungan seksual yang tidak sah dan menjual diri,  Lalu apa bedanya dengan mereka yang sudah menikah secara sah, bukankah itu merupakan hal yang sama. Penjualan diri dan berujung pada seksual.

Ditengah kurangnya lapangan pekerjaan dan minimnya sumber daya manusia menjadi indikator bahwa menjadi pelacur adalah pilihan. Namun menjadi pelacur bukan hanya tentang melakukan seksual, pekerjaan atau memuaskan berahi dengan lawan jenis atau sejenisnya secara tidak sah dimata masyarakat dan agama, tetapi bagaimana seseorang manusia dapat bertahan hidup ditengah kerumitan dunia, merdekanya kapitalisme dan aturan budaya yang masih terbelit. Pelacur terus berjuang melawan ribuan sistem, cemoohan yang selalu menghujat.

Setiap perempuan tentunya harus memahami bahwa doktrin terhadap pelacur sungguh menjegal perjuangan perempuan beserta hak-haknya. Doktrin yang terselubung dalam patriarki pada arti sebenarnya adalah untuk mengikat perempuan, agar menjadi milik seseorang atau merampok tubuh perempuan secara tragis tanpa disadari oleh perempuan sendiri. Pelacur adalah manusia yang merdeka dan bebas. Menjadi pelacur bukan berarti kosong dan tiada ilmu. Lebih baik menjadi pelacur yang dapat merdeka dalam pemikiran dan tindakan daripada menjadi perempuan seperti emas (terpenjara, terbungkus dan dibeli).

Oleh : (/E.V)

1 thought on “PEREMPUAN YANG DIPELACURKAN

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: