• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Tahi Dalam Kresek

Tahi Dalam Kresek

Oleh : Herman

 “Ting.. Ting.. Ting” Suara sendok dan piring saling sahut-menyahut ketika kami sedang makan di salah satu warung dekat dari asrama. Saat itu kami sedang mengikuti kegiatan sekolah yang diadakan di Kota. Saya Tomo, dan sahabat karib saya, Juki. Dia yang sering mengisi hari-hariku.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 80 pelajar yang  terdiri dari 40 siswa dan 40 siswi. Ditambah 2 pendamping sebagai tangan kanan pihak sekolah sebut saja pak Darto, yang menjadi guru seni di sekolah kami dan kini di tunjuk menjadi pendamping 40 siswa seminar. Dan ibu Fanhi, Guru Bahasa Indonesia, yang di tunjuk menjadi pendamping 40 siswi seminar.

Kami berangkat ke lokasi kegiatan pada hari libur, jadi urusan tugas sekolah tak menjadi beban. Yang perlu kami  fokuskan hanya pada materi seminar yang akan diterima serta iming-iming liburan yang menyenangkan.

“Juk, Gimana nasi pecelnya enak tidak?” Pertanyaanku mengimbangi suara sendok dan piring yang saling berbenturan.

Juki berhenti menyuap nasi yang tersisa dua suapan. “E nyak bangeet bro, besyok kitya datyang lagyi yah.”. Sambil menyengir dia menjawab, nasi masih menggumpal dalam mulutnya.

“oke siap aman bro” kataku sebelum melangkah membayar nasi yang telah kami santap.

Setelah selesai makan, kami tidak bisa berlama-lama lagi, karena pak Darto menyarankan agar kami kembali sebelum waktu yang telah ditentukan karena akan ada sesi selanjutnya.

Dalam perjalanan pulang, kami tak lupa bercanda dan kejar-kejaran. Setiba di asrama, seketika kami di gemparkan dengan sebuah kejadian, anak-anak berbaris dan aku melihat wajah mereka mulai pucat dan merasa ketakutan. Saya pun tak segan bertanya,

“Bas, ada apa”?  tanyaku kepada Bastian yang ketakutan berdiri paling belakang. Dia belum menjawab, dan saya semakin penasaran apa yang terjadi. Di atas panggung, pak Darto memancarkan wajah garangnya, dengan bu Fanhi di sampingnya.

“Us, ini ada apa sih?” Saya membisik Ustam yang berdiri di depan Bastian.

“Tom, ayo ikut baris” bujuk Juki dengan muka yang juga ketakutan.

Juki juga kemudian lanjut menceritakan dengan suara mendengung kepada saya yang sedang sibuk mencari tau apa yang sedang terjadi. Saya pun bergegas ikut berbaris.

Saat menuju ke barisan yang kosong, terdengar suara yang lebih mendengung dibandingkan suara Juki meneriaki aku, seakan menendang gendang telinga, dan membuat detak jantung ku seperti seakan berhenti.

“Tomo….!!!” teriakan besar itu.

Pikiranku seketika bercampur aduk, ketakutan dan kebingungan. Benar, itu adalah suara pak Darto. Saya kemudian menatap ke arah depan panggung dan menatap wajah pak Darto yang memerah berurat besar, mata seperti menyala, dan rambut gimbal.

“Kesini kamu?” Pak Darto jelas memanggil aku, siapa lagi. Karena dia sudah menyebut nama ku. Detak jantung saya semakin kencang, saya berjalan dengan patah-patah ke depan panggung. “Iy…yah pak, siap, ada apa yah?”  

Di depan panggung, aku melihat sesuatu dipegang oleh Bu Fanhi, dibungkus kresek hitam. Detak nafas ku semakin tak teratur, antara senang akan dapat hadiah bu Fanhi sekantong kresek, ataukah marah dari seorang pak Darto. Seperti hidup sudah di ujung tanduk. Anak-anak sudah tahu, gimana ketika pak Darto marah.

“Jawab dengan jujur, siapa yang semalam tidur telat?” Tanya pak Darto yang dilantunkan jelas kepada kami. Pertanyaan itu kemudian kembali menghidupkan tunas tanya dalam diri, apa yang sedang terjadi?

Saya mengumpulkan segala keberanian dan kekuatan batin untuk mencari tau, dan memberi pertanyaan. “Emang ada apa yah pak?” 

Mata pak Darto memandang saya dengan sanggar, sayapun berusaha mengalihkan pandangannya.

“Siapa yang menaruh kotoran dalam lemari?” Tanya pak Darto dengan muka yang masih sangar tak kunjung normal.

Pertanyaan itu membuat semua mata tertuju pada saya, dan pak Darto. Saya merasa samakin tegang, dan dalam celana terasa di ujung pangkal juga. Jelas, hari ini saya di lempar kedalam situasi yang sulit karena menahan kencing dan menagkis tuduhan pak Darto.

“Saya tidak tau pak” dengan mata berkaca-kaca aku menjawab tuduhan pak Darto.

Pak Darto pun mengambil feses yang sudah terungkap itu, dari genggaman bu Fanhi. Ternyata dia menemukannya dalam lemari saat kami sedang berangkat ke warung, dan semua anak-anak di wawancarai satu persatu. Semua telah dapat giliran ditanya, tinggal saya dan teman saya, Juki. Namun tidak ada yang mengaku.

“oke kalau begitu, tidak ada yang mau ngaku yah?” tanya kembali pak Darto kepada kami.

Saya memandang wajah teman-teman memerah termasuk Juki, dan tak tahan si Bastian ternyata sudah ngompol terlebih dahulu, mungkin karena tekanan dari pak Darto.

Beberapa detik ruangan begitu sunyi, tak ada yang berani mengaku dan kemudian pak Darto menarik kesimpulan sendiri “Kalian saya suruh makan, sebagai hukuman tidak mau jujur” Ya, tahi itu akan kami makan katanya.

 Anak-anak mulai menangis tersedu, dan ada juga yang memperlihatkan raut mempraktekkan kejijikan, namun saya tetap konsisten dalam tingkahku, menahan kencing. Tak lama kemudian pak Darto pun menyuap anak-anak satu persatu, seperti saat memberi pertanyaan tadi, dan tidak ada yang menjawab. Juga tidak ada yang berani menentang.

Saat tiba giliranku di suapin, pikiran ku sangat hancur dan tak tahan, aku juga ikut ngompol. Rasa nasi pecel di warung hilang seketika, tergantikan oleh rasa Feses yang sangat aneh, dan pertama kali aku rasakan dalam hidup.

Kejadian itupun berlalu, kami tak berani melaporkan pada siapapun, karena ancaman dari Pak Darto. Sampai ada dari salah satu kami yang memberanikan diri, Namun pak Darto dan ibu Fanhi tidak diberi hukuman, akan tetapi beberapa dari siswa dipindah sekolah oleh orang tua, termasuk saya dan juki.

Sekolah tempat kita menimba ilmu, belajar jujur, belajar sopan, dan belajar banyak lagi. Lantas bagaimana dengan mereka sebagai pengajar hari ini?

Tentunya setiap pengajar memiliki cara tersendiri dalam mendidik murid atau siswanya. Pengajar dikenal dengan orang yang memiliki intelektual yang dapat diakui. Namun memberikan hukuman dengan memakan feses adalah salah satu bentuk pengerdilan intelektual bagi pengajar ataupun pengasuh.

Pikirku “akankah ditanah airku, hukuman memakan feses diilegalkan atau memang seperti inikah cara tanah air mendidik kami. Karena guru adalah kompas masa depan, lantas inikah cara yang dilakukan guru ku hari ini dalam mendidik kami.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun