• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Sudahkah Kita Menerima Diri?

Sudahkah Kita Menerima Diri?

Oleh : Resky Rannu

Hidup adalah tentang sesama, hidup menuntut kita untuk menemukan komunitas baru, dimana kita harusnya berproses dan berkarya di dalamnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Berbaur dengan orang baru, lingkungan baru dan mengenal sifat-sifat manusia yang baru, adalah hal yang akan kita terima ketika kita memutuskan untuk berkomunitas.

Komunitas adalah bagian dari kehidupan, sebagai wadah dimana kita mampu berinteraksi sebaik mungkin tanpa merugikan siapapun dan menemukan jati diri kita. Namun, memasuki suatu lingkungan yang baru seperti komunitas, bukanlah hal mudah bagi beberapa orang. Rasa takut menyesuaikan diri, rasa takut gagal dalam misi, bahkan rasa takut untuk menjadi diri sendiri yang sebenarnya kadang muncul. Sekali lagi bagi beberapa orang.

Tapi dari alasan itu, yang terburuk jika mengawali sesuatu dengan rasa takut ditolak sebelum mencoba, tidakkah itu bahaya? ini akan menjadi sebuah awal kita tak menerima diri secara utuh.  Karena rasa takut ditolak oleh komunitas dimana kita ingin berkembang, membuat kita pura-pura menjadi orang lain. Alasannya karena selalu melihat segala sisi megahnya dari orang lain. Kita merasa minder ketika melihat orang lain yang lebih duluan menggabungkan diri dan telah berkarya dalam komunitas itu. Mereka telah menunjukan kemampuan yang menurut kita memiliki aurah yang lebih “wow”.  Kita seperti mengubur diri, ingin selalu berusaha menunjukkan sesuatu yang membuat kita bisa dipandang,  tapi membuat batin gelisah. Memendam citra diri kita sendiri bahkan saat belum menunjukkannya. Ini menakutkan. Dalam situasi seperti itu, Kita merasa selalu tertinggal dari orang lain. Walaupun dalam nyatanya kitapun mampu bahkan jauh lebih baik.

Tentu saja bukan salah mereka yang lebih duluan bergabung, bukan juga salah sebuah komunitas, tapi karena memang kita yang tak pernah mencoba dan selalu berharap disanjung ketika melakukan sesuatu.

Kadang saat kita telah memulai dan melakukan kesalahan, kita cenderung menutup diri dan tidak pernah mencoba lagi padahal keinginan mencoba tetap masih ada. Hal ini dikaitkan dengan pandangan orang lain terhadap kesalahan kita. Kita terlalu  memikirkan citra diri di mata orang lain.

Memulai adalah awal yang dapat kita jadikan pedoman sebagai penentu tujuan kita.

Kadang kita nampak di luar jati diri, demi membahagiakan orang lain. Tampil seperti itu akan menjadi luka yang dapat membunuh karakter kita sendiri.  Bagaimana tidak?, terlalu banyak yang diubah, terlalu banyak yang direkayasa, dan memaksa batin untuk menerima dan menyesuaikan walau sebenarnya sangat sulit.

Akankah kita terus terjebak dengan situasi yang ada? Saya rasa tidak. Menerima diri dengan mengetahui apa yang kamu bisa dan apa yang perlu engkau tingkatkan. Terus menggali potensi diri untuk lebih baik dengan rasa berani dan percaya diri tanpa harus menjadi orang lain. Sehingga batin pun terasa nyaman tanpa rasa takut. Komentar dan masukan orang akan menyempurnakan potensi diri.

Kalah start tak akan membuat kita tertinggal, berbagai macam tantangan dengan masing-masing waktunya, lihat kembali lagi pada penerimaan diri di atas sudah saya tuliskan dan cara menghadapinya. Terlebih lagi komunitas bukanlah wadah sebuah perlombaan untuk menunjukan keunggulan diri, tapi sebagai tempat untuk berproses dan saling menerima satu sama lain dan saling bahu-membahu untuk menghasilkan karya.

“Saya harap kita memulainya lalu menghadapinya tanpa membuat batin tersiksa karena kepura-puraan, hingga hasilnya nanti juga bukan pura-pura” hehe ”be yourself, tunjukkan bagian terbaik dari diri Anda sendiri dengan nyaman dan berani”

1 thought on “Sudahkah Kita Menerima Diri?

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: