Peristiwa

Sepenggal Pengalaman Sebagai Relawan Di Lokasi Gempa Mamuju, Sulawesi Barat

Pengalaman relawan kemanusiaan

Pergantian tahun ke 2021 di Indonesia memiliki suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada skala dunia oleh pandemi virus corona, sedangkan Indonesia ditambah dengan musibah yang menghayat hati, seperti jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182, banjir Kalimantan, longsor Sumedang hingga gempa bumi.

Musibah yang terjadi tidak hanya menimbulkan kesedihan yang mendalam, namun juga membangkitkan semangat persaudaraan sesama manusia yang ditunjukan dengan sikap gotong royong. Hampir semua daerah di Indonesia ada aksi penggalangan dana untuk para korban bencana alam tersebut dan memberi diri untuk menjadi tim relawan.

Baca juga : Tentang Peter A Rohi Pada Buku Jurnalis Pejuang, Pejuang Jurnalis

Kebahagian di mata para relawan kemanusiaan bukan tentang materi melainkan senyuman korban bencana. Para relawan merasa bahagia ketika melihat korban bencana tersenyum. Menjadi relawan adalah pekerjaan yang mulia sehingga pengalaman-pengalaman lapangannya sangat cocok untuk dibagikan. Yang akan saya bagikan adalah pengalaman seorang relawan kemanusiaan bernama Herman.

Melihat korban berjatuhan akibat gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat dalam berita di media, Herman merasa terpanggil untuk membantu mereka. Meskipun telah memiliki kerinduan untuk berpartisipasi membantu korban gempa, Herman tidak langsung menuju lokasi karena harus menuntaskan Ujian Akhir Semester (UAS) kampus di Surabaya yang sedang berlangsung. Tak cukup menunggu begitu saja hingga ujian selesai, dia mulai memanfaatkan media sosial untuk mengajak teman-temannya untuk berdonasi.

Sehari setelah ujian selesai, Herman langsung menuju Makassar dengan pesawat. Uang yang digunakan untuk membeli tiket pesawat merupakan uang makan selama sebulan yang biasa dia terima setiap awal bulan dari orang tuanya. Begitu sampai di Makassar, Herman dibantu temannya membeli logistik untuk para korban dengan menggunakan uang hasil donasi dari teman-temannya yang ada di Surabaya.

Baca juga : Malaikat Tak Bersayap | Puisi

Keesokan harinya, perjalanan pun dimulai dari Makassar ke lokasi gempa tepatnya di Tapalang, Mamuju, Sulawesi Barat. Dia merasa bersyukur karena transportasi yang ditumpanginya berjalan dengan baik dan sampai dengan selamat, meskipun beberapa kali harus eksra hati-hati melewati jalan yang retak dan longsor akibat gempa.  

Sesampainya di Tapalang, jiwa dan hatinya rapuh seketika hingga air matanya harus menetes melihat puing-puing rumah korban yang rata dengan tanah. Dia juga melihat beberapa rumah warga lainnya yang masih bertahan namun tak layak huni. “Aku sedih melihatnya, namun harus tegar demi sesama” katanya. Di ujung sana, telah berderet posko pengungsian korban gempa yang beratapkan terpal berwarna biru. Dalam posko itu dia menyaksikan kesedihan yang mendalam dari korban gempa yang akan berhenti entah sampai kapan. Herman memutuskan untuk beristirahat selama sehari sembari mempersiapkan segala sesuatunya yang akan digunakan keesokan harinya.

Mendengar kabar bahwa sebuah desa yang terisolir bernama Ulutaan kekurangan makanan dan membutuhkan bantuan, dia langsung menawarkan diri untuk ikut serta dalam misi itu. Herman bergabung dan langsung menuju desa Ulutaan bersama para relawan lainnya. Mereka droping logistik melewati desa Bela dan desa Kopeang. Melewati jalan yang longsor menguras tenaga dan waktu mereka. Di jalan menuju lokasi, mereka sebagai saksi mata atas beberapa penduduk desa Bale yang berjalan menyusuri sungai menuju pengungsian. Mereka membawa harta benda hingga ternak yang masih bisa diselamatkan.

Keesokan harinya Herman kembali turun membantu korban gempa. Kali ini bukan droping logistik tapi pisikososial di posko pengungsian. Dia berharap dengan melakukan pisikososial korban diharapkan bisa benar-benar sembuh dari traumanya dan bisa menjalani kembali kehidupannya sebagaimana sebelum mengalami bencana gempa bumi.

Selain itu, kegiatan yang dilakukan bersama para relawan lain adalah kembali mengantarkan logistik ke shalter taupe dan membersihkan jalur-jalur strategis yang telah tertutup oleh pohon.  

Selain Herman, masih banyak relawan di luar sana yang mungkin lebih baik, lebih hebat dan lebih tulus darinya yang patut mendapat apresiasi dari semua pihak. Semoga mereka, para relawan yang berjuang sendirian atau bersama-sama, adalah jaring pengaman sosial bagi lingkungan sekitarnya. Mereka adalah pahlawan. Salut !.

Penulis : Sigit Allobunga’

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun