• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
TAHUN PALING SAKIT | CERPEN

TAHUN PALING SAKIT | CERPEN

Hari pergantian tahun beberapa saat lalu harusnya menjadi hari yang menggembirakan, tapi benar-benar tidak untukku. Hari yang istimewa telah berubah menjadi hari yang menyedihkan. Bukan ucapan “selamat tahun baru” yang pertama saya dengar, melainkan suara dengan kesedihan yang mendalam. Keluargaku memberitahuku lewat telfon bahwa adekku telah berpulang.

Semua tidak baik-baik saja ketika Dia telah tiada. Sesak di dada, tapi harus menerima kenyataan. Itulah hidup. Semua keinginan melihatnya tetap abadi adalah kata hatiku, tapi tidak pada takdir. Aku sedih dan mulai merenung, hingga teringat pesan Kakek “Jangan selalu mengikuti isi hati kamu yah, Cuk. Hati ini bisa membawa kebaikan juga bisa membawa keburukan, jadi kamu harus berhati-hati”. Kakek pernah mengingatkan sebelumnya bahwa semua akan ada masanya, kematian contohnya.

Baca juga : Nyawa Baru | Sebuah Cerpen Tentang Kekerasan Seksual

Setiap kita akan pergi, entah kemana arahnya. Tak tahu pasti. Ada yang mengatakan kita akan ke surga, apabila kita baik di dunia. Ada juga yang bilang kita akan ke neraka jika kita selalu berbuat jahat dan memiliki banyak dosa. Semua masih menjadi misteri.

1 Januari 2022

Seperti hari-hari sebelumnya, Aku menggunakan sedikit waktu menonton story (Cerita harian) salah satu aplikasi smartphone. Di salah satu story, Aku menemukan adikku berbaring di rumah sakit. Story oleh Dia sendiri, bermaksud meminta doa supaya cepat sembuh.

“Wadduh.. awal tahun udah tumbang nih” aku memulai chatingan dengan candaan. Memang sudah menjadi sifatku yang suka bercanda, apalagi sama orang-orang yang sudah akrab denganku.  

“Iya kak, hehehe”.  Jawabnya setelah selang beberapa menit centang dua biru terlihat di gawaiku.

Aku sempatkan waktu untuk mengabari beberapa keluarga, juga termasuk Mama. Ternyata mereka belum tahu tentang keadaan adik sepupuku saat itu.

Akhirnya sudah banyak yang tahu, berharap semua akan baik-baik saja. Maka kuputuskan untuk ikut bermain futsal bersama teman-teman. Bermain futsal memang sangat menyenangkan, tapi hati selalu terasa gelisah entah mengapa.

Baca juga : Pejamkan Cinta Sejenak | Cerita Pendek Karya Mieche Kakisina

“Kok perasaan saya nggak enak terus yah, ada apa yah?” Saya bercerita dengan seseorang dengan harap bisa membantu menenangkan hati ini. Namun, Dia tidak meneladeni cerita saya yang tak cukup penting ini.

Saya tak menghiraukannya lagi, lalu memilih untuk bermain kembali, “Sepertinya ini akan memberi semangat yang baik buat saya” memberi semangat untuk diri sendiri.

Akhirnya permain futsal telah selesai, dan kami sangat menikmatinya. Bahkan perasaan gelisah tadi telah terobati oleh 2 gol yang kucetak.  Gembira, walaupun posisi skor kami masih kalah jauh.

Setelah sampai kost, kupandangi HP yang telah kutinggal beberapa saat itu. Dan benar, gelisah yang sempat menusuk hati tadi adalah tanda Dia telah telah berpulang.  

“dreetttttt,….” Dering telfon masuk

“Halo, dengan siapa ini?” saya memulai percakapan.

“Halo kak, ini saya, Resti” Resti adalah salah satu sepupu saya. Dia anak dari Kakak Mamaku.

“Oww, iya ada apa, Dek?” saya bertanya lalu mengambil posisi duduk yang baik.

“Tati Kak, meninggal!”

Seketika suasana menjadi sunyi. Pikiran saya seperti lenyap tak berdaya, tak bisa mengeluarkan sekata pun.

“Astaga..” hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku lalu mengakhiri panggilan.

Saya berusaha menahan diri untuk tidak menangis, namun rasa sakitnya juga semakin terasa. Perlahan air mata ini menetes, bercucur hangat di pipi. Aku tak meraung seperti anak kecil demi kenyamanan sekitarku. Berbeda halnya ketika berada di puncak gunung maupun tepi pantai, Aku akan berteriak sekuat tenaga. Ada kesempatan lagi berteriak untuk menggambarkan luka, tapi sudahlah.  Apapun yang saya lakukan juga tak akan ada artinya lagi. Semua sudah terjadi.

Dunia ini akan berakhir, demikian juga hidup kita. Semuanya akan berakhir, sehingga yang terpenting saat ini adalah menggunakan waktu yang tersisa dengan hal-hal yang baik. Selalu ada pengharapan di dalam kesedihan kita, seperti selalu ada pelangi sehabis hujan.

Penulis : Herman

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun