• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Sebuah Kajian Perspektif Kristen Bagi Pemuda Untuk Menjadi Pendamai

Sebuah Kajian Perspektif Kristen Bagi Pemuda Untuk Menjadi Pendamai

Pengantar

Suatu hari hiduplah seorang Raja yang sangat bijaksana dan berhikmat. Ketika menjalani kehidupannya raja ini selalu mendapatkan tantangan, dan salah satunya adalah ketika menentukan anak dari perebutan dua ibu. Dua ibu ini merebutkan anak yang masih hidup, karena pada saat itu anak dari kedua ibu ini salah satunya mati. Karena perebutan ini, mereka sampai membutuhkan raja untuk mengambil keputusan. Ibu yang satu, sangat yakin bahwa anak yang hidup itu adalah anaknya, dan satu lagi mengaku sedemikian sama. Dengan hikmat yang dimiliki oleh raja tersebut, ia mengambil pedang dan akan membelah anak itu. Dua respon yang berbeda dalam cerita ini, ibu yang pertama merelakan anak itu diberikan kepada ibu yang kedua, dan ibu yang kedua mengatakan belah saja anak tersebut. Demikian hikmat yang ada, raja itu tidak membelah anak tersebut tetapi memberikan kepada ibu yang pertama. Karena tidak mungkin ada seorang ibu yang rela anaknya mati. Raja ini adalah Salomo, sebuah kutipan narasi dari kitab 1 Raja-raja 3:16-28.

Melihat cerita dari atas betapa pentingnya hikmat dalam hidup ini, terutama dalam menyelesaikan segala masalah, terutama dalam perdamaian. Bisa dibayangkan apabila Raja Salomo tidak mempunyai hikmat yang bijaksana tersebut, maka nyawa anak bayi akan melayang begitu saja karena hanya perdebatan siapa ibu dari anak tersebut. Oleh karena itu, melihat keberbagaian yang ada di Indonesia terutama dalam menjadi pendamai, penting menurut saya sebuah hikmat. Maka dari itu, tulisan ini akan melihat pentingnya hikmat dari perspektif Kristen terutama bagi pemuda untuk menyelesaikan masalah yang ada, baik dalam lingkungan sosial, gereja, ataupun di mana saja.

Hikmat dan Pemuda Sebagai Pendamai

Dunia Perjanjian Lama (baca: Alkitab), ada tiga kitab kesustraan hikmat, Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah. Kata-kata hikmat ini berisi nasihat dari orang yang dituahkan (petuah) dari hakam yaitu orang yang bijak (Ams 22:17) dan orang berhikmat (Ayb 5:13; Pkh 2:14). Hikmat dimediasi sosok berotoritas, sebagai orang yang bijak. Semua suku bangsa mengenal hikmat (sebuah kearifan tradisional) yang diformulasikan dalam bentuk kata bijak, pribahasa dan pepatah. Namun hikmat (bahasa Ibrani hokma) mempunyai arti kepandaian, kearifan, dan kecerdikan yang diasalkan kepada Tuhan sebagai sumber utamanya. Kemahiran yang ada dalam suatu ilmu dan ketrampilan sebagai pengetahuan juga terimplikasi dari hikmat tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya manusia sudah mempunyai hikmat dari Tuhan, tetapi itu semua dibebaskan kepada manusia itu sendiri bagaimana memakai hikmat dalam kehidupan mereka.

Kenyataan yang terjadi pada bangsa Indonesia ini, terutama dalam era milenial tidak pernah terlepas dari tantangan bagi kaum muda itu sendiri, terutama tantangan dalam kebangsaan itu sendiri, ajaran radikalisme yang selalu mencoba masuk untuk menghancurkan sebuah idealisme untuk meruntuhkan dari keberbagaian yang ada di bangsa ini. Oleh karena itu, menurut hemat saya pemuda pada saat ini harus berani keluar untuk menghadapi konflik yang ada, dan harus tetap menjaga nilai leluhur bangsa ini untuk keberbagaian yang ada di dalamnya.

Dalam kuliah umum cara menghadapi konflik di Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta, September 2016, dinyatakan bahwa konflik memiliki dua wajah dalam bahasa China “wei” dan “ji” yang artinya bahaya dan kesempatan. Karena itu konflik bukan hanya merupakan pernyataan benar atau salah, kalah atau menang, melainkan konflik merupakan kesempatan ataupun potensi untuk menumbuhkan kerjasama yang sangat baik dan saling menguntungkan. Dengan ini dapat dinyatakan bahwa konflik merupakan sarana untuk membangun perdamian. Konflik dapat mempunyai dua dampak, negatif dan posotif. Dalam dampak negatif konflik memberi daya dorong pada titik terlemah jika tidak diatasi, dan mempunyai sisi positif untuk membangun kehidupan yang baru yang di dalamnya setiap orang dipanggil untuk membangun sebuah komunitas yang berkualitas. Pernyataanya pada saat ini, apakah pemuda dapat melakukan hal ini dalam kehidupannya? Tentu jawabannya pasti dapat untuk melakukannya. Asalkan pemuda tersebut mengandalkan hikmat kebijaksanaan yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupannya.            

Untuk menutup makalah ini, saya akan menyatakan dalam perspektif nilai Kristen sebagai cara untuk menjadikan sarana perdamaian yang ada. Tentu berbicara nilai Kristen untuk perdamaian tidak terlepas dari nilai dan contoh kehidupan dari Yesus sebagai Anak Allah, yaitu sebuah teladan tentang kasih. Sepanjang perjalanan kehidupan Yesus, ia tidak pernah terlepas dari orang yang menginginkan ia mati karena ia mengaku sebagai Anak Allah dan melakukan perbuatan yang banyak menembus dan melawan segala hukum Yahudi yang ada. Tetapi dalam kehidupannya, Yesus Kristus tidak melakukan perlawanan yang ada, tetapi dengan membalas kasih kepada lingkungan sekitar untuk menjadikan perdamaian di dalam hidupnya. Singkatnya, untuk memberikan perdamaian yang ada, Dia merelakan kehidupan dan kematiannya untuk menebus segala dosa kita dan demi mencegah pertumpahan darah. Antara pengikutnya dan lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, melihat berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia ini, cara efektif menurut hemat saya dalam mencegah dan menjadikan perdamaian yang ada di Indonesia ini, perlu diterapkan kasih antar umat beragama. Kasih untuk melihat bahwa perbedaan yang ada bukanlah sebagai ancaman dalam bangsa ini, melainkan sebagai sebuah keberagaman yang menjadikan kuat dan utuh bangsa dan negara ini, Indonesia Raya.

Oleh : Alfonso Jaya

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun