• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Pseudosains Dari Komisioner KPAI Adalah Buah Dari Pendidikan Indonesia

Pseudosains Dari Komisioner KPAI Adalah Buah Dari Pendidikan Indonesia

Oleh : Honing Alvianto Bana

Banyak orang terkaget-kaget, ketika mendengar steatmen Sitti Hikmawaty yang merupakan salah satu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Beliau mengatakan bahwa mandi bersama lawan jenis bisa mengakibatkan kehamilan.

Pernyataan-pernyataan konyol seperti ini sejujurnya bukan sekali dua kali diucapkan oleh para pemimpin lembaga atau pejabat negara kita.

Beberapa bulan lalu, saat terjadi keracunan masal di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), salah seorang anggota DPRD justru mengatakan bahwa keracunan itu terjadi karena masyarakat kurang mengkomsumsi air putih. Membaca pernyataan tersebut sentak membuat saya mengkerutkan dahi. Sungguh, sebuah pernyataan yang sangat menyedihkan dari seorang anggota DPRD yang tidak bertumpu pada dasar atau bukti ilmiah.

Fenomena seperti ini seakan marak dalam beberapa dekade belakangan ini. Selain pernyataan dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kita juga mengenal teori bumi datar, Indonesia adalah jelmaan atlantis, Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman dan lain-lain. Fenomena semacam ini biasa dikenal dengan Pseudosains. Pseudosains, menurut Kamus Merriam-Webster, adalah sistem teori, asumsi, dan metode yang secara keliru dianggap ilmiah.

Jadi pseudosains adalah sebuah pengetahuan, praktek, medologi, pengetahuan, informasi yang seolah-olah ilmiah, akan tetapi tidak mengikuti metode ilmiah dan tidak atau belum atau bahkan gagal diuji secara ilmiah.

Dengan melihat fenomena pseudosains yang marak dan sering diyakini oleh para pejabat-pejabat publik kita, lantas kita kita bertanya: Apa yang salah dengan bangsa kita?

Jika kita sejenak diam dan memikirkan fenomena ini secara mendalam, justru fenomena seharusnya tidak perlu membuat kita terkaget-kaget. Ini adalah tanda dari keberhasilan pendidikan Indonesia.

Mari coba kita telisik lebih dalam. Pertama, pola mengajar di berbagai institusi pendidikan Indonesia masih banyak yang menggunakan pola kuno, yakni pola otoriter yang menuntut kepatuhan buta dari murid atau pun mahasiswa.

Perbedaan pendapat sering dianggap sebagai simbol ketidaksopanan, dan pertanyaan kritis masih dianggap sebagai kesombongan. Kreativitas pun tak jarang dianggap sebagai tanda sikap tak patuh.

Akhirnya proses belajar mengajar pun menjadi proses satu arah yang menyiksa siswa dan mahasiswa. Bentuk pelarian dari siksaan ini sangat beragam, mulai dari kenakalan remaja, sampai dengan bergabungnya mahasiswa untuk melakukan demonstrasi. Hanya dengan bergabung pada kelompok atau organisasi itulah pendapat mereka bisa didengar atau diterima.

Dua, pendidikan di Indonesia juga dijajah oleh formalisme agama. Agama dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tak boleh dipertanyakan oleh siapa pun. Jika ada yang mempunyai pemahaman yang berbeda dari tafsir-tafsir pada umumnya, maka akan dicap sebagai atheis, liberal dan lain sebagainya.

Akhirnya yang kita temukan adalah ilmu yang sering disebut oleh sebagian orang sebagai ilmu cocoklogi.

Berbagai penemuan ilmiah dipilih dan dicocokan begitu saja dengan ajaran agama. Candi Borobudur adalah bukti peninggalan Nabi Soeleman adalah buah dari formalisme agama semacam ini.

Tiga, pendidikan di Indonesia juga sudah menjadi budak sistem ekonomi kapitalistik. Di dalam sistem ekonomi ini, kompetisi dan standarisasi pendidikan dilihat sebagai sesuatu yang mutlak dan tak bisa dihindari.

Yang tercipta kemudian adalah manusia-manusia tanpa empati dan solidaritas terhadap sesama maupun lingkungannya.

Empat, dunia pendidikan Indonesia juga dilanda tsunami informasi. Begitu banyak hal harus dihafal, dan kemudian dimuntahkan kembali secara harafiah saat ujian.

Pendidikan akhirnya hanya disempitkan menjadi mengulang apa yang dikatakan oleh guru maupun dosen. Pada akhirnya, siswa dan mahasiswa menjadi robot yang patuh, tanpa kemampuan kritis dan kreativitas berpikir.

Padahal sesungguhnya, pendidikan adalah usaha membebaskan diri dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan juga adalah proses penyadaran diri atas situasi lingkungan sekitar, serta mengajak untuk mengambil sikap yang tepat atas berbagai situasi itu.

Dalam arti ini, pendidikan adalah pembentukan proses berpikir manusia untuk secara cerdas dan tepat menanggapi situasi kehidupannya. Pemahaman seperti inilah yang terlupakan dari dunia pendidikan kita.

Cita-cita pendidikan boleh luhur terpajang di berbagai slogan pembangunan nasional dan acara kenegaraan. Namun, kenyataan sehari-harilah yang sungguh berbicara. Dengan pendidikan seperti itu, yang telah berlangsung puluh tahun lalu, maka pseudosains yang kita dengar belakangan ini adalah hasil panen dari pola pendidikan kita. Iya, pseudosains adalah tanda dari keberhasilan sistem pendidikan Indonesia. Salam

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun