• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Puisi
Sampah Yang Telah Menjadi Harta

Sampah Yang Telah Menjadi Harta

BARA DALAM SURGA
Oleh : Sultan Hermanto Sihombing

Kita adalah bara dalam surga..
Memilah, Memilih untuk menjadi saudara
Kita adalah Jiwa miskin yang merasa kaya
Bercerai karena harta, mempertontonkan sikap serakah

Apakah kita manusia?
Sedangkan harta lebih berharga dari nyawa
Kita berkata “Kita Manusia”
Namun alam kita perkosa agar dapat berkuasa

Kita ibarat jarum dalam selimut
Menusuk mereka yang tidak berdaya
Bahkan kita kalah dari semut
Yang berbagi salam saat jumpa…

Manusiakah kita ini?
Menumpuk harta untuk pribadi
Membangun istana untuk mengebiri
Hak hak si miskin yang ingin berekspresi

Tahukah kita?
Sang kuasa mencipta manusia bukan untuk meraja
Melainkan untuk menjaga…
Tetapi, kita menghina, merusak, membunuh demi kata “KAYA”

Kita bernyawa
Hanya sebatas pigora
Mencumbu keserakahan dunia
Dan bercinta dengan neraka

Kita mahluk beraga
Namun sekedar hiasan
Bersekutu dengan dosa
Mempermainkan agama demi jabatan…

Kita berakal
Hanya untuk memperkosa alam
Berdiri tegap melahap kemanusiaan
Bergandengan tangan menghisap darah pekerja sawah

Kelakar menonton si miskin meregang nyawa
Widji Tukul, Soe Hok Gie, Tan malaka
Merekalah manusia
Munir, Marsinah dan Bimo Anugrah juga Manusia

Apakah beras harus menjadi batu keras
Apakah nyawa harus menjadi tanah
Apakah raga harus menjadi bangkai sisa
Agar kita sadar, “KITA MANUSIA”
Bukan bara dalam Surga

CATATAN SEORANG TUAN
Oleh : Sigit Allobunga’

Puan tak lagi jadi misteri 
Tapi, telah nampak sebagai permaisuri 
Indah sebagai lubang remukan hati lelaki
Anggun atas wajahnya yang berseri-seri.
 
Akhlak anggun ialah dirinya,
Ayu hingga pusaran perjuangannya.
 
Dengan sifat yang mudah menari
Mengantongi setumpuk amarah 
Hingga menjadi musibah,
Bagi yang tak mengindahkan kaumnya.
 
Oh iya, 
Dulu, dia itu tak pandai menari,
Menari menghibur kaumnya.
 
Dulu tak pandai menyanyi,
Menyanyikan lagu perjuangan kaumnya.
 
Hanya pandai menghias diri,
Tapi tidak untuk kehidupan kaumnya. 
Dia hanya debu yang telah terbang tinggi
Bersama awan-awan penutup mentari
 
Kini,
Dunianya telah tinggal dan kembali 
Kehidupan foya berganti istimewa
Menembus cakrawala keangkuhan hati
 
Dia yang telah gigih,
Berdiri memberi diri 
Atas kaumnya yang telah diam sembunyi-sembunyi
Dari lalu-lalangnya nafsu lelaki
 
Kaummu puan, terus dibuntuti.
Karena tampak berseri.
 
Jelas tampak hatimu, puan
Seperti orang kecabaian
Melihat kaummu terperdaya tak melawan
Oleh rayuan pikiran lama rongsokan
 
Terbukti di suatu hari memilih oposisi 
Berdiri menagih janji
Dari jauh mata ini memandangi
Aku terselimuti rasa memuji 
 
Engkau melawan,
Melihat rahim jadi mainan.
Engkau melawan,
Menantang mereka pemburu selangkangan.
 
Kembali aku kagum…
 
Aku yang berdiri di antara manusia itu
Seirama dalam rasa
Rindu mencumbui pemikiranmu.
Mungkinkah engkau memilihku?

2 thoughts on “Sampah Yang Telah Menjadi Harta

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: