• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Perubahan Peradaban Akibat Wabah

Perubahan Peradaban Akibat Wabah

Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

Dunia hari ini sedang mengalami krisis kesehatan serta krisis ekonomi akibat wabah Coronavirus atau dalam bahasa medis Covid-19. Sejak ditemukan di Wuhan, China Coronavirus sudah memakan ribuan korban jiwa. Berdasarkan data kompas.com terdapat 785.797 kasus diseluruh dunia per pukul 11.29 WIB. Dengan kalkulasi kematian yang mencapai 37.818 jiwa, 165.659 sembuh dan 785.797 positif terpapar Coronavirus. Yang tersebar di 200 Negara. Wabah ini menjadi ancaman serius bagi jalannya peradaban, sistem ekonomi dan sistem pemerintahan dunia. Di Indonesia sendiri, kasus covid 19 sudah mencapai angka 1.414 kasus terkonfirmasi, dengan kesembuhan 75 jiwa dan kematian 122 jiwa (covid19.go.id). Wabah Coronavirus ini menjadi salah satu sejarah baru tentang peperangan manusia melawan virus.

Dampak Covid-19 bukan hanya pada kesehatan manusia, tetapi juga menyangkut masalah ekonomi, peradaban dan pemerintahan. Sejak Indonesia terpapar dengan wabah ini, Indonesia mengalami penurunan mata uang terhadap dollar. Nilai 1 US dollar saat ini setara dengan Rp. 16.369,50,- yang sebelumnya pada posisi Rp.13.250,-. Sungguh sangat menakjubkan. Dengan kata lain covid 19 dapat merubah suatu negara bahkan dunia masuk dalam puing-puing krisis global bahan revolusi sistem pemerintahan. Bagaimana bisa? Mari kita ulas wabah yang sebelumnya sudah terjadi di Dunia dan mengubah jalannya sebuah peradaban dan sistem pemerintahan.

BLACK DEATH (PES)

Wabah black death merupakan sebuah penyakit yang pernah terjadi di sebagian wilayah Eropa pada tahun 1400 yang menelan korban sebanyak 25 juta jiwa. Kondisi wabah black death pada tahun tersebut merambat pada sistem sosial dan diskriminasi terhadap orang-orang kelas bawah dan pendatang. Menurunnya sosialisasi masyarakat pada saat wabah itu terjadi menjadikan orang-orang miskin dan pendatang dibunuh, dibiarkan mati bergelimpangan tanpa ada satu orangpun yang menolong. Dengan alasan mengurangi penyebaran wabah PES pada bulan agustus tahun 1349, komunitas Yahudi di Mainz dan Cologne dimusnahkan, pada bulan februari sebelumnya sekitar 2000 penduduk Yahudi di Strasbourg dibunuh dengan dalil yang sama.[1]  Sejak saat itu perubahan norma sosial terjadi, sesama warga  negara saling mengasingkan karena ketakutan yang terjadi dan menjadi individualis. Kesengsaraan menghampiri masyarakat dengan kelas ekonomi bawah dan menengah. Ribuan orang sakit dan meninggal. Wabah tersebut meninggalkan luka diskriminasi rasial dan menurunkan kepercayaan publik pada agama dan pemerintahan. Sedangkan klaster ekonomi atas bisa menikmati kesehatan dan terhindar dari penyakit.

FLU SPANYOL

            Pada tahun 1918 sebuah epidemi ini juga memporakporandakan dunia. Epidemi ini membunuh sekitar 21 juta jiwa menurut John Barry atau 50-100 juta jiwa menurut Niel Jhonson dan Juergen Mueller. Tidak ada angka pasti tentang kematian akibat wabah ini. Akan tetapi wabah ini mempengaruhi stabilitas sosial dan mendiskreditkan kelompok kelas kedua dalam masyarakat. Wabah ini masuk ke Indonesia diduga masuk melalui jalur laut yang pertama kali dibawa oleh penumpang dari malasya dan singapura. Laporan BGD tahun 1920 menyebutkan, “Seloeroeh desa di Hindia Olanda hampir tidak ada jang tidak terinfeksi oleh penjakit flu.” Akibatnya, menurut laporan itu, “Pintu rumah tertutup. Jalan-jalan begitu lengang. Anak-anak menangis di dalam rumah karena merasa lapar dan haus. Banyak binatang bahkan meninggal kelaparan. Hari-hari tersebut sangat penuh dengan kesengsaraan.”[2]. Kembali lagi seperti wabah black death, masyarakat semakin menjadi individual dan memikrkan diri sendiri sehingga terjadi chaos karena sumber daya yang tidak tersedia. Dua jenis pendemik diatas merupakan penyakit yang menular ganas yang menyebabkan kematian dan berpengaruh pada sistem kekuasaan. Kita perlu belajar dari wabah sebelum Coronavirus hari ini. Bahwa setiap wabah harus ditaklukan bersama sama dengan melibatkan masyarakat.

