• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Peristiwa
PUISI ITU LEBAY?

PUISI ITU LEBAY?

Sastra Puisi dikenal sebagai seni tulis yang di karang dengan menggunakan bahasa yang dapat menambah kualitas estetis pada makna semantis. Tidak bisa dipungkiri, bahwa puisi merupakan curahan hati seseorang yang dapat membawa orang lain masuk ke kedalaman hatinya.

Curhat. Ya, puisi adalah curhatan.

Saya tidak akan mengulas lebih jauh mengenai defenisi puisi dan sastra lainnya, tetapi akan menceritakan bagaimana pandangan orang lain terhadap sastra puisi, khususnya sebagian mahasiswa sebagai terpelajar kebanggaan.

“Puisi itu lebay” adalah kalimat yang berulang kali menjadi menu telingaku saat ini. Yang datangnya dari seorang mahasiswa, terpelajar itu. Entah apa yang membuat mereka harus mengatakan kalimat tersebut, mungkin saja telah tertampar akan makna yang tersirat dalam puisi, atau bisa saja tidak mampu memaknai isi.

Puisi adalah curhatan. Mungkin itu yang mendasari kata “lebay” yang sempat bergentayangan dalam dirinya.  

Kala itu saya berhasil menerbangkan karya puisi di atas selembar langit kolom coretan di media sosial. Seperti biasa, bercumbu dengan bahasa pengantar yang sedikit estatis. Berlagak seperti penulis yang paling sanggup. Dalam puisi itu berisi curhatan hati akan kondisi yang dialami masyarakat negeriku yang malang. Namun terselang waktu beberapa jam, barisan kolom komentar media itu telah berbaris rapih kata-kata komentar sebagai balasan puisiku. Yang datangnya dari hasil sentuhan jari-jemari mahasiswa, dan juga datang dari orang yang belum sempat saya temui. Bukan hanya puisi itu saja yang dia tinggalkan jejak komentar, tetapi puisi lain yang isinya nada juang.  Coretan itu berbunyi “lebay”.

Menganggap puisi dan sastra lain seperti hal yang lebay. Ya, itulah jawaban kebanyakan mahasiswa yang saya jumpai di kehidupan kampus. Lebay sendiri adalah hal yang berlebihan. Berarti mereka menganggap sastra puisi adalah ada hal yang berlebihan.

Pertanyaannya adalah apakah mahasiswa ketika mengespresikan kemaunnya lewat sastra salah? Tidak tentunya. Karena sastra merupakan sebuah warisan budaya yang terbuka dan bebas untuk semua orang. Bukan hanya itu, sastra juga dapat mempertajam imajinasi dan memperkaya hidup kita dalam makna. Sastra juga dapat menghibur kita melalui bahasa indah dibalut humoris, sedih, bahagia, bahkan tragis. Sastra sejatinya memperkenalkan kita bagaimana kehidupan sekarang yang kita jalani, yang telah digoreskan pengarang dalam makna.

Sastra menjadi wadah mengasah pola pikir. Kenapa bisa mengasah pola pikir? Karena sastra mengajak kita membaca dan menganalisa pemikiran, budaya, gagasan, tradisi penulis, dan menjadi orang yang kritis secara akademis.

Seorang mahasiswa dikenal sebagai orang yang kritis dan akan membawa perubahan dalam lingkup masyarakat.  Perubahan karena pemikiran-pemikirannya yang kritis, wawasan mempuni, serta ide-ide yang akan membangun. Perubahan itu bisa diperoleh dengan melayangkan kritikan dan masukan ke pemerintah melalui sastra puisi. Oleh karena itu, ketika mahasiswa tidak mengenal sastra, maka sudah dipastikan bahwa jalur menyampaikan kritikan terhadap sesuatu lewat tulisan yang penuh ekspresi  dan makna, kurang dan tak enggan hilang.

Di luar negeri sendiri seperti eropa, sangat mendambakan namanya sastra. Seperti kata Magda Peters dalam buku “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer “di Eropa, setinggi-tingginya pendidikan orang, kalau tidak mengenal sastra adalah biadab”.

Kenapa seorang terpelajar Indonesia tidak seperti demikian?  

Seorang terpelajar Indonesia saat ini sibuk mengejar segala yang telah diangkat zamannya. Seperti menampilkan kesenangan hayat dan keindahan dalam dunia maya, sehingga banyak tak bersungguh sungguh ke alam seni tulisan.

Tak bisa dipungkiri bahwa zamannya adalah kelengkapan. Melengkapi kemampuan dengan berbagai guru. Internet sang guru super cepat, elektronik sang guru pemberi kemudahan, dan berbagai macam guru lain yang datangnya sebagai keajaiban. Sehingga tak bercumbu dan berpikiran jauh ke dalam alam seni sastra.

Guru super itu berhasil membuatnya sebagai seorang terpelajar, melupakan keindahan tulisan yang diperkaya makna itu.

Jadi, apakah benar puisi itu lebay?

Penulis : Sigit Allobunga’

2 thoughts on “PUISI ITU LEBAY?

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: