• 9849-xxx-xxx
  • noreply@example.com
  • Tyagal, Patan, Lalitpur
Opini
Virus dan Pemuda Kepala Batu?

Virus dan Pemuda Kepala Batu?

Oleh : (/S.A)

Himbauan dari pemerintah pusat terkait pandemi corona (Covid-19) agar tidak keluyuran di luar rumah serta diminta untuk membatasi segala aktivitas kita di luar (stay at home), ternyata tidak diindahkan oleh kebanyakan orang. Mulai dari yang tua, hingga anak muda.

Sebagian anak muda tidak mengindahkan himbaun itu karena merasa virus yang telah menyebar luas ini tidak terlalu berbahaya, atau mungkin karena memandang sebagai suatu hal biasa saja hingga berani menyepelekan, atau mungkin berlomba memperlihatkan siapa yang layak disebut jago diantara mereka. Pemuda-pemuda yang tidak mengindahkan himbauan itu berkeliaran di luar rumah hingga beramai-ramai menikmati kopi di warung kopi.

Karena himbauan itu yang tidak dindahkan, pihak kepolisian yang berpatroli di daerah sekitar warung kopi itu dapat mengusir mereka. Contoh seperti dalam video pemuda Surabaya mendapat tindakan tegas dari kepolisian (Dibubarkan).  Dalam video yang beredar, kejadian itu terjadi di Kota Surabaya, tepatnya di salah satu warung kopi, daerah Wiyung. Nyatanya penetapan Kota Surabaya oleh pemerintah Provinsi sebagai zona merah penyebaran virus corona, ditanggapi sebagian pemudanya dengan santai. Atau dengan bahasa terkenal di kalangan milenial “santuy”.

Berkaca dari pengusiran anak muda oleh polisi itu, dapat dinilai bahwa itu adalah hal yang sangat miris. Pemuda yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk mewujudkan nilai kemanusian, membantu menyebarkan informasi yang valid serta solusi kepada masyarakat, malah mencorengnya dengan tindakan yang tidak patut dicontoh pemuda lain. Mewujudkan nilai kemanusian di tengah-tengah kondisi yang mencekam ini, bukan hanya dengan menyalurkan tangan membantu yang telah terinfeksi, tetapi dengan kesadaran untuk mematuhi himbauan stay at home adalah salah satu jalan terbaik.

Memberhentikan sementara proses belajar mengajar di sekolah dan kampus, juga merupakan suatu langkah bagus yang perlu kita apresiasi dari pencegahan penyebaran virus corona. Namun, ada saja pemuda dan mahasiswa sebagai generasi masa depan bangsa, menganggap itu adalah sebuah kebebasan sehingga memanfaatkannya untuk berlibur, dan juga ada yang mengambil kesempatan untuk pulang kampung.

Tindakan untuk pulang kampung menurut dokter Tirta, sebagai salah satu dokter yang turun langsung menangani virus corona di Jakarta, dalam siaran langsungnya di Instagram pada tanggal 22 Maret 2020, mengatakan bahwa suatu tindakan yang jangan dulu dilakukan anak muda. Menurutnya, pemuda itu dapat terinfeksi virus corona kapan dan dimana saja, namun imun anak muda itu kuat, maka ketika terinfeksi kemungkinan besar tidak akan ada gejala, tapi bisa menularkan. Sehingga ketika pemuda masih memaksakan untuk pulang kampung, dapat menularkannya kepada orang tua dan keluarga yang dicintainya. Memilih tidak pulang kampung, dapat menepis penularan virus corona.

Kembali ke himbauan, tidak diindahkan sebagian anak muda karena ada keadaan yang membebani. Salah satunya adalah tugas pelajaran dan kuliah online. Dari kelas online, seorang pelajar dan mahasiswa hanya diberikan tugas dengan deadline waktu yang singkat, bahkan sampai pada tugas yang tidak masuk akal. Diberikan tanpa ada penjelasan yang detail dari guru dan dosen mengenai materi terkait. Bukan hanya itu, kendala lainnya yakni dosen dan guru masih menjadi pengajar yang jadul, tak kuasa mengoptimalkan teknologi. Karena tugas yang menumpuk dan membutuhkan  internet untuk menjabarkan materi sendiri yang telah dikasih guru maupun dosen, pemuda dengan paksa harus melanggar himbauan itu demi jawaban tugas yang baik.

Ketika adanya pemberhentian sementara proses belajar-mengajar, harusnya juga dari pihak pengajar mampu menghadirkan inovasi dan metode mengajar yang baik menggunakan teknologi, karena dalam situasi seperti ini dan tidak mampu mengoptimalkan pembelajaran, maka akan berdampak buruk bagi pelajar. Mereka bisa saja tidak mampu  mengembangkan pengetahuannnya lagi karena metode belajar yang membosankan.

Pemuda meskipun dengan kesibukannya yang banyak karena tuntutan tugas di kelas online, harus mampu memperlihatkan jati dirinya sebagai yang terpelajar dan mahasiswa. Dengan memulai dari kesadaran akan pentingnnya menjaga kesehatan, menolong orang lain, dan mendahulukan kewaspadaan adalah jalan untuk mengabdikan diri.

Tinggalkan Balasan, Mari Saling Membangun