            Wabah covid  19 yang dialami dunia hari ini bisa menjadi titik balik peradaban post modern menuju peradaban Artificial Intelegent (AI) yang digunakan sebagai alat kehidupan sehari-hari. Kita bisa memperhatikan bagaimana memutus rantai virus ini harus dengan kebijakan stay at home, Work From Home (WFH) dan kegiatan kegiatan harus melalui online. Hal ini menjadi sebuah terobosan baru dalam kehidupan manusia. Akibat dari Covid 19 kita harus bekerja dari rumah dan menggunakan sistem online dalam setiap kegiatan. Seperti dilansir Yuval Noah Harari dalam tulisannya “Dunia setelah virus korona” dicatatkan demi menghentkan epidemik, seluruh penduduk harus patuh terhadap panduan tertentu. Ada 2 metode panduan yang bisa dilakukan. Metode pertama adalah pemerintah harus memantau seluruh manusia dengan sistem teknologi (chip panas tubuh) dan peraturan lockdown dan/atau darurat sipil. Seperti kita ketahui bahwa metode pertama dilakukan pemerintahan Indonesia dengan menggunakan darurat sipil. selain itu ada metode kedua yang seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah, yaitu dengan bekerjasama dan membangun solidaritas global untuk memutuskan mata rantai epidemik Covid-19.

            Covid 19 akan meninggalkan sebuah sistem pemantauan online bagi seluruh masyarakat dunia dengan dalih menjaga kesehatan masyarakat. Tetapi penggunan Artificial Intelegent (AI) dalam memantau masyarakat bisa menjadi boomerang untuk mengatur kehidupan manusia. Manusia menjadi robot yang dapat di control melalui pusat control manusia. Hal ni mungkin terjadi sebagaimana wabah Black death, Flu Merseile, Flu Spanyol meninggalkan kebencian kelas terhadap kelompok miskin. Tanpa kita sadari, kelompok kelas ekonomi menengah kebawah di dunia sedang dalam bahaya, sedangkan kelas ekonomi ke atas bisa dengan mudah memperoleh obat dan tenaga medis untuk menghalau virus ini (walaupun antivirusnya belum ditemukan) sudah bisa dipastikan yang pertama kali akan mengalami kesembuhan adalah mereka yang memiliki ekonomi keluarga yang kuat. Masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah hanya bisa pasrah pada kematian.

            Agenda lain yang bisa memperngaruhi moral adalah sosial distancing yang mengarah pada penggunaan sistem online, maka individualisme semakin meningkat, penggunaan mata uang aan berubah menjadi sistem e-money, persidangan di pengadilan dilakukan melalui meja rumah, pengurusan izin dilakukan online, pembelian bahan pokok dengan sistem online, bahkan hal hal privatpun akan dilakukan dengan online, sehingga tidak ada lagi masyarakat sosial yang nyata. Wabah ini bisa memperkosa ruang publik dan kehangatan sosial. Tidak ada tolong menolong dan merubah sistem moral peradaban dunia. Wabah covid -19 akan meninggakan 2 jenis peradaban berdasarkan kelas ekonomi. Yang pertama peradaban kelas atas yang steril dan dipisahkan dari peradaban kelas dua. Mereka kaum borjuasi akan membangun sebuah imperium yang sehat dengan tembok pemisah dan memisahkan diri dari kaum miskin dan kelas dua masyarakat.

            Ketika masyarakat dan kelompok ekonomi kelas bawah ingin memasuki dunia imperium kelompok kelas atas, maka harus melalui tes suhu tubuh, test kesehatan dan membayar biaya akses masuk, sehingga terjadi pemisahan kelas ekonomi berdasarkan kesehatan dan sterilisasi. Kita akan hidup seperti dalam film resident evil, masyarakat yang terinfeksi tidak bisa masuk ke lingkup masyarakat yang tidak terinfeksi sampai kematiannya. Sedangkan seharusnya masyarakat yang tidak terinfeksilah yang mengobati masyarakat yang terinfeksi.

_Sebelum ruang kebersamaan kita di renggut, mari kita memutus rantai epidemic dengan solidaritas global._


[1] Wikipedia “Black death”

2 https://historia.id/sains/articles/seabad-flu-spanyol-DBKbm di akses 31 maret 2020

1 thought on “Perubahan Peradaban Akibat Wabah

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: