• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Semua Karena Catur | Berawal Dari Kekalahan Dewa Kipas

Semua Karena Catur | Berawal Dari Kekalahan Dewa Kipas

Belakangan ini, Indonesia dihebohkan oleh permainan catur. Kehebohan ini diawali dengan “Dewa Kipas” akun nama dalam aplikasi catur (Chess.com) yang dimiliki oleh Bapak Dadang Subur yang mengalahkan “Gotham Chess” akun milik Levy Rozman pecatur Amerika. Kekalahan akun Gotham Chess mengisyaratkan bahwa Dewa Kipas memakai “engine” dalam permainan catur di Chess.com tersebut.

Hal ini sudah diklarifikasi dalam podcast Om Deddy Corbuzier yang dapat kita lihat sendiri di sana, yang pada akhirnya menemukan jalan tengah, yaitu pada Senin 22 Maret 2021, pukul 15.00 yang menjadikan pertandingan persahabatan antara Dewa Kipas atau Bapak Dadang Subur dengan Grand Master Catur Wanita Pertama Indonesia Ibu Irene Kusnandar.

Ohya, saya menulis ini bukan ingin menghebohkan berita yang beredar hangat di Indonesia pada saat ini. Akan tetapi, akan mengambil point penting dalam permainan catur yang dapat direfleksikan dalam hidup, khususnya bagi saya orang Kristen yang sekalian menunggu hari Paskah. Ada dua point besar.

Point pertama, bermain dengan starategi. Bermain catur bukan hanya olahraga yang enak, karena dilihat hanya duduk dan memindah-mindahkan bidak dalam papan, melainkan permainan yang mengasah otak, ketenangan, ketajaman strategi, kesabaran, dan analisa yang penuh fokus. Apabila hal ini diabaikan, tentu saja kekalahan akan menjadi buahnya. Begitupun juga kita dalam hidup, mempersiapkan startegi itu penting, skala prioritas harus diutamakan terlebih dahulu. Bukan berarti kita hidup tidak ada yang dikejar, itu salah besar! Hidup ini selalu punya tujuan, mau menang atau kalah? Berdiri untuk bangkit, atau diam untuk tertindas?

Baca juga : Kemerdekaan Yang Membebaskan

Kedua, tidak ada pengorbanan yang gratis. Permainan catur tidak akan pernah lepas dengan namanya pengorbanan. Sepengetahuan saya, pecatur paling hebat dengan pengorbanan adalah Mikhail Tal, pecatur Latvia berdarah Yahudi. Permainan Sang Legenda ini sangat memukau, dia mengajarkan bahwa tidak ada pengorbanan yang gratis, semua ada bayarannya, yaitu kekalahan. Walaupun tidak sepenuhnya pengorbanan beliau selalu menghasilkan kemenangan. Begitupun kehidupan ini, terkadang kita berpikir bahwa kita berkorban tidak mendapatkan hasil atau sia-sia, itu salah besar! Pengorbanan kita itu pasti memiliki hasil, walaupun terkadang hasil itu sendiri kita tidak tahu langsung instant atau punya proses. Sabar kawan.

Begitupun pengorbanan Sang Juru Slamat, Yesus Kristus yang mati di kayu Salib, pada Jumat Agung yang akan kita ingat dan kita lakukan ritus Perjamuan Kudus, 2 April 2021 nanti. Dan akan bangkit tiga hari kemudian. Pengorbanan ini bukanlah pengorbanan yang sia-sia, melainkan ada misi yang dituju untuk menyelamatkan umat manusia dari kemelut dosa. Jadi, maukah kita berkorban?

Baca Juga : Tulisan Alfonso Lainnya

Penulis : Alfonso Jaya

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun