• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Problematika Teknologi Dalam Proses Persidangan Online

Problematika Teknologi Dalam Proses Persidangan Online

Era baru telah dimulai. Abad 20 dan kemajuan zaman yang kian melesat dengan penggunaan teknologi. Hal ini memaksa manusia untuk masuk dalam sebuah tatanan baru yang bernama teknologi. Sebagaimana tujuan awal teknologi adalah mempercepat kinerja dan mempermudah pekerjaan. Tetapi apakah kita pernah membayangkan bagaimana teknologi berkembang menjadi sebuah kemunduran hati nurani manusia? terutama dalam sistem hukum yang sebenarnya belum mampu untuk mengikuti perkembangan teknologi.

Dalam kehidupan bernegara, tentu hukum adalah hal ihwal yang wajib dimiliki, dengan tujuan untuk melakukan kontrol sosial dan mempertahankan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam era perkembangan teknologi saat ini, apakah penerapan teknologi sudah relevan dalam dunia hukum, khususnya dalam persidangan?

Baca juga : Terjadinya Diskriminasi Karena Hukum

Mengutip dari beberapa persidangan yang pernah terjadi berdasarkan pengalaman penulis, terutama dalam perkara pidana, penerapan teknologi masih jauh dari harapan mempermudah proses. Hal tersebut terlihat dari bagaimana proses berjalannya persidangan pidana melalui media online seperti “Zoom Meeting”.

Dalam proses persidangan yang dilakukan dengan Zoom meeting sangat bertentangan dengan tujuan hukum itu sendiri. Bagaimana tidak, seorang tersangka/terdakwa diperiksa melalui media online yang dalam penerapannya seolah-olah seperti sedang melakukan panggilan video dengan sanak saudara. Ditemukan sebuah problem untuk mempelajari psikologis seseorang apabila dilakukan melalui media online. Selain itu, memutus seseorang bersalah atau tidak melalui sebuah media sosial, merupakan sesuatu hal yang sepele tanpa mempelajari bagaimana psikologis pelaku tindak pidana. Belum lagi permasalahan perangkat yang digunakan dalam bersidang tidak memadai. Menentukan nasib seseorang bersalah atau tidak dalam sebuah persidangan cenderung sangat tidak adil, karena majelis hakim sang pemutus tidak akan menginsyafi dan tidak bisa merasakan penderitaan terdakwa selama melakukan proses persidangan.

Apakah relevan menggunakan teknologi dalam memutus sebuah perkara hukum? sangat tidak relevan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kenapa penulis berpendapat bahwa proses persidangan tidak relevan dengan media online seperti Zoom meeting yaitu :

  • Interaksi langsung antara hakim, jaksa, saksi, pengacara dengan terdakwa sangat minim, sehingga dapat mengurangi ruang emosional hakim dalam memeriksa, mengadili dan memutus sebuah perkara pidana. Begitu juga dengan jaksa dalam melakukan proses dakwaan yang hanya membaca lewat media online, emosional penegakan hukumnya tidak lagi melibatkan hati nurani, namun hanya sebatas gugur kewajban. Di sisi lain, pengacara dalam pembelaannya tidak memahami situasi langsung yang sedang dialami oleh kliennya, sehingga tidak maksimal dalam melakukan pembelaan, belum lagi permasalahan sarana/perangkat sidang yang tidak memadai.
  • Marwah persidangan yang tidak lagi sakral. Dalam persidangan yang dilakukan secara daring/online sangat terlihat tidak adanya kesakralan persidangan, hal tersebut dikarenakan pada saat proses persidangan, hakim tidak dapat mengawasi secara langsung tindakan yang dilakukan oleh jaksa, pengacara bahkan terdakwa.

Baca juga : Tulisan Sultan Hermanto lainnya

Dua hal tersebut menjadi dilema dalam proses penanganan perkara pidana dalam keberlangsungan Hukum di Indonesia. Dengan kondisi yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi tersebut, nasib manusia yang sedang terjerat hukum menjadi sangat disepelekan dan tidak dipertimbangkan dengan matang. Sebagai masyarakat yang memiliki berbagai macam profesi, mari kita saling melakukan evaluasi apakah penggunaan tehnologi secara menyeluruh mempermudah pekerjaan kita atau justru menghilangkan nilai-nilai filosofi profesi itu sendiri.

Penulis : Sultan Hermanto Sihombing

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun