Puisi

Telanjang Tanpa Aksara |Puisi|

Puisi Evendy Bakanuku
 Kawanku 
 Akhir-akhir ini Surabaya diguyur hujan 
 Tetapi tidak membasahi keberadaanku 
 Aku kedinginan, tapi bukan hembusan angin itu pelakunya 
 Dia hanya membiarkan dedaunan pohon belimbing itu 
 Tega mengejekku dengan lambaiannya
 Seolah mengucap perpisahan
  
 Hujan di Surabaya bisa ditebak kapan datangnya 
 Tentu saja setelah awan-awan hitam itu 
 Bercumbu di angkasa menjelang tirai senja menyapa
 Tetapi tidak dengan ketakutan, kekosongan, tangis tanpa isak
 yang berjalan beriringan merepotkan keberadaanku
 Aku takut kawanku, mereka tidak bisa ditebak. 
  
 Dengan sekejap, hujan membasahi lahan kering berdebu 
 Tetapi tidak dengan pikiranku 
 Masih saja kekeringan, tandus
 Tidak ada yang mekar di sana
  
 Sudah ku cari warisan para pujangga
 Sudah ku cari pustaka-pustaka
 Sudah ku baca kitab-kitab para nabi
 Hanya hening panjang, yang ku temui
  
 Dimana aksara-aksara? 
 Dimana kata-kata? 
 Dimana pustaka-pustaka?
 Dimana warisan para pujangga?
 Dimana dirimu yang dulu?
  
 Jangan bergeming 
 Mampirlah kawan lamaku
 Jangan telanjangi pikiranku, 
 Dengan kentalnya kemiskinan tanpa imaji 
 Jangan biarkan pikiranku terpojok 
 Seperti bilik dimana kepalaku  kuletakan, 
 yang mulai usang rapuh disayat oleh waktu. 
  
 Mampirlah kawan lamaku
 Hempaskan ragu yang menumpuk
 Hempaskan rasa yang melapuk
 Hempaskanlah tirani kemiskinan ini
  
 Mampirlah kawan lamaku, Aksara 

Penulis : Evendy Bakanuku

Baca juga : Puisi : Jalan Damai| Sastra

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun