• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Cerpen
Toott Temu Pisah

Toott Temu Pisah

Ketika tebing langit mulai menampakkan cahayanya  yang sedikit keruh di atas ketinggian, suara terdengar jelas di atas meja tempatku biasa membaca dan merangkai kata. toott..toott…toot..toot.. (nada dering panggilan masuk).

“Brow, di mana? Ayo ngopi!” Katanya memulai percakapan. Kudengar jelas hembusan nafasnya yang tidak tenang seakan ada masalah.

“Di mana?” tanyaku

“Tempat biasa” Dan kudengar dia menghela nafas sekali lagi.

“Ok. Sampai jumpa disana.” Kataku lagi kemudian kututup telfonku.

Tidak langsung menuju ke sana, aku sempatkan waktu bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah terjadi? apakah sahabatku ada masalah? atau karena sudah tidak berdaya lagi tanpa rokok dan uang makan hari ini ? Mungkin, pikirku.

Aku telah sampai di sana. Tiba-tiba pertanyaan menghampiriku dengan suara tak halus tersirat makna kecewa.

“Saut, kenapa lama sekali? aku menunggumu sudah hampir 1 jam.” Dia bertanya sambil menggaruk-garuk kepala seakan kutu di sela-sela rambutnya telah memberontak.

“Ha? Jangan salah, perjalanan 10 menit aja brow” jawabku

“Kamu kok serius sekali? Bercanda kok.” Jawabnya dengan tangan kiri masih bertahan menggaruk kepalanya.

Oiya, perkenalkan namaku Saut. Saya mahasiswa yang berhasil kabur dan lari dari pelukan orang tua dan keluargaku. Bukan lari dari kenyataan ya, dan bukan juga anak durhaka. Tetapi merantau demi ilmu dan tentunya demi kebaikan masa depan bersama keluarga. Aku berasal dari daerah pelosok yang jauh dari kata maju. Daerah tanpa lampu jalan. Jangankan lampu jalan, listrik aja belum ada. Pertama kali mengangkat kaki dari daerah kelahiranku 2 tahun lalu. Saat itu aku mulai mengenal dunia baru, dan tentunya sahabat yang baru, Dia adalah Etus. Seorang yang telah mengajakku ngopi sore ini.  

“Kenapa Etus? Kok tumben sore-sore gini ngajak ngopi?

“Ia Saut, ada masalah” jawabnya (benar prasangka ku tadi, kemudian ku lanjutkan bertanya)

“Ada masalah apa?”

Sahabatku ini telah dilanda masalah. Seperti yang telah diceritakannya kepadaku. Dia dikeluarkan di kampusnya.

Dengan raut muka yang biasanya berseri-seri, berubah menjadi kusam. Dia menceritakan masalahnya, bahwa telah dikeluarkan dari kampus, karena tidak sanggup membayar uang kuliah lagi.

“Sungguh kampus yang kejam, seenaknya saja” tuturku “kampus-kampus di kota sekarang tidak lagi mementingkan orang-orang yang benar-benar ingin belajar ya, Etus?  sabar brow. Orang-orang seperti kita ini memang selalu tertindas, selalu kalah sama orang yang berduit. Tetapi, tidak hati nurani kita. Kita harus lawan, Etus” Seketika juga aku berubah menjadi cerewet dan tegas. Kukuasai pembicaraan di meja itu seakan aku sudah sangat bernyali menjadi sang Jendral perang yang siap berperang.

“Apa hubungannya sama orang yang berduit?” Tanya Etus

“Karena yang berduit bisa saja menggunakan duitnya untuk melengserkan orang yang pandai demi menggantikan posisimu, Etus” jawabku sambil mengayunkan tangan mempraktekkan bagaimana sapu menggeser debu.

“Ia, tapi ini murni kesalahanku Saut, tak memenuhi administratif keuangan”

“Nah, dari situ seharusnya kampus hadir membantu orang-orang yang tidak mampu, kalau memang visi misinya ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Lagian kamu juga punya semangat belajar yang tinggi, Etus”

Hari itu menjadi saksi mata yang membuka pandanganku terhadap situasi yang dirasakan oleh orang-orang miskin di negeri ini. Bahwa yang kecil dan tak punya apa-apa, selalu ditindas dan tak berdaya ketika bermodalkan semangat saja.

Pembahasan di tempat ngopi itu sudah meraba kemana-mana, bukan hanya penindasan saja. Tiba-tiba diselah pembahasan, sahabatku berkata “tak berniat lagi melanjutkan hidup di tempat rantau ini”. Bulat keputusannya akan pulang ke tempat pertama kali mengenal dunia, kampung halamannya.   

“Besok saya akan tinggalkan kota ini Saut, mending saya pulang cepat, membantu orang tua di kampung garap kebun. Mungkin lebih baik begitu” ucap Etus dengan ekspresi sangat kecewa.

Keesokan harinya, aku mengantarkan dia ke pelabuhan. Sesesampainya di sana, tanpa berkata banyak dia langsung menuju pintu masuk. Namun langkah penuh kekecewaan itu berbalik menuju arahku lagi.

“Aku akan berlayar selama 2 hari 2 malam, doakan aku semoga sampai disana dengan selamat. Saya Pamit dulu ,sampai jumpa” katanya. Langsung masuk dan berjalan menuju ke bilik kapal yang akan mengantarkannya ke kediaman awal. Dan toott..toott…toot..toot.. bunyi klakson kapal laut pertanda siap menjelajah samudera yang luas.

Klakson itu menjadi saksi perpisahanku dengan sabahatku Etus.   

Sembari melihat kapal yang semakin jauh saja, aku bergumam tentang keadilan di negeri ini, telah condong ke yang bermateri. Anak bangsa yang tidak bermateri, dikucilkan bersama semangatnya dari tempatnya mencari setitik ilmu. Padahal tujuannya bertolak jauh mencari ilmu, hanya demi membangun daerahnya yang tidak pernah disentuh pemerintah selama ini, baik dari konteks pembangunan maupun pendidikan.

“Semoga Etus sampai di belahan timur negeri ini dengan selamat” kataku dalam hati sambil melambaikan tangan.  

(/S.A)

1 thought on “Toott Temu Pisah

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun

%d blogger menyukai ini: