• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Puisi
Sajak Untuk Kembali

Sajak Untuk Kembali

Menabur Arti

Suara bising kendaraan di pagi hari

Membangunkan daku dan memori

Teringat raut matahari ramah menyinari

Sejuk menyapaku selamat mengawali

.

Kini aku pergi dan bersua sepi

Ditempat aku dilepaskan mencari arti

Momen itu tak lagi setia menanti

Tetapi kekejaman kota terus mengejarku berlari

.

Sekali-kali pasrah dengan kejamnya udara di tangan polusi

Kejamnya jalan berliku lumpuh di tangan sang besi

Kian meraut keimanan budaya melangkah damai

Dengan air mata dan keringat untuk mimpi

.

Merindukanmu dalam suasana kicauan pleci

Pelukan hangat dalam hijaunya pepohonan

Kampungku yang tak mengenal  Zaman

Tunggu aku hadir menabur arti

(/S.A)

.

Sajak Kerapuhan

Bunyi bunyian lonceng  berderai derai

Sahut menyahut layaknya kicauan burung bernyayi

Sang waktu menunjukkan bulan damai hadir mengiringi

Namun, jarak dan tempat menjadi batas untuk saling menembusi

.

Waktu berguguran tanda usia memasuki senja

Hampir terbenam, separuh indah namun menuju gelap

Kesepian semakin ramai dan menertawakan manusia

Yang sudah bertekuk lutut dengan kebodohan yang menetap

.

Rintik air berjatuhan dari tahtanya

Memperlihatkan keahliannya dalam bulan indah

Manusia menampungi air mata

Mempertontonkan kerinduan gubuk kecil sederhana

.

Pepohonan kembali tersenyum sejuk

Kekeringan menari-nari menunggu air membesuk

Manusia  diperkosa oleh jarak dengan jiwa yang sudah remuk

Sedang cinta sudah menjadi rusuk yang membusuk.

 (/SHS)

1 thought on “Sajak Untuk Kembali

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: