• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
RUMAH YANG RAMAH

RUMAH YANG RAMAH

Adakah tempat berpulang paling  indah selain rumah? Rasanya gumam tak bisa dipendam untuk menjawab tanya ini. Apapun dan bagaimanapun yang engkau alami di rumah adalah leburan suasana yang senantiasa dirindukan. Tentang telatennya seorang ibu, tegasnya seorang ayah rewelnya, seorang adek atau sok benarnya seorang kakak. Dan jadilah kita seonggok daging yang harus patuh. Demikianlah warnanya. Maka tidak ada kerinduan yang layak diingkari selain rindu terhadap rumah.  Tidak adapula duka yang tak tuntas di bilik-bilik rumah, demikian kebahagianpun akan menemukan tempatnya di rumah.

Di rumah sosok ayah membangun rencana untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, ibu mengatur rejeki agar suami dan anaknya dapat makan cukup, serta dari rumah pula anak membangun asa. Beranjak, merangkak, berdiri dan kembali untuk membahagiakan orang rumah.  Wujud rumah adalah dinamika hidup dan kehidupan. Demikian juga dengan istri dan anak-anak. Mereka tak saling melupakan. Jika suasana diatas tidak terjadi maka yang akan terjadi hanyalah ketidakharmonisan dalam tatanan keluarga. Jika semua masih mempertahankan ego maka anak yang akan jadi korbannya. Rumahpun tak lagi menentramkan.

Sebuah refleksi ketika Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Simbuang Mappak (IPPEMSI) menjadi sebuah Rumah, maka mereka yang batinnya telah dipeluk oleh organisasi ini adalah mereka yang menghargai nilai-nilai perjuangan dan proses di IPPEMSI Makassar.

“Lebih baik membangun gubuk dalam dunia nyata dari pada membangun istana dalam khayalan”.  –MARTINUS BIRI KARONDA (Salah satu inisiator IPPEMSI Makassar)

SEBUAH AWAL

Suatu ketika, sekelompok anak muda idealis berziarah mencari eksistensinya terhadap tanah kelahirannya. Ternyata eksistensi itu tidak hilang, juga tak  tenggelam dan hanya  butuh dirangkul. Kemudian ide muncul, lahirlah identitas bersama. Mereka menyebutnya IPPEMSI yang oleh generasinya nama itu tetap  dirawat. Niat awal yang mengilhami lahirnya pencarian identitas tersebut adalah kesadaran terhadap dirinya. Mereka pemuda, pelajar dan mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama. Mengalami nasib yang sama. Sunyi di tanah merdeka. Mereka dituntun ketidakadilan. Oleh mereka niat hadir, cahaya harus di terbitkan. Cita yang begitu mulia. Mereka yang lahir, bermain dan besar dari alam Simbuang-Mappak.  

Rumah ini berdiri diakhir pergolakan mahasiswa di negeri ini yang menentang rezim otoriter untuk mundur dari tahtanya. Jika boleh menduga-duga sel-sel IPPEMSI ada juga yang menjadi bagian dari pergolakan tersebut walaupun bukan tokoh sentral. Semangat revolusioner inilah yang kemudian saya duga menular ke nadi kaum muda dari Simbuang-Mappak untuk melakukan pergerakan demi kebaikan masyarakat dan bumi batu tallu. Pembaharuan berlangsung mengikuti usia IPPEMSI Makassar. Menari dalam bentangan harapan yang tak kunjung digapai. Beragam dimensi perspektif yang hadir menghias rumah ini. Layaknya rumah yang harus menyediakan sajian. IPPEMSI juga demikian tak lupa menyiapkan sajian bagi penghuninya  yakni Ilmu, aksi dan refleksi. IPPEMSI serupa dengan naungan sebuah tempat untuk kembali pulang. Yang melangkah keluar tidak ada yang pasrah, rumah yang dulu di tempatinya luruh dan pupus. Maka yang tinggal wajib menjaga dengan penuh rasa memiliki, setia menghidupi agar jalan-jalan generasi tak hilang. IPPEMSI rumah yang ramah.

Menyoal  20 tahun IPPEMSI Makassar sebagai Organisasi Pengkaderan.

Penjahat dan pemimpin dapat lahir dari rahim yang sama. Pendidikan dan pengkaderan juga demikian, dapat melahirkan keduanya.  IPPEMSI Adalah organisasi yang pada batinnya diletakkan 3 nafas perjuangan diantaranya kekeluargaan, pengkaderan dan kontrol sosial. Ketiganya adalah kehidupan yang harus terawat dalam tarikan nafas IPPEMSI. Lalu IPPEMSI seharusnya bagaimana?

Memahami IPPEMSI tidak cukup dengan sejarah masa lalunya, ia harus menjelma kedalam kebatinan aktifitas kadernya untuk banyak ruang. Mereka manusia-manusia IPPEMSI. Keberadaannya adalah jelmaan dari keberadaan batin IPPEMSI Makassar. Life style.

Siapa yang bertanggung jawab atas nafas ini? Panjang umur dalam konteks pengkaderan adalah dasar atas IPPEMSI menuju panjang perjalanannya. Bagaimanapun keadaannya manusia-manusia yang  batinnya telah dipeluk IPPEMSI harus berani memastikan  bahwa hari ini sudah dan akan senantiasa bergerak dalam konteks keutuhannya sebagai rumah, sekolah serta sebagai sumber dan mitra kritis pemerintah.

Keberadaan IPPEMSI harus tetap baik-baik saja. Konsekuensi buruknya adalah pincang atau bahkan mungkin bubar. Lalu bagaimana kita bertanggung jawab terhadap ini? IPPEMSI pada dasarnya menyediakan ruang internalisasi nilai sejak awal. Manusia terproses dengan regenerasi. Kalau hari ini IPPEMSI adalah pengibaratan sebuah sekolah maka, ruang internalisasi nilai harus massif. Diskusi dan pelatihan-pelatihan pengkaderan penting dilakukan. Ber-IPPEMSI adalah sebuah proses. Ini pertanda bahwa diskursus yang dilakukan IPPEMSI harus senantiasa berorientasi terhadap pengembangan kualitas kader

IPPEMSI Makassar di usia 20 tahun berjalan, telah banyak berkontribusi melahirkan kader-kader hebat Simbuang-Mappak.  Dan banyak yang masih sementara belajar. Tentu merupakan sebuah kebanggaan terhadap pengkaderan IPPEMSI Makassar. Oleh karena itu, usia 20 tahun adalah momen yang tepat untuk mengapresiasi keberlangsungan nafas pengkaderan IPPEMSI dan momen berefleksi untuk perbaikan IPPEMSI Makassar.

Dan Akhirnya,
Selamat berdies natalies 20 tahun untuk IPPEMSI Makassar. Kita memang harus lebih gagah dari yang sudah-sudah dan terutama lebih ganteng dari yang sebelumnya.

NB: Semoga ulasan ini ada baiknya. Kepada senior dan kawan pengurus mohon maaf jika saya lancang menulis tentang IPPEMSI Makassar. Atas apapun itu budaya  saya masih percaya bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa Senior.

Tulisan : Anwar Tandi

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun