• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Puisi
Puisi-Puisi Karya Abima Fuadi – Pengagum Yang Terjebak Ilusi Masa Lalu

Puisi-Puisi Karya Abima Fuadi – Pengagum Yang Terjebak Ilusi Masa Lalu

Oleh : Abima Fuadi

Ilusi Masa Lalu

Memasuki musim hujan
Musim di mana harapan dan kenangan berlomba untuk saling menjatuhkan.
Membawa ilusi demi ilusi

Di bawah bebatuan luka
Kutemukan dinginnya air mata
Kenangannya masih ada
Sakitnya tak terasa dan kian pudar

Di sudut ruangan bernama kenangan
Kutemukan dirimu dan luka
Keduanya berbeda
Namun sama-sama menyakitkan

Ada rindu yang tak bisa kuterka
seberapa lama ia bersua
dengan bayang-bayang semata
adakah ia menginginkan jua
menata jumpa setelah sekian juta luka?

Kuikuti laju rindu
Yang pergi ke masa lalu
Banyak momen telah kulupa
Tentang kita dan kebersamaan yang pernah ada

Aku sebuah bayang
yang tak berharap jadi nyata
Sedang kau sebuah asa
yang menjadikanku ada
Aku sayang,
tapi kau malang.

Kutarik rasa  ke arahmu,
kau bawa asa kepadanya,
kita bagai segitiga siku-siku,
yang diberi jarak olehnya .

Yang pergi hilang berganti.
Sesekali bolehlah mengoreknya dalam hati.
Tenang, hanya untuk memastikan sudah tak ada alasan ‘tuk dinanti’.

Baca juga : Puisi Ibu Pahlawan Abadi

Sang Pengagum

Di ujung dermaga tua
Berdiri seorang wanita berjilbab jingga
Menunggu senja, menanti bahagia
Ia sadar, malam membawa duka untuknya.

Bersama kesiur angin,
diuraikannya sulur-sulur rindu yang bersemayam di akar jantung perempuan senja,
untuk kekasih pada keheningan malam.

Perempuan malang itu
Tak banyak kata tak banyak bicara
Wajah manisnya menyiratkan luka
Menengadah langit
berharap Tuhan menurunkan serpihan jawaban atas doa doa yang ia lantunkan
dari lubuk sanubari paling dalam.

Masihkah diterima tangis ini
Akankah dipeluk raga ini?
Jika tubuh berlumuran dosa
Bisik sedih wanita penunggu senja.

Ia telah jatuh
Terbenam dalam pada senyum pengulum kagum.
Seperti halnya hujan sore itu;
Netranya meneduhkan.
Namun sayang,
Bukan aku yang kau tatap dalam.

Didalam pandangan yang jauh, aku hanya sanggup mengatakan
Perempuan bermata cinta
termenung dalam duka
dibunuh lara… oleh luka

Akulah kekasihmu
Yang kau sebut intan
Dan kau cari dalam lautan.

Baca juga : Sajak Untuk Kembali

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun